Rabu, 06 Februari 2013

Hakikat Hidup Muslim


Hakikat Hidup Muslim
Oleh : Muhammad Shiddiq Al Jawi

Mukadimah
            Seorang muslim sudah seharusnya memahami hakikat hidupnya di dunia: Dari mana ia berasal, untuk apa hidup dan bagaimana dia harus menjalani  hidupnya, serta kemana setelah mati?  Sudah sewajarnya bila setiap muslim memahami hal ini. Pemahaman akan hakikat hidup sangatlah penting, oleh karena ia akan menentukan corak atau gaya hidup seseorang. Saking pentingnya persoalan ini, sampai mungkin bisa dikatakan, janganlah kita hidup sebelum memahami apa sebenarnya hakikat hidup kita itu.
Tapi tidak  sedikit muslim yang tidak memahami, bahkan kehilangan makna hidupnya yang hakiki ini. Ada yang terhanyut oleh pola hidup sekuler, ada pula yang acuh tak acuh menjalani hidupnya. Padahal, memahami hakikat hidup bukan hal yang sukar bagi seorang muslim. Allah SWT telah memberikan bekal dan potensi pada diri manusia, berupa daya pikir (akal) dan fitrah yang melekat pada manusia sejak dia diciptakan oleh Allah SWT. Allah SWT telah memberikan panca-indera, sebagai salah satu unsur penting untuk proses berpikir.
“Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi  kalian pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur.” (QS An Nahl : 78)
Semua bekal ini semestinya bisa  digunakan dengan sebaik-baiknya, agar pada  gilirannya ia dapat memahami  hakikat  hidupnya di dunia.
Kegagalan manusia  dalam memahami hakikat hidupnya,  tiada lain karena kelalaian dan keengganannya menggunakan bekal-bekal  tersebut, sehingga arah dan orientasi hidupnya menjadi tidak jelas atau menyimpang dari jalan yang semestinya. Akhirnya, hawa nafsu atau setanlah yang dijadikan “tuhan”, yakni menjadi sumber penentu sikap dan tujuan hidupnya. Orang sesat seperti ini dicap oleh Allah SWT bagaikan binatang ternak,  bahkan lebih rendah lagi daripada itu.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan  untuk (isi) neraka Jahannam banyak dari jin dan manusia. Mereka mempunyai akal, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) , dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al A’raaf : 179)
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS Al Furqaan : 43-44)
            Jelaslah, memahami hakikat hidup merupakan suatu hal yang sangat fundamental. Kegagalan memahami hakikat hidup, akan membuat seseorang menjalani hidup bagaikan layang-layang putus yang bergerak mengikuti kemana angin berhembus, atau bagaikan kapal berlayar tanpa nakhoda yang bisa saja menumbuk karang, atau dihempaskan ombak ke mana saja tanpa tujuan. Artinya, seorang muslim mudah sekalil tersesat, atau bahkan tak mustahil  menjadi murtad tanpa dia sadari, sehingga amalnya di dunia  menjadi sia-sia  bagaikan fatamorgana atau debu beterbangan.
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS Al Furqaan : 24)

Definisi Hidup

            Hidup dapat didefinisikan dari dua aspek. Pertama,  aspek biologis dan kedua, aspek sosiologis. Dari aspek biologis, hidup (al hayah) seperti diungkapkan oleh Ghanim Abduh dalam Naqdhul Isytirakiyah Al Marksiyah adalah sesuatu yang maujud (ada) dalam makhluk hidup (asy-syai`u al- qaa`im fi al- ka`ini al- hayyi). Dalam pengertian ini, hidup dipahami sebagai esensi yang membuat sesuatu menjadi hidup, yang membedakannya dengan benda-benda mati, baik benda itu  benda mati secara asli,  seperti batu, maupun benda mati dalam arti benda yang sebelumnya berasal dari benda hidup, seperti kayu. Hidup, dengan demikian, nampak dan eksis dengan berbagai tanda-tandanya, seperti kebutuhan akan nutrisi, gerak, peka terhadap rangsang, pertumbuhan, dan perkembangbiakan.  Lawan dari hidup dalam pengertian biologis ini, adalah mati. Yakni tiadanya atau hilangnya tanda-tanda kehidupan pada sesuatu. Maka, batu adalah benda mati karena tak ada satu pun tanda-tanda kehidupan padanya. Demikian pula seseorang yang telah membujur kaku di kamar jenazah disebut  telah mati, karena telah hilang darinya tanda-tanda kehidupan yang semula dimilikinya.
             Secara sosiologis, hidup berkaitan erat dengan segala perbuatan manusia yang terwujud dalam seluruh interaksi yang dilakukannya. Ketika menerangkan pengertian isti`naful hayatil Islamiyah (melanjutkan kehidupan Islam), Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya Manhaj Hizbu al-Tahrir, menyebutkan  bahwa hidup (al-hayah) adalah seluruh interaksi yang dilakukan manusia (jami’u alaaqati al-nas). Dalam perspektif ini, hidup berarti menyangkut seluruh aktivitas manusia dalam berbagai macam interaksinya satu sama lain. Tatkala manusia melakukan aktivitasnya dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dan lain-lain, berarti dia telah melakukan interaksi dengan manusia lainnya. Artinya, dia telah menjalani atau “mengisi” hidupnya.
            Kebalikan dari hidup dalam pengertian  ini, adalah tiadanya interaksi di antara manusia. Seseorang  mungkin saja mengisolasi dirinya (beruzlah) dari masyarakat, atau bisa saja  sebuah kota dibom sehingga seluruh penduduknya mati. Maka,  kita dapat mengatakan bahwa orang yang beruzlah tadi telah “mati”, atau kota tadi telah “mati”, karena pada keduanya tak terdapat interaksi antar manusia yang menjadi pertanda adanya  sebuah kehidupan.
            Kendatipun pengertian hidup dapat dibedakan dalam arti biologis dan sosiologis, namun keduanya tak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebab, hidup dalam arti biologis, adalah syarat bagi adanya hidup dalam arti sosiologis. Tak akan ada hidup dalam pengertian sosiologis, kecuali dengan adanya hidup dalam pengertian biologis. Meskipun mungkin saja terdapat hidup dalam makna biologis, tetapi tak terdapat hidup secara sosiologis.

Al Uqdatu al-Kubro : Pertanyaan Mendasar

            Dalam hidupnya manusia sadar atau tidak, akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan ini, diistilahkan oleh Taqiyyuddin An Nabhani dalam kitab Nidzamu al-Islam (1953) dengan al-Uqdatu al-Kubro.  Secara harfiah, al-Uqdatu al-Kubro artinya adalah simpul yang besar. Pertanyaan mendasar ini berkisar tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan, yang ada dalam kehidupan dunia kini (al-hayatu al-dunya), juga mengenai apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya) dan sesudah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya), serta hubungan antara kehidupan dunia sekarang, dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia itu.
            Dalam ungkapan lain, pertanyaan mendasar tersebut dapat diuraikan menjadi 3 (tiga) pertanyaan utama. Pertanyaan pertama, “Darimanakah manusia, hidup, dan alam semesta ini berasal?” Apakah ketiga  ini ada dengan sendirinya ataukah ada yang mengadakannya?  Pertanyaan ini, sebagaimana uraian Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Al-Tafkir,  berkaitan erat dengan fakta bahwa manusia itu  hidup di alam semesta (li anna al-insaana yahya fi al-kaun). Maka wajar bila manusia menanyakan tentang dirinya, tentang hidup (dalam arti biologis) yang ada pada dirinya dan makhluk lainnya, dan tentang alam semesta yang merupakan tempat hidupnya. Pertanyaan pertama ini, menanyakan tentang hakikat apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya).
Pertanyaan kedua, “Untuk apa manusia  hidup?” Pertanyaan ini berkaitan dengan fakta bahwa manusia telah lahir dan eksis di dalam kehidupan dunia ini (al-hayatu al-dunya). Sehingga wajar bila dalam benaknya muncul pertanyaan mengenai  untuk apa dia hidup dan bagaimana dia harus menjalani hidup (dalam arti sosiologis). Dalam bahasa Hafizh Shalih dalam kitabnya An Nahdhah (1988), pertanyaan ini berhubungan dengan makna keberadaan manusia dalam kehidupan (ma’na wujudi al- insaan fi al-hayah).
Pertanyaaan ketiga, “Kemana manusia  pergi setelah mati nanti?” Pertanyaan ini juga sangat wajar, karena setiap manusia pasti akan berjumpa dengan kematian. Dalam benaknya pasti  terbit pertanyaan apakah setelah kematian berarti segala sesuatunya juga akan berakhir, ataukah justru kematian  itu merupakan suatu pintu untuk memasuki fase kehidupan yang baru selanjutnya. Pertanyaan ini berkaitan dengan hakikat apa yang ada setelah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya).
Di samping ketiga pertanyaan utama tersebut, hal penting lain yang juga menjadi pertanyaan adalah adakah hubungan (‘alaaqah/shilah) antara apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya) dengan kehidupan dunia kini (al-hayatu al-dunya), serta hubungan antara kehidupan dunia kini (ba’da al-hayati al-dunya) dengan apa yang ada sesudah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya). Jika ada, hubungan apakah itu?
bersambung........

PICTURE AGENDA of LIFE









SAAT PELATIHAN JURNALISTIK


Pergantian Yang Melelahkan?



Pohon rindang kini semakin rindang saja. Musim penghujan di kota ini menjadikan pohon didekat fakultasku semakin rindang. Daun tua mulai berjatuhan meninggalkan ranting- ranting pohon. Kini daun muda siap menggantikan posisinya. Begitu kompleks kehidupan ini. Allah- lah yang mengatur segalanya. Dia yang menghidupkan dan Dia jualah yang mematikan. Dia  sungguh  Maha Sempurna dan Paripurna.
Manusia pun seperti daun- daun yang melekat pada ranting pohon. Daun tua baru selesai dengan tugasnya dan daun muda siap menggantikan tugas sang daun tua. Daun tua akan berserakan diatas tanah atau mungkin terbakar dan berubah menjadi abu. Sedangkan daun muda dengan gigih menjalankan tugasnya. Memberikan kesejukan bagi siapa saja yang berada disekitarnya.
***
Hari ini cerah. Walaupun masih tampak butiran kristal- kristal air hujan yang jatuh ke bumi. Tak seperti beberapa hari yang lalu. Hujan terus mengguyur kota dengan lebatnya dan tanpa pamrih. Setiap pengendara motor wajib mengenakan jas hujan dan sepatu laras bila tak ingin basah kuyup dan rutinitasnya di luar rumah tidak tertunda. Hujan lebat mengakibatkan daerah dibeberapa titik mengalami banjir. Para daeng becak menyediakan plastik khusus agar penumpangnya tidak kebasahan. Dan para pejalan kaki harus menyiapkan payung sebelum hujan, everytime and everywhere! Dalam sehari, entah hujan bisa turun berapa kali. Dan kurasa berkali- kali.
Biasanya sering kudengar di stasiun televisi adalah “ Jakarta Banjir lagi…”, namun kini kota Makassar pun mengalami hal yang serupa. Dan kurasa hampir seluruh kota- kota besar di negeri ini mengalami hal yang sama. Rain agains
Sepekan yang lalu. Tepat pukul 00.00 WITA Banjir dengan hangat menyambutku. Ketika baru kembali dari berlibur, selama sebulan penuh di kampung halamanku. Ternyata kota ini masih sama. Setelah aku meninggalkannya selama sebulan. Masih tetap lembab dan basah. Drainase tak lagi bisa menampung air hujan. Ditambah lagi dengan tumpukan sampah yang berserakan dimana- mana.  Menyumbat aliran air hujan menuju drainase makro, sungai. Mungkin juga sungai Tello.
Banyak yang mengeluarkan keluh kesah. Namun sebenarnya mereka tak menyadari apa penyebab dari terjadinya musibah ini. Mereka hanya selalu dan selalu mengeluh mengenai akibat. Namun kurang menggubris sebab dari akibat tersebut. Yah…begitulah kadang- kadang manusia. Lebih banyak yang lalai dibandingkan dengan yang betul –betul sadar.
***
Kini pondokan yang kutinggali selama kurang lebih 2 tahun benar- benar terapung. Sesuai dengan namanya, “ Pondok Terapung”. Para penghuni pondokan pun harus rela melepas sepatu mereka untuk tiba dikampus dengan selamat…he..he..he.. maksudku, menyelamatkan sepatu mereka agar tidak basah. Dan mereka pun tetap cantik setibanya dikampus. Begitulah mahasiswa, selalu berusaha tampil rapi, bersih, harum dan enak dipandang mata. Namun, ada juga sih mahasiswa yang tampil alakadarnya bahkan urakan pun ada. Dengan mudah aku jumpai di fakultasku. Kini mulai dianggap lumrah.
Syukurlah, aku memiliki sepeda. Jadi tak usah kulepas sepatuku. Tinggal kuroda sepeda diatas genangan air. Bak sepedaku melayang diatas air. Sempat kulihat di te- ve beberapa hari yang lalu. Seorang lelaki separuh baya menggayuh sepedanya diatas sungai, di kota Jakarta. It’s amazing right….!!! Hebat bukan? Katanya, hal tersebut dilakukan jika sewaktu- waktu kota Jakarta membutuhkan kendaraan alternatif untuk mencegah kemacetan yang acap kali terjadi dikota tersebut. Sepeda yang luar biasa kan… jangan salah, sebenarnya sepedahnya dilengkapi dengan pelampung yang direkatkan di sisi sepeda. Kemudian digayuh, seolah- olah tengah bersepeda diatas jalan. Mungkin sebagian orang akan berfikir, it’s impossible idea !!!, but it is the real man…or it’s KONYOL… sebagian orang yang melihatnya akan berkomentar, ada- ada saja orang yang nyari sensasi naik sepeda di atas sungai. Menurutku, it’s so good… begitulah seharusnya manusia. Harus tahu mencari solusi dari setiap masalah yang ada. Dan tahu bagaimana memanfaatkan alam dengan sebaik- baiknya, agar tidak murka. Alam benar- benar memperlihatkan kemurkaannnya kepada manusia. Begitu mudah manusia menggasak, membabat hutan- hutan. begitu mudahnya manusia membuang sampah di sembarang tempat. Begitu mudahnya manusia merusak laut and many more… dan hujan pun dikeluhkan. Bukakankah hujan adalah anugrah Tuhan Yang Maha Esa? Dan patut manusia syukuri.
Ibu kosku sering berkata disaat musim hujan melanda “ kapan musim panas akan tiba?”. Kurasa ia pun akan berkata disaat musim kemarau tiba “ kapan musim hujan akan tiba?”. Tidak hanya Bu kos saja yang akan berkata demikian. Namun hampir seluruh manusia. Dan memang manusiawai. Manusia memang senang berkeluh kesah.
Dari cerita sepada nan jauh disana. Tak perlu kubahas panjang lebar. Pengetahuankau akan hal itu masih sangat minim. Aku masih perlu belajar banyak tentang pencarian alternatif. Alternatif untuk mengatasi masalah lingkungan yang semakin gawat saja. Betul- betul gawat darurat, mesti di UGD dan ditangani oleh para ahlinya, spesialis lingkungan. Mungkin juga kelak adalah aku. Bukankah aku kini bertengger dibawah naungan bidang keilmuan tersebut. TATA RUANG KOTA, akan sangat bersahabat dengan lingkungan. Bidang keilmuan yang kuselami adalah program studi pengembangan wilayah dan kota atau disingkat PWK. Dan mungkin bila nanti Tuhan mengizinkan dan meloloskanku sebagai the true planner dan meneruskan cita- citaku menjadi seorang pengajar, pengusaha dan konsultan. Mewujudkannya adalah butuh keyakinan yang maksimal alias tidak setengah- setengah. Salah satu buku yang pernah kubaca didalamnya terkutip dengan jelas dan diulang beberapa kali pada halaman tertentu “ Man jadda wajada….” Intinya, siapa yang bersungguh- sungguh, sukseslah ia. Sebenarnya kutipan ini tercantum dalam kitab suci al- Quran. Sungguh, Allah tahu apa yang dibutuhkan oleh hamba- hambanya yang senantiasa berusaha untuk mendekati- Nya. Begitu juga denganku. Kuingin Tuhan mendengarkan mimpi- mimpiku, dan ketika aku berusaha sekuat tenaga dan melakukannya dengan sepenuh hati, aku yakin bahwa kelak Tuhan mengabulkannya. Tuhan memeluk mimpi- mimpi itu. Amiin…
***
Ketika sebagian besar orang- orang mulai sadar dan berusaha untuk mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada. Menangani masalah banjir. Mungkin tepatnya, menangani masalah climate change from global warming effect. Aku pun perlu banyak belajar.
Sangat jelas dan nampak dari perubahan iklim. Mulai dari melelehnya es- es raksasa dikutub utara. Badai salju dinegara- negara barat dan sebagian juga adalah Negara asia. Aneka badai seperti topan. Tingginya gelombang air laut. Kurasa sudah tak terhitung berapa kali bumi ini mengalami bencana. Entah bencana karena ulah- ulah tangan manusia itu sendiri ataukah bencana yang merupakan teguran dari- Nya. Permasalahnnya adalah keterkaitan antara faktor sebab akibat. Segala akibat yang timbul pastilah ada sebabnya. Sudah menjadi hukum alam.
Ayahku seringkali berkata bahwa kerusakan yang terjadi disebabkan oleh ulah tangan- tangan dari manusia itu sendiri. Aku tahu ayahku megutip kata- kata itu dari terjemahan ayat suci al- Quran. Aku tahu ayahku begitu peduli dengan alam. Namun yang kutahu, ayahku sendiri suka mematikan rumput didepan rumahku dengan menyemprotkannya dengan racun pembasmi semak belukar. Aku lupa merek racun mematikan itu apa. Yang jelasnya botol yang berisi cairan itu sangat mematikan. Dapat mematikan tumbuhan maupun hewan. Manusia pun akan mati jika mengkonsumsinya. Ide bodoh!!! Hal tersebut sama dengan bunuh diri.
Beberapa tahun yang lalu kudapati kucing peliharahanku mati terkapar setelah beberapa menit kusaksikan ia skarat. Dan sempat aku meneteskan begitu banyak air mata.  Kurasa ia mati karena keracunan. Kulihat ia memuntahkan beberapa helai rumput. Kutebak, ia mati karena rumput beracun itu. Rumput- rumput yang telah terkontaminasi dengan racun. Rumput- rumput yang telah ayah semprot dengan racun. Yang kusesali, kenapa aku tidak melarang ayah untuk menyemprot rumput dengan racun. Padahal aku tahu bahwa hal tersebut akan mempengaruhi keseimbangan alam. Simbiosis mutualisme pupus sudah…kekecewaaku terhadap ayah tak pernah kusampaikan. Kucing kesayangan pun jadi korban dari kelalaian manusia. Oh.. apakah ayah mengetahuinya…
***
Hujan akan segera reda. Buktinya kini hari telah cerah. Matahari mulai menampakkan sinar keemasannya. Aku tak harus puas hanya dengan memandangi daun- daun berguguran ataukah hanya duduk terdiam menikmati detik- detik terakhir tetersan air hujan yang masih tersisa pada dahan pohon. Memelototi jam menunggu waktu kuliah perdana dimulai. Atau sekedar mengeluh. Kenapa masih banyak teman sekelasku yang senang menghisap rokok dan mengepulkan asapnya hingga menyebar hampir kesetiap sudut ruangan.
Kira- kira kapan mereka akan sadar. Aku hanya terdiam, bisu. Berkata dalam hati. Memikirkan bagaimana cara mengakhiri kebiasaan buruk mereka. Merokok, buang sampah sembarang tempat, hidup bermewah- mewah dengan cara mengoleksi aneka accessoris  bahkan kendaraan pribadi. Kurasa semua itulah penyebab dari bencana yang sering terjadi di negeri ini. Astagfirullah….
Biarlah zaman terus berganti. Namun perubahan zaman takkan mengubah kekuasaan dan ketetapan Tuhan. Kuyakin kita pun tahu, bahwa ada saatnya lelah akan diganti dengan ketenangan yang abadi.[]

Dan Saya Pun Memilih Bersama 000



Saya tahu… semakin banyak yang ingin memperjuangkan Islam maka akan lebih banyak pula yang berusaha untuk meruntuhkannya, baik itu dari kalangan umat muslim sendiri ataupun dari kaum kafir laknatullah. Jaman sekarang yang mana serba terbalik, dimana kondisi umat semakin rusak. Yang halal diharamkan dan yang haram dihalalkan.
Dulu…ketika saya belum begitu memahami Islam, secara tidak sadar saya juga merupakan bagian dari mereka, sekuler, liberal yang hanya menempatkan agama pada tataran ritualisme belaka. Saya juga menyukai kebebasan, ingin menjadi wanita karir,bla...bla...bla… Sungguh jahiliyah….. saya juga sempat tersengat virus Korean wave sebagaimana anak muda masa kini. Yah… semasa SMA dulu, saya juga sempat menjadi fans tidak jelas alias sekedar ikut- ikutan entah itu dari lingkungan keluarga ataukah dari teman- teman pecinta korea dan tentunya layar TV yang sering menayangkan drama korea, dan jadilah saya penggila korea. Bodoh!!!
Dunia yang semakin tidak waras atau manusia yang sebenarnya semakin tidak waras? Saya kemudian melihat dunia semakin mencekam karena manusia yang semakin senang bermaksiat dan menjadi pembebek. Yah… pembebek…. Berkiblat kepada barat, fashionnya, life stylenya, cara berpikirnya dan banyak lagi. Ini lah kita sebut sebagai ghwzul fikr alias perang pemikiran
Inilah perang pemikiran yang sebenarnya…
Kuliah, jadi mahasiswa. Disitulah masa saya mengenal Islam lebih dekat. Menghadiri diskusi, seminar dialog, talkshow apapun itu yang berbau keilmuan pastilah saya berupaya untuk menghadirinya. Sebenarnya ini adalah salah satu habits yang saya bawah sedari SMA, saya sungguh menyukainya. Mengetahui banyak hal, dan mengenali banyak orang. Sebenarnya pada mulanya saya juga termasuk orang yang  demam panggung, gugupan, tapi sekarang tidak lagi…. Karena sudah habist…. Karena latihan dan terus terlatih gara- gara sering bicara di forum.
Di perkuliahan teman- teman pun tahu… saya adalah tipikal wanita yang suka berbicara jika bertanya ataupun ditanya, mungkin akan panjang ceritanya, itulah saya. Sekali bicara maka susah untuk berhenti. Bukannya sengaja atau karena ingin pamer ilmu. Tapi memang ada begitu banyak hal yang ingin saya sampaikan bila dalam kondisi seperti itu. Satu hal yang perlu kita ingat… tidak semua karakter orang itu sama. Begitu pula dengan saya yang senang berdiskusi ataupun berdebat, yang penting sehat dan dengan akal yang sehat.
Kembali lagi ke awal saya mengenal Islam kaaffah. Semua berawal dari besarnya rasa keingintahuan saya terhadap ilmu tepatnya IPTEKS. Apakah saya terjebak dengan habits saya sendiri. Ternyata tidak, justru saya sangat bersyukur dengan habits ini. Saya kemudian mengenal sebuah jamaah/ harokah Islam yang serius alias konsisten dalam memperjuangkan Islam. Sedikit pun tidak pernah terbesit dibenak saya untuk takut apalagi menyatakan diri anti/alergi  jamaah/ harakah Islam. Saya sama sekali tidak pernah menaruh kecurigaan sedikit pun terhadap harakah ini, yang nantinya saya disesatkan ataupun tidak, tapi saya yakin dengan sepenuh jiwa, harakah Islam ini tidak sesat sebagaimana kebanyakan ormas Islam saat ini, ada yang moderat ataupun liberal alias sekuler, dan banyak rupanya… sebagaimana manusia yang diciptakan dengan akal, maka saya harus selektif. Yah…. selektif dalam menilai, menyikapi dan memahami.
Di Peraduan
Tak berapa lama saya bergabung, dengan prinsip “saya dengan, dan saya taat” sebagaimana yang telah termaktub dalam Al- Quran “ sami’na wa atho’na”. saya kemudian memakai jilbab, memakai kerudung walaupun sebenarnya sudah berkerudung sedari SMP, tapi di harakah inilah kemudian saya mengenal apa itu Jilbab dan apa itu kerudung. Dan ternyata sama sekali tidak boleh kita anggap remeh makna berhijab dengan baik dan benar sebagaimana dalam perintah dalam Al- Quran surah Al- Azhab ayat 59 dan An- Nuur ayat 31. Hal seperti ini mungkin dianggap kecil atau remeh oleh sebagian besar muslimah di dunia ini, namun bagi saya tidak, berhijab dengan syar’I adalah sebuah kewajiban yang mutlak datangya dari Allah azza wa jalla, bukan diada- adakan oleh manusia atau yang sering dianggap adalah bagian dari budaya orang Arab saja. Sungguh kasihan diri yang masih miskin ilmu dan jauh dari aturan Islam.
Saya teringat…pada masa liburan semester beberapa tahun silam, saya sempat mendapatkan cemohan dari keluarga. Saudara perempuan ayah saya pernah melihat saya sholat menggunakan kerudung dan jilbab. Haula atau tante saya tersebut terkejut kemudian mengomel dihadapan keluarga termasuk dihadapan bapak dan ibu saya. Kenapa keluarga kaget? Karena orang- orang selama ini beranggapan kalau sholat harus pakai mukena, seluruh tubuh tertutupi kecuali wajah. Tapi saya saat itu, menampakkan kedua telapak tangan, otomatis tante saya kaget dan bahkan marah karena dianggapnya saya ikut aliran sesat, entah aliran apa. Saya sempat menjelaskan selepas sholat Isya kala itu. Bahwasanya muka dan telapak tangan bukanlah aurot, jadi tak apa diperlihatkan baik dalam ibadah maupun dalam aktivitas diluar rumah. Saya tak mau memperpanjang perdebatan disini. Saya tak mau memutus tali silatuhrami gara- gara hal sepeleh dan sebenarnya tidak salah, karena apa yang saya lakukan tidak bertentangan dengan hukum syara’, ada dalinya kok. Walaupun sempat tante saya mengucilkan saya selama beberapa pekan atau bulan, tapi akhirnya redah juga masalahnya. Saya pun tetap pada pendirian. Insya Allah….. la haula wa la quwwata illa billah…
Tidak sampai disitu…. Selama bergabung dalam harakah ini jangan pernah merasa tenang, alias nyantai, kenapa? Ujian semakin banyak? Yah…bisa dikatakan begitu. Saya juga jadi teringat dengan ucapan Rasulullah selepas mendapatkan wahyu untuk kali pertama melalui malaikat Jibril, Rasul kemudian pulang dan menemui Khadijah di rumahnya dan berkata “ tidak akan ada lagi istrahat/ waktu untuk berleha- leha setelah ini”. Ucap beliau kepada istrinya Khadijah ra.
Menghadiri perhalaqoan tiap pekan. Awalnya teras berat, lama- kelamaan terasa ringan. Sungguh, ada begitu banyak hal yang saya dapatkan  dan ketahui setelah bergabung dalam harokah Islam. Ashobiyah/ fanatisme kelompok….. tidakkk, harakah ini tidak mengajarkan hal tersebut. Harakah Islam hanya mengadopsi apa- apa yang bersumber dari Allah, Al- Quran dan As- Sunnah. Sehingga yang dirasakan adalah rahmat Islam. Yah hanya Islam….. bukan ideologi kiri.
Yah mengenai Idiologi…saya baru mengetahuinya setelah bergabung di harokah ini, entah karena saya yang kurang mendapatkan informasi atau karena memang saya tidak pernah mencari tahu,sebab memang tak pernah terbesit dipikiran saya tentang idiologi. Ternyata idiologi itu beraneka macam yah…ada sekularisme dan ada sosialisme… dan beserta anak- anaknya. Satu lagi…. Ternyata Islam, agama saya, kamu, kita… juga adalah sebuah idiologi….mabda…pandangan hidup….sistem hidup….aturan hidup…. Subhanallah… saya jadi bingung awal mengetahuinya, tapi melalui perhalaqoan yang rutin akhirnya saya pahami apa itu ideologi yang sebenarnya, dan hati kita…umat Islam, seharusnya berlabuh pada idiologi Islam. Bukan yang lain!!!