Selasa, 04 September 2012

My Adventure" Bantaeng oh Bantaeng"


Bantaeng Oh Bantaeng



Fajar mulai menyonsong pagiku, ketika kaki masih beku karena dinginnya suhu udara di pundak gunung Lompo Battang. Kabut masih menutupi jalan, pohon dan juga lading petani. Semua masih nampak tak jelas, hanya terdengar suara- suara sumbang para petani yang mulai sibuk berkemas menuju lading mereka. Suara kuda samar- samar dari belakang rumah yang kutempati selama menjadi pendatang alias tamu tak diundang.

Hari ini adalah hari kedua aku berada ditempat yang asing bagiku. Kemarin dulu aku dating sebagai orang asing yang sengaja mencari tempat untuk menenagkan diri. Yah… aku memutuskan untuk peregi seorang diri mencari tempat yang tenang.

Seminggu di kota tua Bantaeng, kota yang terletak diujung kaki pulau Sulawesi Selatan. Aku datang dengan tujuan untuk belajar dan mempelajari banyak hal tentang Tata Ruang Kota. Menjadi mahasiswa yang mengambil bidang ilmu pengembangan wilayah kota membuatku semakin belajar akan banyak hal baru. Dari sebuah  tempat yang kecil hingga kesebuah tempat yang lebih besar. Survei lapangan, sebuah pekerjaan yang tak asing lagi bagi mahasiswa PWK seperti diriku. Tenaga, waktu, pikiran, uang semua akan terkuras. Dan begitulah resiko ketika seseorang memilih untuk masuk kejurusan ini. Namun, bagiku semua pengorbanan tidaklah berrarti sia- sia dan pasti membuahkan hasil, walaupun prosesnya panjang dan pahit, akan tetapi akan berbuah manis. Aku yakin suatau saat akan kutemui diriku menjadi orang yang sukses.

Matahari semakin memuncak diufuk timur, bertambah naik hingga melewati ketinggianpuncak gunung Lompo Battang. Sekarang pukul 08. 00 pagi, Anti mengajakku mendaki dimana bunga- bunga seruni dan Krisan akan terlihat sangat indah. Mendengarkan cerita Anti semalam tentang tempat yang akan kami kunjungi pagi ini membuatku semakin betah berada di desa yang baru aku kunjungi ini. Desa yang berada diatas gunung, jauh dari perkotaan. Membayangkan betapa berbanding jauh dengan suasana di Kota Makassar yang mulai memanas memasuki bulan April.

Aku tengah mengenakan Jilbabku lengkap dengan kerudung dan jaket biru kesayanganku. Kupasang kacamataku yang berembun karena dinginnya udara di desa ini. Aku pun sangat siap berpetualang hari ini, kuraih ransel dan kugantungkan pada pundakku. Anti pun sudah siap menjadi kompasku menuju lading bunga.

Khayalanku semakin tinggi, semakin dekat dengan lokasi jantungku semakin berdetak dengan cepat. Rasanya tak sabar lagi, aku sungguh penasaran dengan mahakarya Tuhan yang amat indah itu. Gara- gara Anti menceritakan banyak hal mengenai tempat itu, sampai- sampai aku membawanya kedalam dunia mimpiku semalam.

Langkah kakiku semakin cepat saja. Udara pun semakin panas,karena berada pada daerah ketinggian maka matahari seakan- akan berada diatas kepalaku. Embun mulai lenyap tersapu teriknya mentari, burung- burung terbang beriringan diatas pohon cemara, kebun- kebun sawi, kol, stroberi dan wortel mulai kelihatan, hewan- hewan ternakpun mulai keluar dari kandangnya.

Beraneka macam bola mata tertuju padaku, didiringi dengan senyuman khas orang desa. “Ah…betapa ramahnya orang- orang di desa ini”. Tegurku dalam hati. Sungguh, kau smasekali tak ada kta untuk menyesal telah melarikan diri dari teman- teman tim surveiku yang masih asyik di Kota Bantaeng.

Akhirnya kami tiba. Aku dan Anti saling berpandangan kemudian tersenyum lega setelah hampir satu jam perjalanan dari rumah Anti. Lumayan lama, namun tak berat bagiku, hal ini sudah merupakan hal yang biasa bagi seorang surveyor.
“ Arin, lihatlah kearah sana” kata Anti sambil menujukkan jari telunjuknya kearah barat tempatku berdiri.
Makonja…..”, ucapku dalam hati. Anti kemudian melongo melihat ekspresi dan mungkin dia bingung dengan bahasa yang baru aku sebutkan, Makonja artinya indah dalam bahasa bugis Bone.
“ wah cantiknyaaaa….., ini sungguh luar biasa!”. Sahutku lagi. Anti hanya tersenyum melihatku.
Hamparan bunga seruni, bunga Krisan ada dimana- mana. Mulai adari warna merah, kuning, putih hingga orengs, membuat mataku berbinar- binary dan terkesima dengan keindahan tempat ini. Seperti dalam negeri dongeng, dan seketika aku mebayangkan diriku seperti seorang putrid yang tersesat di taman bunga.

Dua hari yang lalu aku masih menikmati birunya laut di Kota Bantaeng, sekarang aku berdiri tegak sambil mengepakkan kedua lengan bagaikan burung Nuri ditengah lautan bunga dengan aneka warna seperti pelangi. Aku sungguh takjub dan bersyukur atas nikmat hidup yang masih diberikan Tuhan untukku hari ini. Alhamdulillah…^^


                                                                                                                                                   2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar