Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah, Because...... SYARIAH WA KHILAFAH IS OUR SOLUTION....for All Problem in our Life.....
Senin, 24 Oktober 2011
KEBENARAN ITU, apa???
Apa yang mendasari seseorang sehingga menolak kebenaran yang datang padanya. Padahal kebenaran itu sudah benar adanya, sudah mutlak bahwa itu adalah kebenaran. Namun masihkah ada yang ragu dengan adanya kebenaran itu? Siapakah dia?
Setiap orang pasti mememiliki persepsi sendiri terkait dengan apa itu kebenaran yang sebenarnya? ada yang menganggap bahwa kebenaran adalah sesuatu yamng tidak bertentangan dengan hati nuraninya. Ada yang mengatakan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan fakta dilapangan atau real. Ada pula yang mengatakan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang datangnya dari Tuhan, bisa diterima oleh akal dan sesuai dengan fitrah manusia yang sebenarnya. Mungkin akan ada banyak defenisi lain yang akan kita temui mengenai apa itu KEBENARAN. Semua orang punya jawaban masing- masing bukan? Wajar,,,,karena kita terlahir dengan otak serta pemikiran/cara berpikir yang berbeda tergantung dimana kita tumbuh dan pendidikan apa yang kita dapatkan selama hidup kita, menonjol ataukah biasa saja.
Dalam penafsiran kebenaran itu sering terjadi perbedaan. Apa yang mendasari sehingga terjadi perbedaan dalam mengartikan arti dari kebenaran? Sudah pasti ada yang mempertahankan egonya, ada yang mengalami proses berpikir, lama maupun cepat, sehingga ia melahirkan sebuah pemahaman terhadap arti sebuah kebenaran itu, ia pun memandang sebuah kebenaran dari cara berpikir dan pemahaman masing- masing.
Kebenaran akan terasa rumit untuk diterjemahkan bagi otak yang telah terkontaminasi dengan berbagai pemahaman. Terlahir dari pemahaman yang salah akan menolak sesuatu walaupun itu adalah kebenaran, ia menolak karena menganggap itu salah dan sangat bertentangan terhadap apa yang ia pahami selama ini. Ia berpikir bahwa pemahaman yang ia pahami tidah boleh luluh begitu saja hanya karena dihadapkan pada sesuatu yang tidak sesuai dengan dasar pemikirannya dan dianggapnya baru dan rancu. Walaupun ada orang yang tahu bahwa sesuatu itu adalah benar, namun ia menentang kebenaran itu karena dianggapnya akan mengancam kelangsungan hidupnya, yaitu berupa pemahaman yang ia pahami. Jadi, dapat kita simpulkan bahwasanya kebenaran itu bisa terbukti bila apa yang ia pelajari sesuai dengan apa yang ia pahami. Apa yang telah tumbuh dan sudah menjadi cara pandang hidupnya selama ini dan tidak bertentangan.
Sebuah pembenaran atas kebenaran yang tak terbantahkan lagi. Kebenaran tak butuh pembenaran, karena kebenaran adalah sesuatu yang dipahami dan diyakini benar. Sesuatu yang timbul dari perasaan, naluri dan nurani sehingga tidak bertentangan dengan fitrah manusia. Dalam hal ini kebenaran berasal dari sang Khalik Yang Maha Benar dan tidak pernah salah. Tentunya kebenaran yang berasal dari Sang Khalik tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia. Kebenaran akan mudah diterima apabila setiap insan memahami apa yang diyakininya. Sehingga jelas bahwa apa yang diyakini adalah sesuatu yang benar adanya.
Bagi insan yang paham, bila dihadapkan dengan kebenaran maka perlahan tapi pasti akan dengan mudah untuk menerimanya. Namun bagi orang yang tidak tahu dan dia tahu bahwa dirinya tidak tahu, maka orang jenis ini jelas adalah orang yang bodoh dalam hal agama, tetapi ia tidak menyadari kebodohannya dan tidak ingin menerima kebenaran. Akibatnya, ia sering bersikap sok pintar. Karena sok pintar ( padahal bodoh ), maka ia sering menolak kebenaran, meski itu jelas- jelas ditegaskan dalam al- Quran dan as- Sunnah.
Kebenaran adalah sesuatu yang tak terbantahkan, tidak berisi dusta, kebohongan, kemunafikan, kerancuan. Walaupun masih saja ada orang yang masih ragu-ragu terhadap adanya kebenaran. Namun bagi orang yang yakin maka kebenaran itu mutlak adanya.
Ketika kita ingin mencari kebenaran makan carilah pada sumber yang tepat. Kita sebagai seorang muslim sudah pasti akan mengikuti petunjik Al- Quran dan as- Sunnah. Namun, mengapakah masih saja ada orang yang meragukan kebenaran itu? Padahal telah diterangkan dalam kitab suci al- Quran, seperti pada kutipan ayat dibawah ini:
“Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (TQS. Thaha:123-124).
Ditambah pula dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa mereka tidak akan merasakan kekhawatiran dan tidak bersedih hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (TQS. Al Baqarah: 38-39).
Dari ayat tersebut dipahami bahwa seseorang yang mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan bersedih –khususnya ketika meninggalkan dunia- atas urusan dunia yang tidak diperolehnya, di dunia ia tidak akan tersesat, dan di akhirat ia tidak akan sengsara, sebaliknya akan senantiasa bahagia di dalam surga nanti. (Ibn Katsir, tafsir S. Al Baqarah; 38-39, Zaydan : al-Sunan al-Ilahiyyah, http://saaid.net). Adapun bagi mereka yang mengingkari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, membangkang dan berpaling, maka akan mendapatkan kehidupan yang sempit, dan di akhirat akan kekal di dalam neraka.
Kebenaran Hanya didalam Islam
Petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah petunjuk yang sebenarnya, yang pantas dinamakan petunjuk. Di dalam Islam petunjuk ini disebut dengan al-huda atau al-hidâyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala itulah petunjuk (yang sebenarnya)".(TQS. Al Baqarah: 120).
Hidayah inilah yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk disampaikan kepada umatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak”. (TQS. Al Fath:28).
Hidayah tersebut adalah agama Islam, yang didalamnya terdapat petunjuk bagi seluruh manusia ( rahmatan lil a’lamiin ). Tidak ada sedikitpun petunjuk yang akan didapat diluar Islam, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya pemilik hidayah telah menyatakan bahwa satu-satunya agama yang diridhai-Nya hanyalah Islam.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. (TQS. Ali Imran:19).
“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (TQS. Ali Imran:85).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa kebenaran hanya akan didapatkan di dalam Islam. Jika seseorang mencari kebenaran diluar Islam, atau membuat pola,sistem tatanan kehidupan atau aturan sendiri yang diyakininya sebagai kebenaran, pada dasarnya ia berada dalam kesesatan dan kerugian.
Wallahu alam bi ‘ashawab……
Kamis, 22 September 2011
SAD STORY in Pondok TERAPUNG
***
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, tubuhnya telah kaku, nafasnya sudah terengah- engah. Kuperiksa nadinya tak bisa kutemukan lagi denyutannya. Aku hanya berharap pada detakan jantung yang masih bisa kujama dengan tanganku. Aku ingin memompa dadanya, namun aku tak sanggup. Aku bukanlah seorang perawat atau dokter, sama sekali aku tidak tahu cara memberikan pertolongan pertama pada orang yang jatuh pingsan dan skarat seperti ini. Sewaktu duduk dibangku SD beberapa tahun yang lalu aku pernah mempelajarinya,tapi aku telah lupa bagaimana harus memulainya, dari mana kemana.
“Ibu….ibu…ibu….bangun Bu, sadar’ki Bu”, namun Ibu tak kunjung sadarkan diri. Kutekan lagi nadi dipergelangan tangannya sebelah kanan, hasilnya masih tetap saja nihil.
Sang anak yang berada tepat disampingku menangis terseduh- seduh, merengek kapada sang ibu yang belum juga sadar . Andri memintanya untuk segera bangun. Siapa sangka, ibu kosku benar- benar tak sadarkan diri sekarang.
Mahasiswi penghuni pondok Terapung mulai berdatangan melihat keadaan ibu Kos yang belum juga sadarkan diri. Sekitar pukul 19.10 WITA, ibu kosku jatuh pingsan dan tergeletak didepan pintu ruang tamu. Sempat sang anak bungsu menahan tubuhnya, namun Andri sang anak tak dapat menahan tubuh sang ibu yang sudah tak sadarkan diri dan kemudian tergeletak kelantai. Awalnya sebelum ibu kosku jatuh pingsan dan tak sadarkan diri, ia sempat mengeluh kalau ia pusing- pusing, mungkin efek dari tekanan darahnya yang kata Dokter pribadinya, bahwa tekanan darah ibu sedang tidak normal alias tekanan darahnya tinggi setelah melakukan pemeriksaan tadi siang di rumah sakit Labuang Baji’. Kemarin sebelum kejadian malam ini, ibu kos juga sempat melakukan pemeriksaan dirumah sakit tersebut. Dan, kata dokter pribadinya, ibus kosku harus datang keesokan harinya untuk melakukan pemeriksaan darah untuk mengecek kadar kolestrol dalam darahnya.
Ibu kosku kini tak sadarkan diri, satu persatu anak- anaknya datang. Uni anak ketiga dari empat bersaudara yang kini bekerja sebagai karyawan disebuah tempat percetakan, masih dalam keadaan stabil. Uni masih bisa menenangkan dirinya, sedangkan kak Ani si anak kedua ibu kos sudah menangis tak karuan kemudian jatuh pingsan. Sontak ketiga anaknya yang hadir menangis histeris. Kak Eka dan Kak Salma yang sudah sekitar setengah jam menelepon taksi dan ambulans tak kunjung menuai hasil. Kami mulai kecewa, kutelepon keluarga ibu Kos satu persatu, mulai dari bapak kos hingga saudara perempuannya yang berada di luar kota Makassar. Suara yang kudengar dibalik HP terdengar tidak percaya dengan apa yang kukatakan, kualihkan HP- ku pada Andri dan mencoba menjelaskan kepada tantenya. Andri menjelaskan kronologis kejadiannya sambil menangis hingga touchscreen Hape- ku penuh dengan air mata. Air mataku pun akhirnya menetes, padahal kupaksa diriku untuk tak mengeluarkan air mata walau hanya setetes, namun siapa sangaka hati manusia memanglah lemah melihat hal yang memprihatinkan seperti ini. Tiga orang anak perempuan yang ada disampingnya menangis. Hanya anak lelaki satu- satunya yang tak dapat melihat ibu kos dalam keadaan kritis seperti ini.
Taxi pun tiba, menantu ibu kos segera membopong tubuh ibu kos menuju taxi yang berada didepan lorong, Kak Eka dan Kak Salma serta menantunya Kak Lutfi yang mengantarkannya kerumah sakit Wahidin Sudiro Husodo, merupakan rumah sakit terdekat dari tempat yang kami huni. Namun, sangat disayangkan, pihak administrasi bukannya panik melihat ada calon pasien yang sudah skarat malah justru meminta uang admistrasi telebih dahulu. Perjalanan menuju ruang UGD pun sedikit terhambat karena harus membayar administrasi terlebih dahulu. Kak Ani pun segera menyelesaikan administrasinya. Ibu Kos pun segera dipindahkan ke ranjang pasien dan didorong menuju ruangan IRD rumah sakit. Ruangan sangat penuh dengan pasien, Alhamdulillah….. masih ada ruangan yang kosong, selang infus pun mulai dipasangkan beserta cairannya. Alat pendeteksi jantung juga telah dipasang. Lengkaplah sudah alat-alat yang dipasangkan ditubuh ibu yang belum juga sadarkan diri. Busa terus saja keluar dari mulutnya, sehingga alat bantu pernapasan harus dilepas saat penyedotan busa yang keluar terus- menerus dari mulut ibu kos. Cairan bercampur darah pun keluar, kami yang sudah hadir ditempat itu mulai panik. Dan tidak tahu harus berbuat apa. Yang kusaksikan para dokter hanya mampu mengeluarkan cairan yang keluar dari mulut ibu kosku. Tak ada tindakan serius sebagaimana halnya yang sering kusaksikan di film- film. Bukan hanya keluarga pasien yang panik tapi juga sang dokter. Biasanya dokter bercucuran keringat dan sangat sibuk ketika mendapatkan pasien yang kondisinya sakarat seperti ibu kosku saat ini. Apakah mungkin itu hanya ada dinegeri dongeng dan hayalan belaka bila dihadapkan dengan kenyataan ternyata tidak sama? Dan yang kulihat saat ini, bahwa para dokter muda itu telah pasrah?
Mataku mulai berkaca- kaca, air mata yang seharusnya sudah keluar dari cangkangnya kupaksakan untuk tidak kukeluarkan saat itu, mulutku terus saja komat kamit melafadzkan kalimat tauhid. Terus saja kupanggil ibu kos, kubisikkan kalimat La ilaha Illallah….., ibu kos tetap saja membisu, seperti seseorang yang tengah tidur pulas.
Entah sampai kapan akan seperti ini, cairan berbusa terus saja keluar dari mulutnya, dan kadang bercampur darah. Tabung penampung cairan yang tergantung pada sisi kanan ranjang hampir penuh dengan cairan. Dokter Koas rumah sakit terus saja mengeluarkan cairan dengan menggunakan sedotan, panjang selang sedotan itu kira- kira 1 meter. Uni anak ketiganya berkali- kali megusap sisa cairan yang masih tersisa ditepi bibir Bu kos.
“Siapa nama pasien ini?” Kata dokter yang berada disebelahku.
“Ibu Nurhudayah”. Balasku dengan wajah yang penasaran. Kemudian dokter bertanya lagi.
“Berapa umurnya? berapa berat badannya? Berapa tekanan darahnya?” Tanya dokter secara berurutan.
“Umurnya 45 tahun, berat badannya 42, tekanan darah terakhir pemeriksaan di rumah sakit Labuang Baji’ adalah 120/70”. Kemudian, alat tensi darah pun kembali direkatkan dilengan sebelah kiri ibu kos. Ternyata hasil tensi darah ibu kos adalah 110/70, yang artinya normal.
Entah kenapa aku bertindak seperti anaknya saat itu, karena memang ibu kos telah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Setelah kurang lebih dua tahun bersamanya, seakan- akan aku memiliki hubungan batin dengannya. Betapa tidak, aku telah memahami sifatnya dan gerak- geriknya. Mungkin aku juga pernah membangkang terhadapnya sebagaimana hubungan antara ibu dan anak.
Awal pertama aku menginjakkan kaki di pondok Terapung, dimana ia menjabat sebagai pengurus pondokan alias Ibu Kos. Aku menganggap dia adalah sosok yang pemarah dan suka mengatur-ngatur orang. Bukan hanya anaknya yang biasa dimarahi, namun juga mahasiswa yang mondok. Termasuk saya sendiri. Yah….tentu saja Bu Kos marah pasti ada alasannya. Misalnya, dia melarang kita untuk mencuci piring dalam kamar mandi, yang katanya mengotori kamar mandi. Dan memang demikian. Namun, tidak dengan saya. Karena saya adalah pribadi yang mencintai kebersihan dan sudah terbiasa sedari kecil. Lantas kenapa Bu kos kadang marah dan mengoceh seakan- akan saya yang mengotori kamar mandi. Atau mungkin perasaan saya saja yang terlampau sensitif. Atau ini hanya kesalahpahaman belaka. Wallahu’alam….yang berlalu biarlah berlalu, dan biarlan menjadi pelajaran dimasa yang akan datang. Semua tinggalah kenangan.
***
Three hours ago…….. ibu Kos masih tetap saja skarat tak sadarkan diri. Wajahnya semakin pucat dan meliahatan menguning, lehernya kehitam- hitaman, mulutnya terus saja menganga dan mengeluarkan cairan bercampur busa.
“Yaa Allah…… tolongah wanita yang telah banyak berbuat baik padaku ini, aku sungguh tak sanggup melihat ia seperti ini”. Hampir lima jam sudah ia tak sadarkan diri. Aku terus saja berdoa dan membisikkan kalimat syahadat disampingnya. Ketiga naka perempuan ibu kos terus saja menangis. Uni yang semenjak tadi berada disampinganya terus saja memanggil- manggil ibu Kos.
“ Ma….ma….bangun’ki ma……..”, ucap Uni sambil menangis terseduh- seduh, lendir dari hidungnya terus saja mengucur. Sesekali aku memberinya tisu dan memegang pundaknnya berusaha untuk membuatnya lebih tenang.
Kak Ani anak kedua ibu kos, mencoba lebih tegar dan menenangkan kedua adik perempuannya, Uni dan juga Andri yang baru berusia 17 tahun. Sedangkan Uni seumuran denganku. Kak Ani telah memiliki dua orang anak lelaki. Danil dan Anis, cucu- cucu kesayangan ibu Kos.
***
Dua tahun yang lalu, tepatnya tgl 24 agustus 2009, aku menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya disebuah rumah yang berdiri tegak diatas rawa yang sudah ditimbun. Namanya Pondok Terapung, tempat yang kuhuni selama dua tahun ini. Didalamnya ada sebuah keluarga yang menurutku penuh dengan warna. Ada Ibu Kos dan juga bapak Kos dan kedua anak perempuannya. Dua anaknya yang lain telah berkeluarga dan memisahkan diri. Satu anaknya berada di Sulawesi Tenggara dan Kak Aniikut suaminya dan menetap di kota Makassar.
bersambung.........
Rabu, 21 September 2011
KETIKA HATI HARUS BICARA
Jika hati mampu berucap, maka ia mampu berkata iya atau tidak. Berkata iya untuk kebenaran dan berkata tidak untuk keburukan ataupun sebaliknya. Hati adalah cerminan wajah. Bila hati ini indah maka indah jualah wajah ini. Ketika hati mulai bicara, maka cobalah untuk berhenti sejenak dan cobalah untuk mendengarkan dengan saksama apa yang dikatakan oleh hatimu, lubuk hatimu. Dengarkanlah baik- baik, apakah ia berkata jujur tau dusta. Saya rasa bagi pemilik hati yang mencintai kebaikan sehingga kebaikan itulah yang melekat dihatinya dan kebenaran yang akan disampaikannya. Tak perlu lagi ragu dalam mengambil keputusan. Karena hati yang bersih akan senantiasa bekata jujur meskipun pahit ketika dikeluarannya melalui mulut.
Karena hati harus bicara….
Yah…hati memang harus bicara, jika ia tak mampu berbicara maka ia telah lumpuh atau bahkan mati. Hati diciptakan Allah untuk manusia hanya ada satu. Sudah menjadi hal yang mutlak, bila manusia harus menjaganya dengan baik- baik dan penuh kehati- hatian. Jika tidak….maka hati akan hancur dan kotor berlumur noda. Akan timbul penyakit hati. Hati akan terserang bintik- bintik hitam yang menjadikan hati itu kelam dan memberikan efek samping berupa penyakit hati, dusta, sombong, hasud, iri, dendam dan lain- lain.
Hati akan mencerminkan siapa si pemilik hati itu. Bila hati itu baik maka yang nampak akan baik pula. Dalam hadist Rasulullah Saw: Dari Nu’man bin Basyir berkata: saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda:
” Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” yaitu hati “. ( Hadis Riwayat Bukhori ).
Karena hati harus memilih….
Hati yang berbicara adalah hati yang telah memilih. Apakah ia berkata berdasarkan nafsu, sesuai kehendaknya saja. Tanpa mempetimbangkan hokum syara terlebih dahulu. Tentu saja hati tak sembarang berkata.hati yang baik adalah hati yang telah dibumbui dengan ilmu melalui penalaran di otak. Otak menterjemahkan apa yang diampaikan oleh sang hati. Bila rasional dan tak melanggar hokum- hokum Alloh, maka patutlah untuk dikeluarkan melalui lisan. Namun,jangan sampai berbeda apa yang disampaikan dengan apa yang dipikiran.
Menjaga HATI agar tetap bersih bukanlah hal yang mudah. Terutama untuk kondisi saat ini. Dimana pemahaman manusia yang terkontaminasi dengan pemahaman yang jauh dari syariat Islam.
Bila Aa Gym, mengatakan ataukah bersenandung dalam lagunya yang berjudul “ JAGALAH HATI” maka sepatutnyalah kita sebagai umat terbaik untuk bersunguh- sungguh dalam mejaga kebersihan hati ini. Bukan hanya karena ucapan ulama atau imbalan pahala yang ditawarkan. Namun, karena dengan hati yang bersih membuatmu lebih baik, karena dirimu yakin bahwa Alloh berpihak kepada sang pemilik hati yang baik dan jauh dari kemaksiatan kepada- Nya.
Karena hati adalah lentera…karena hati adalah cahaya…karena hati mampu berbicara….. dengan hati, kita bisa bercerita dengan Sang Khalik. Dengan hati kita mampu berdoa kepada- Nya, sehingga orang- orang disekitar kita tidak pernah tahu apa yang sedang kita harapkan/ adukan kepada Alloh, dan apa yang diucapkan oleh hatimu hanya engkau dan Alloh yang mengetahuinya….yah…tentu saja….engkaupun mempunyai rahasia khusus dan merasakan ketenangan jiwa.
Sungguh….ketika hati yang berbicara maka tak ada yang dapat menentangnya. Hati yang hidup adalah raga yang penuh dengan semangat…keep spirit. Ia pun mampu merangkai kata-kata indah dan orang pun tak ada yang mengetahuinya. Your secret in your heart…..
Sang pemilik hati…..
Biarlah hatimu berbicara apa adanya…..
Berbicara sesuai dengan syariah Islam…..
Karena bersamanya maka ruh dan jasad ini akan selamat…..
Jagalah hati……
Engkau akan tentram dengan hati yang bersih……
Hatimu akan bersinar seterang cahaya mentari……
Biarkan hatimu menanamkan niat yang tulus…….
Sehingga engkau menjadi lebih baik……
Sang pemilik hati yang senantiasa mentautkannya dengan cinta kepada- Nya
Wahai pemilik hati….
Cintailah apa yang dicintai- Nya dan bencilah apayang dibenci- Nya…..
Maka akan kau temui ruhmu berkumpul bersama orang- orang yang mencintai- Nya…..
MAMPUKAH KITA SE- IKHLAS LEBAH?
Warnanya kuning, dengan garis hitam dibadannya. Ukurannya kecil dengan dua sayap kecil dipunggungnya.
Dialah lebah…..
Lebah yang menghasilkan cairan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lebah senantiasa menghisap sari- sari bunga atau yang biasa kita sebut nektar. Lebah menghisap nectar tanpa merusak bunga yang ia hinggapi.
Lebah memiliki mata yang cukup besar untuk ukurannya yang kecil, ia memiliki kaki, perut, rahang, antena, kepala, sayap dan juga sengatan untuk menghindari musuh namun manusia menggunakan sengat lebah sebagai pengobatan akupuntur yang berkhasiat bagi kesehatan.
Lebah tentunya diciptakan Allah bukan hanya sekedar penciptaan saja. Namun ia memiliki banyak manfaat bagi kehidupan dan berperan dalam siklus kehidupan.
Lebah, ia adalah hewan kecil yang senantiasa bekerja keras. Mengabdi pada sang ratu lebah. Ia tak memikirkan dirinya sendiri, ia adalah hewan yang suka bekerja sama dan pantang menyerah.
Ukurannya kecil, tapi ia hewan yang kuat. Kekuatannya untuk terbang mencari sumber kehidupan tak pantas kita ragukan lagi, lebah terbang dari pohon ke pohon mencari sari- sari bunga. Ia menghisap sari bunga, lantas apakah bunga itu akan mati setelah ada lebah yang menghisap sarinya? Tentu saja tidak. Justru lebah bisa membantu proses penyerbukan bunga. Itulah salah satu keistimewaan lebah. Ia dapat membantu perkawinan dan perkembangbiakan tanaman.
Yang kita ketahui bahwa lebah hanyalah jenis serangga yang kadang dianggap sangat berbahaya karena memiliki sengatan yang sangat menyakitkan, atau bahkan mematikan. Namun,bukan itu maksud diciptakannya lebah, bukan untuk menyakiti, lebah hanya menyengat manakala ia mendapatkan gangguan ataupun serangan dari musuhnya ataupun manusia.
Kita harusnya bersyukur. Bukankah lebah yang memproduksi madu dan menyimpannya dengan baik dalam sarangnya yang berbentuk unik. Bahkan kita pun bisa mengkonsumsi sarang lebah, yang biasa kita sebut dengan royal jelly. Nikmat bukan?
Dan apakah lebah pernah marah dan menuntut ketika madu yang ia kumpulkan dengan susah payah harus diambil oleh manusia? Tidak kan? Bahkan manusia dapat menghasilkan banyak uang dari hasil penjualan madu yang diproduksi oleh sang lebah.
Kita seharusnya bersyukur, kita masih bisa menikmati madu, yang sampai saat ini masih dapat kita jumpai di toko- toko maupun di supermarket.
Mampukah kita se- ikhlas lebah?
Lebah bekerja tanpa pamrih. Ia senantiasa mengabdi pada sang ratu lebah. Setiap satu sarang lebah terdapat satu ratu lebah pula. Dan tentunya ukuran ratu lebah lebih besar dibandingkan para prajurit/ para lebah pekerja.
Lebah yang kita ambil madunya tak pernah balas dendam, ketika madu disarangnya telah habis kita peras dan disaring, maka ia akan membuat sarang baru lagi dan mulai mencari sari- sari bunga lagi untuk mengisi sarangya yang baru. Ia terus mengumpulkan sari bunga hingga sarangnya penuh, terjadi proses dalam perutnya hingga sari- sari/nektar bunga itu berubah menjadi cairan yang cukup kental yang kita sebut madu. Madu yang sampai saat ini masih terjual dengan harga yang relatif tinggi. Tak semua orang dapat menikmatinya. Jadi, beruntunglah orang yang masih bisa menikmati madu yang sangat berkhasiat bagi kesehatan.
Al Qur'an menempatkan secara istimewa lebah madu menjadi sebuah surah yaitu An Nahl (Lebah Madu). Dalam salah satu ayatnya, “ Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah di mudahkan. Kemudian dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir”. (Surah An Nahl ayat 68-69).
Bila lebah telah melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuhan dan tertera abadi dalam kitab suci Al- Quran. Lantas, apakah kita akan kalah patuhnya dengan lebah? Sedangkan kita mempunyai akal yang sehat dan masih memiliki hati. Dan bukankah surga menjadi tempat bagi orang- orang yang tunduk dan patuh kepada sang Khalik, ini janji Allah. Dan apakah kita sebagai manusia masih meragukan keajaiban penciptaan ini, masih percaya dengan tahayyul, mitos- mitos serta cerita- cerita yang bisa merusak aqidah kita?
Tengoklah lebah……
Ia adalah makhluk kecil yang sangat patuh kepada Allah. Ia tak pernah mengeluh dan putus asa. Ia bahkan rela mati demi manusia.
Dan tahukah kita, ketika sengat ekor lebah kita cabut karena dijadikan sebagai pengobatan akupuntur, maka bebrapa saat lebahpun akan mati.
Begitu juga ketika diserang oleh musuhnya, lebah menusukkan sengatan ekornya berkali-kali ke epidermis/ kulit musuhnya sehingga merasa sakit. Namun, apa yang dilakukan lebah ini ternyata malah membuat sengatnya lepas (tertinggal) di kulit seseorang dan menarik alat sengat dan kantung sengat (yang memang menempel pada sengatnya), dan dalam beberapa menit kemudian lebah pun mati.
Sudahkah kita sekuat lebah? Seikhlas lebah? Sepatuh lebah? Padahal, kita adalah mahkluk yang lebih istimewa dibandingkan lebah. Ataukah kita merasa tidak istimewa, sehingga kita hanya melakukan hal- hal yang biasa saja. Makan, minum, tidur, bekerja….. padahal hidup ini adalah beribadah kepadanya. Segala aktivitas yang kita lakukan saat ini hanyalah sebagai wujud penghambaan kita kepada- Nya. Wallahu’ alam bi’ shawab……
Selasa, 01 Maret 2011
CERPENKU
“ Nikmat Tiada Tara”
Penulis : Arini Arief
Anggota FLP ranting Unhas
“Maka nikmat Tuhan- mu yang manakah yang kamu dustakan?” TQS. AR- RAHMAN : 13, untuk yang kesekian kalinya firman Allah ini sampai ketelingaku. Kali ini aku mendengarnya dari seorang Hafizah, teman dari temanku yang mengisi kajian Jum’at siang ini. Sungguh indah dan merdu suaranya, lafadznya begitu jelas dan lancar. Ayat- ayat Allah yang ia bacakan meresap hingga kerongga- rongga dadaku, begitu dalam, bulu romaku berdiri sembilan puluh derajat. Sungguh tubuhku terasa bergetar, bak tersengat listrik. Tanpa terkendalikan satu dua tetes cairan dari mataku keluar, dan terus berlanjut. Entah berapa helai tissu yang sudah aku habiskan untuk mengapus air mataku yang terus saja bercucuran, dan kerudung merah bata yang kukenakan sampai basah ujung- ujungnya. Rasanya tissu ditanganku masih belum cukup. Orang- orang disekitarku mungkin memperhatikanku ataukah mungkin tidak. Terserah mereka. Apa mau dikata.Hari ini aku telah menangis. Menangis sejadi- jadinya. Menangis mendengarkan Firman- Nya. Sungguh aku tak ingin mendustakan firman Tuhan-ku. Semua terasa benar, semua adalah benar. Semua adalah nyata, segala sesuatu adalah nikmat- Nya, nikmat dari- Nya. Allah Azza wa Jalla…… Alhamdulillah…Alhamdulillah…Alhamdulillah, kuucapkan berkali- kali dalam sanubariku. Aku sangat bersyukur berada dalam lingkaran ini. Lingkaran yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan kepada Sang Khalik.
Kajian Jum’at. Salah satu rutinitas yang diadakan oleh aktivis lembaga dakwah dikampusku. Yah… tentu saja setiap hari Jum’at. Disaat para lelaki melaksanakan sholat Jum’ at di Masjid. Kami sangat antusias mengikuti acara yang insha Allah dirahmati- Nya. Aku dan keempat sahabatku, Mila, Salma, Yuyu, Ika. Selepas kuliah, kami segera melangkahkan kaki dimana tempat kajian Jum’at biasa diadakan. Entah dikelas, Musholla Muslimah, ataupun dialam bebas. Maksudku, dibawah pohon atau taman- taman sekitar kampus. Dan kali ini diadakan di Musholla Muslimah. Walapun pertemuan indah ini hanya berlangsung selama 30 menit, tapi ilmu terasa mengalir betul. Tersampaikan dengan indah dan penuh makna.
Sungguh menggembirakan. Yah… semakin banyak ilmu yang saya dapatkan selama mengikuti kegiatan ini. Selain itu, juga akan menambah teman dan mempererat tali silatuhrahmi antara sesama Muslimah. Tentunya, acara ini dikhususkan untuk Muslimah saja. Jadi kita bebas untuk berekspresi. He..he… maksudku, bertukar pendapat, diskusi dan sebagainya.
Kanda Pemateri alias ukhti yang lebih banyak ilmunya dari pada aku, sering dan tak pernah bosan mengatakan, “ wahai ukhti- ukhti yang insha Allah dirahmati- Nya, terima kasih banyak, syukran telah menghadiri taman- taman surga, menghadiri majelis- majelis ilmu yang insha Allah mengantarkan kita semua ke Surganya Allah.” Hal ini memberikan rasa syukur dan rasa bangga diantara kami. Memberikan motivasi agar kami lebih giat menghadiri majelis- majelis ilmu Islam,mempelajari, mengkaji dan mengamalkan ilmu Allah nan luas. Mempelajari dan menerapkan hukum- hukum Allah secara Kaffah disegala aspek kehidupan. Karena Islam adalah Rahmat bagi sekalian Alam, Rahmatan Lil A’lamiin.... Dan sungguh ana bangga terlahir sebagai orang Muslim. Dan mudah- mudahan menjadi Muslim sejati. Bukan Muslim KTP atau apalah…
Setahun ini aku merasakan perubahan besar dalam diriku dan hidupku. Awal masuk kampus dulu, aku sama sekali amat jauh dari agama. Cara bergaul dan berpakaiannku sungguh tak mencerminkan kalau aku ini sebenarnya adalah seorang Muslimah, meninggalkan shalat dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Aku tak berkerudung dan tak mengenalan Jilbab, berbaur dengan lawan jenis, bahkan sering aku berboncengan sepeda motor dengan pria, kediskotik, berkemah dihutan bersama pria dan banyak lagi aktivitas yang sebenarnya dapat menjerumuskanku kedalam neraka Jahannam. Teringat jelas, dulunya aku sangat urakan dan jahiliyah. Kekampus mengenakan celana Jeans, kaos oblong dan dipadukan dengan jaket, kadang- kadang celana yang aku kenakan robek dibagian lutut bahkan diatasnya lagi. Sangat kelaki- lakian bukan?. Dan anehnya, saat itu aku tak pernah merasa risih apalagi malu dengan kostumku itu. Tapi itu dulu…. Beda dengan sekarang. Dan sekarang aku sangat malu mengingat apa yang terjadi atas diriku setahun yang lalu, karena sedari kecil memang aku sangat jauh dari ajaran Islam. Sungguh aku malu, malu kepada- Mu ya Rabb… malu kepada muslim yang amat taat padamu. Malu, karena orang tuaku tak pernah mengajarkanku tentang agama- Mu, karena orang tuaku tak pernah melatihku berwudhu dengan benar dan menuntunku untuk bersujud kepada- Mu, karena orang tuaku begitu sibuk dengan dunia mereka, dan sama sekali tidak begitu peduli dengan anak semata wayangnya ini. Tiada lain adalah aku. Semua keinginanku hanyalah akan terpenuhi. Apapun yang aku minta. Tapi, sungguh saat itu aku merasa hampa, kosong, tak ada kebahagiaan yang hakiki dalam hatiku. Semua dalah tipuan. Orang tuaku amat jauh dari agama. Dan kuputuskan untuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya. kebahagiaan yang mutlak dimiliki oleh seorang Muslim.
Sekarang genap sudah dua tahun aku mengenyam pendidikan dibangku perguruan tinggi, disalah Universitas terkemuka di negeri yang amat kaya ini. Perubahan akan selalu ada. Salah satu kalimat yang akan menjadi pembuktian dalam hidupku. Pembuktian kalau aku bisa berubah, dan harus berubah. Dan, inshaAllah kearah yang lebih baik. Ternyata aku telah menjemput yang namanya HIDAYAH itu. Sebuah anugrah yang Allah berikan tiada tara. Aku benar- benar berubah, sekarang telah memakai kerudung dan mengulurkan Jilbab keseluruh tubuhku, tak lupa lagi untuk selalu menggunakan tangan kanan untuk makan dan minum, baca doa sebelum dan sesudah masuk WC, dan berkumpul bersama orang- orang yang sholeh, insha Allah. Alhamdillah…aku juga sering meluangkan waktu dan aktif mengikuti kajian- kajian Islam, tarbiyah, dan dialog- dialog Islami, yang tentunya akan menambah khazanah pengetahuanku mengenai Islam. Sekarang aku adalah salah satu aktivis dakwah dikampus. Tentu aku bangga akan hal ini. Tapi, kadang- kadang aku merasa sedih dan takut. Apakah aku bisa menjalankan amanah ini dengan sebagaimana mestinya. Sesuai dengan tuntunan al- Quran dan as- Sunnah? Oh… Tuhan, ini sungguh ujian bagiku, ujian yang sangat berat. Sedangkan aku sendiri masih sangat kurang ilmunya. Aku bagaikan debu yang terombang- ambing dilautan pasir Sahara. Ilmu-Mu begitu luas, apakah aku mampu men- save nya dengan baik dan rapi di memoriku yang kapasitasnya amat terbatas ini. Walaupun ada milyaran sel otak dikepalaku yang siap siaga membantu. Apakah aku sanggup? Sebab terkadang aku menjadi orang yang amat pelupa. Dan mungkin akan lalai.
Man jadda wa Jada… kata- kata ini berkali- kali terngiang jelas ditelingaku, bahkan menjadi nyanyian. “ siapa yang bersungguh- sungguh, maka dapatlah ia…”. Dalam sujud shalatku aku seringkali meminta agar aku lebih baik dari hari kemarin, dan diberikan kesungguhan hati, ketetapan hati, agar tak kembali lagi kejalan yangg buruk dan menyesatkan. Aku benar- benar ingin menjadi wanita sholehah. Aku telah merindukan surga. Dan aku telah jatuh cinta. Jatuh Cinta kepada- Mu ya Rabb…
Sungguh, Nikmat Tuhan- mu yang manakah yang kamu dustakan? Kurasa, tak ada… semua begitu indah… indah pada waktunya, indah saat kukenal Engkau ya Rabb… indah disaat hidayah itu datang kepadaku. Saat musim hujan setahun silam. Saat kecelakaan maut yang hampir mengantarkanku pada liang kubur yang sunyi, senyap, gelap dan pasti akan menyiksaku tanpa kasihan sedikitpun. Pada saat itu, aku setengah sadar. Aku hanya merasa sakit diseluruh tubuhku. Lebih sakit lagi dihatiku. Dan kemudian dalam ketidaksadaranku selama sepekan lagi, sebenarnya aku mati, aku mati. Ruhku telah berpisah sebentar dengan jasadku. Kemudian aku kembali. Kurasa Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Dan aku menjemput hidayah itu. Segera aku bertobat disaksikan oleh para malaikat Allah… I will be back…. True as Muslimah, insha Allah…
***
Awalnya kedua orang tuaku, sangat melarangkau untuk berpenampilan yang mereka anggap aneh…? berpakaian dengan sopan mereka anggap aneh? apakah dunia sebentar lagi kiamat? Ayahku sangat anti agama, ayah sama sekali tak ingin kehidupannya harus berlandaskan aturan- aturan agama yang menurutnya mengikat dan tak memberikan kebebasan. Ayah dan ibuku, bahkan tak lagi memberiku uang jajan. Mereka hanya bertanggung jawab penuh atas biaya pendidikanku saja.
Sejak ayah tak lagi memberiku uang jajan atau ongkos transportasi, aku mengandalkan uang hasil kerjaku sebagai guru privat sejak 3 bulan yang lalu disalah satu rumah tetanggaku yang jaraknya sekitar 30 meter dari rumahku.
Sehari- hari setelah aku pulang dari kampus, kadang aku menyempatkan diri untuk mampir di warung mpok Mira yang letaknya tak jauh dari kampus, sekedar untuk membantu mpok Mira sang pemilik warung, mencuci piring maupun mengantarkan pesanan makanan yang telah dipesan oleh para pelanggan setianya. Kadang aku digaji dan kadang juga hanya diberi makan. Terasa betul, kehidupanku sebelumnya berbeda dengan sekarang. Yang dulu pemalas kini aku telah memberanikan diri untuk bekerja. Melakukan pekerjaan yang tak pernah kulakukan bahkan dirumahku sendiri.
Aku yakin, kedepannya lagi akan ada banyak lagi godaan serta ujian yang akan kuhadapi. Tuhan tak pernah tidur, dan Dia senantiasa menguji hambanya sesuai dengan kadar keimanannya.
Bumi Allah, 2 Desember 2010
Rabu, 23 Februari 2011
ALKISAH
Sebuah lagu untuk ibu belum sanggup menyaingi rasa sayang ibu untukku. Kemarin, hari ini dan seterusnya. Betapa tidak, aku seringkali membuat ibu kecewa. Aku begitu banyak salah pada ibu. Ibu kadang mengomel yang kubalas dengan omelan pula. What??? maksudku, omelan dalam hati. Mana ada seorang anak yang berani mengomeli ibunya seperti itu. Sungguh aku tak berani melakukannya. Aku hanya mencoba tersenyum atau bahkan tertawa saat mood ibu lagi dalam kondisi buruk, guawatttt dah…. Tidak bermaksud meledek, tapi aku ingin membuatnya untuk selalu tersenyum dan bahkan tertawa. Happily ever after….
Aku tahu masa muda ibu tak seindah dengan apa yang kurasakan saat ini. Secara, era semakin maju dan kultur yang berlaku telah berubah, jauh berbeda dengan tempoe duloe. Mungkin aku cukup beruntung mendapatkan nasib yang lebih baik darinya. Oh yah? Benarkah itu? I wish…
Alkisah… adalah namaku. Nama yang diberikan oleh mendiang kakekku. Karena kakek senang bercerita alias suka mendongeng. Mungkin itulah yang menjadi salah satu sebab sehingga aku senang bercerita. Karena namaku acapkali dijadikan awalan dalam setiap cerita.
Beberapa tahun silam. Seorang anak ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya. Orang tua anak tersebut telah bercerai. Ibu dari sang anak pergi ke kota Kalimantan, tepatnya di Balikpapan. Kau tahu dimana Balikpapan itu? Sangat jauh…yang jelasnya bukan di dunia lain. Ibunya kemudian menikah lagi dengan lelaki asli disana. Wanita itu memiliki suami yang bernama Hajji Beddu’. Tak lain adalah saudara sepupu dari pengusaha sukses ternama dinegeri ini, yang terkenal dengan bisnis penjualan mobil Toyotanya, Hajji Abdul Bakri yang merupakan ayahanda dari Hajji Hasan Bakri . Namun aku tak tahu sedekat apa hubungan diantara mereka. Sebab, aku bukanlah pemerhati silsilah keluarga, apalagi pemerhati silsilah keturunan karaeng atau Puang di tanah bugis ini.
Mantan wakil presiden hajji Hasan Bakri. Pastilah hampir seluruh warga di negeri ini mengetahuinya. Yah iyalah…namanya juga pengusaha sukses dan pernah menjabat sebagai orang nomor dua di negeri yang permai ini. Hajji…begitulah orang bugis memanggil gelar haji bagi mereka yang telah menunaikan salah satu rukun Islam yang hanya diwajibkan bagi orang yang mampu secara finansial dan fisiknya. Bahasa halusnya nih, rohaniyah dan jasmaniyah harus siap. Sudah merupakan syarat mutlak.
Ibunya menikah lagi, sedangkan ayah kandungnya kembali kepelukan istri pertama. Yah… ayah dari anak itu ternyata poligami. Dan ternyata gagal dalam mengikuti sunnah Rasulullah. Ayahnya tak berlaku adil terhadap istri- istrinya. Kecemburuan hinggap dalam mahligai rumah tangganya. Perceraian pun menjadi jalan terakhir dalam cinta segitiga yang dibangunnya selama tujuh tahun. Sungguh malang nian nasib anak tersebut. Menjadi korban dari perceraian orangtuanya. Lebih malangnya lagi, ia ditinggal pergi oleh orangtua kandungnya yang kemudian dititipkan kepada tantenya di pelosok desa yang cukup jauh.
Bertahun- tahun ia menjalani hidup tanpa belaian lembut tangan orangtuanya. Walaupun sesekali ayahnya datang untuk menjenguknya. Namun, hal tersebut tak dapat mengobati rasa rindunya akan sosok seorang ayah. Apalagi sosok ibunya. Yang sedari SD, SMP hingga SMA tak pernah menemuinya.
Anak itu tumbuh dewasa. Dan jadilah ia seorang ibu. Anak itu tumbuh menjadi wanita yang tangguh. Dialah ibuku. Wanita sabar dan baik yang aku kenal selama hidupku. Wanita yang penuh dengan kepolosan dan keluguan namun dimataku ia tetap bersahaja.
Wanita yang menikah karena dijodohkan. Dialah salah satu wanita yang mengalami nasib yang hampir sama dengan Siti Nurbaya. DIJODOHKAN!!! Jika ibu tak dijodohkan saat itu dengan pria yang menjadi ayahku, mungkin aku takkan lahir ke dunia ini. Alkisah Hanif binti Baharuddin takkan melihat betapa menakjubkannya bumi ciptaan Tuhan. Anak seceria diriku mungkin takkan ada dalam daftar mahasiswa berprestasi. He..he… aku bersyukur telah dilahirkan ke dunia ini melalui rahim ibu yang sungguh luar biasa. Halimah binti Ibrahim, dialah wanita mulia yang telah melahirkanku, hingga bisa berpijak di bumi Allah. Menghirup oksigen, hingga merasakan sejuknya angin laut, merasakan enaknya buah duren hasil panen di kebun ayah. Menyaksikan kepompong hingga berubah menjadi seekor kupu- kupu yang bersayap warna- warni. Melihat awan dengan berbagai bentuk, kadang berbentuk dinosaurus, planet- planet, peta, bunga, pesawat, wajah orang dan bahkan ada yang berbentuk lafazd Allah... it’s amazing… Semua tak mungkin kualami jika ibuku tak pernah ada. Jika ibuku tak pernah dilahirkan oleh seorang ibu yang kemudian tak pernah lagi dilihatnya. I’m so sad…
Ibuku, dialah wanita yang mengajarkanku banyak hal akan arti dari sebuah kehidupan. Semasa kecilnya mengalami begitu banyak penderitaan. Namun ia tetap tegar. Disitulah aku belajar banyak hal yang mungkin tak kudapatkan dari orang lain. Dari sosok ibu yang kuanggap cerewet. Tapi justru aku belajar banyak darinya. Apakah karena ibundaku cerewet? Lebih dari itu, ibuku adalah wanita yang baik hati dan pekerja keras. Biarlah ia tetap cerewet, jika cerewetnya itu demi kebaikanku sendiri. Bagaimana jika ibu adalah seorang yang pendiam? Pasti hidup ini akan terasa hambar.
Entah sudah berapa kali ibu menceritakan pengalaman hidupnya. Ibu hanya menyuruhku agar aku lebih beruntung darinya. Meraih cita- cita setinggi mungkin. Kuliah dengan sungguh- sungguh. Ibu begitu yakin bahwa kelak nasibku akan lebih baik darinya. I must believe… karena doa seorang ibu akan diijabah oleh- Nya. Doa seorang ibu adalah doa yang sangat ampuh alias mujarab.
Aku tahu, kenapa ibuku kadang sangat cerewet. Karena disaat ia seumurku , ibu lebih banyak diam. Masa kecilnya tak seindah masa kecilku. Masa kecilku yang lebih banyak kuhabiskan untuk bermain. Sedangkan masa kecil ibu lebih banyak untuk bekerja. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Menurutku tak pantas dilakukan untuk anak seusianya saat itu. memotong- motong kayu apalagi. Bukankah hal tersebut adalah pekerjaan kaum lelaki? My mom is very amazing….and my Mom is my everything…
Ibu. Ketika ibu bercerita tentang masa lalunya aku begitu menyimaknya. Kusimak dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut ibu. Bibir ibu yang khas, bibir bawah lebih tebal dibandingkan bibir atasnya. Menandakan ibu memang cerewet. Itu kata orang- orang kampung lho…orang- orang terdahulu…
Ibu senang bercerita. Kadang hal tak penting pun harus ia keluarkan dari mulutnya. Atau kadang ibu bercerita secara berulang- ulang. Hal yang pernah diceritakannya pasti dikemudian hari ia ceritakan lagi dan lagi, bahkan sampai kuhapal diluar kepala. Hingga aku menegurnya dan menyuruhnya untuk tidak bercerita yang itu- itu lagi. Kakak sulungku mungkin tak begitu peduli dengan sikap ibu yang senang mengulang- ulang cerita. Kakak sungguh beda denganku. Hal sekecil apapun yang dilakukan ibu pasti aku perhatikan jika aku sedang bersamanya. Kadang ibu menceritakan sesuatu yang mesti dirahasiakan. Entah keceplosan atau memang disengaja. Ibu kadang menceritakan kebiasaan- kebiasaan buruk anak- anaknya. Hal tersebutlah yang kadang membuatku risih bahkan kesal dalam hati, marah bahkan ingin meledak seperti bom atom. Agar orang- orang yang mendengar cerita ibuku segera lupa dengan apa yang baru diceritakan oleh ibuku.
Benteng pertahanan diri ibu memang lebih kuat dariku. Begitu sabarnya ia saat mendapatkan cobaan. Ibu begitu baik, sehingga salah satu saudara perempuan ayahku menyuruhnya agar jangan terlalu baik kepada orang lain. Kok, ada yah orang yang melarang untuk berbuat kebaikan? He..he..e.. Ibu ringan tangan dan tak suka berpangku tangan, ia senang membantu dan senang memberi. Walaupun ia sendiri sebenarnya dalam kesusahan. Because she is my Mom…good mother!
Selama menempati posisi sebagai ibu rumah tangga saat usia 21 tahun. Ia tetaplah pekerja keras seperti semasa kecilnya dulu. Memasak, berkebun hingga berdagang dipasar. Ibuku mungkin tak sesukses Khadijah, istri Rasulullah dalam berdagang. Bisa dikatakan keuntungan ibu saat berdagang sangatlah kurang bahkan acapkali mengalami kerugian. Apakah mungkin karena ibu tak bependidikan tinggi, hingga ia tak tau bagaimana cara berdagang yang menguntungkan dan mungkin bisa membuatnya menjadi kaya raya? Entahlah… Yang kusaksikan ibu tak pernah sedih saat pendapatannya kurang. Ia selalu saja bisa menerima. Sungguh sosok yang luar biasa. Ibu mungkin tak bisa mengalahi kecerdasan Aisyah dalam menghapal hadist, namun ibu mudah mengingat wajah orang- orang yang baru dikenal atau dilihatnya.
Ibu tak mengajarkanku bagaimana cara menjual daun pisang sebagaimana dirinya sewaktu kanak- kanak. Tapi ibu membantuku membuat keripik pisang untuk kujual di sekolah, saat diriku duduk dibangku SMA. Ibu tak mengajarkanku bagaimana cara menyelesaikan soal- soal matematika. Namun, ibu mengajarkanku bagaimana cara menghargai seseorang. Bagaimana cara menjadi lebih bijak dan tak menghitung kebaikan yang pernah dilakukan. Namun selalu mengingat kebaikan orang sekecil apapun. Begitulah ibu mengajarkanku agar pandai bersyukur dan berterima kasih.
Ibu menyuruhku untuk lebih banyak diam. Katanya, diam akan melindungimu dari masalah. Ibu tahu, aku anaknya cerewet. Suka berkomentar dan mungkin dianggap suka menentang. Yah… aku akan menentang pemerintah yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Menentang koruptor, menginginkan agar tangannya dipotong saja. Karena begitulah hukum Allah harus berlaku. Siapa yang berzina harus dihukum cambuk bahkan dirajam. Anak kecil hingga menjelang usia baligh jika tidak melaksanakan sholat maka harus dicambuk pula. Dengan maksud bukan untuk menyakiti. Tapi menyadarkan akan sebuah kewajiban, bahwa kelak jika tidak melaksanakan ibadah wajib maka manusia akan mendapatkan siksaan yang lebih dasyat, lebih sakit dari cambukan. Sungguh siksaan Allah amatlah pedih.
Ibu pernah melarangku agar tidak terlalu fanatik dalam beragama. Jelas aku menolak perintah ibu yang masih kurang tahu akan hukum- hukum Allah. Aku tak pernah menyalahkan ibu atau bahkan mengaggapnya bodoh. Ibu tetaplah ibuku, ia hanya butuh banyak bimbingan dan pembelajaran. Aku hanya ingin menyalahkan diriku jika masih gagal dalam menyadarkan umat Islam untuk berislam secara kaffah, bersungguh- sungguh dalam menerapkan hukum- hukum Allah.
Ibu yang cerewet. Akan menjadi pendengar setia untukku. Sayang ibu sedikit la- Load… lambat loading githu. Kadang aku harus mengulang ceritaku hingga beberapa kali. Yah… begitulah ibu. Ibu yang penuh dengan keluguan. Aku akan selalu menyayanginya seperti ia menyayangiku. Aku selalu berharap agar menjadi teman yang baik untuknya. Menjadi pelipur laranya. Aku hanya ingin merawat ibu hingga ia semakin tua dimakan usia, hingga kerutan diwajahnya semakin bertambah. Entah siapa yang akan lebih dulu menghadap Sang Illahi kelak, aku atau ibu kah? Namun aku berharap, agar ibu diberi umur yang panjang oleh Sang Khalik, pemilik segalanya.
Betapa bahagianya diriku, jika ibu menyaksikan diriku berdiri di pelaminan. Betapa senangnya ibu saat aku memberinya seorang cucu. Betapa indahnya hidup ini, bila aku dan ibu tetap bersama hingga maut memisahkan kami.
Senin, 21 Februari 2011
CERPEN YANG KESEKIAN....
“Nikmat Tiada Tara”
Penulis : Arini Arief
“Maka nikmat Tuhan- mu yang manakah yang kamu dustakan?” TQS. AR- RAHMAN : 13, untuk yang kesekian kalinya firman Allah ini sampai ketelingaku. Kali ini aku mendengarnya dari seorang Hafizah, teman dari temanku yang mengisi kajian Jum’at siang ini. Sungguh indah dan merdu suaranya, lafadznya begitu jelas dan lancar. Ayat- ayat Allah yang ia bacakan meresap hingga kerongga- rongga dadaku, begitu dalam, bulu romaku berdiri sembilan puluh derajat. Sungguh tubuhku terasa bergetar, bak tersengat listrik. Tanpa terkendalikan satu dua tetes cairan dari mataku keluar, dan terus berlanjut. Entah berapa helai tissu yang sudah aku habiskan untuk mengapus air mataku yang terus saja bercucuran, dan kerudung merah bata yang kukenakan sampai basah ujung- ujungnya. Rasanya tissu ditanganku masih belum cukup. Orang- orang disekitarku mungkin memperhatikanku ataukah mungkin tidak. Terserah mereka. Apa mau dikata.Hari ini aku telah menangis. Menangis sejadi- jadinya. Menangis mendengarkan Firman- Nya. Sungguh aku tak ingin mendustakan firman Tuhan-ku. Semua terasa benar, semua adalah benar. Semua adalah nyata, segala sesuatu adalah nikmat- Nya, nikmat dari- Nya. Allah Azza wa Jalla…… Alhamdulillah…Alhamdulillah…Alhamdulillah, kuucapkan berkali- kali dalam sanubariku. Aku sangat bersyukur berada dalam lingkaran ini. Lingkaran yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan kepada Sang Khalik.
Kajian Jum’at. Salah satu rutinitas yang diadakan oleh aktivis lembaga dakwah dikampusku. Yah… tentu saja setiap hari Jum’at. Disaat para lelaki melaksanakan sholat Jum’ at di Masjid. Kami sangat antusias mengikuti acara yang insha Allah dirahmati- Nya. Aku dan keempat sahabatku, Mila, Salma, Yuyu, Ika. Selepas kuliah, kami segera melangkahkan kaki dimana tempat kajian Jum’at biasa diadakan. Entah dikelas, Musholla Muslimah, ataupun dialam bebas. Maksudku, dibawah pohon atau taman- taman sekitar kampus. Dan kali ini diadakan di Musholla Muslimah. Walapun pertemuan indah ini hanya berlangsung selama 30 menit, tapi ilmu terasa mengalir betul. Tersampaikan dengan indah dan penuh makna.
Sungguh menggembirakan. Yah… semakin banyak ilmu yang saya dapatkan selama mengikuti kegiatan ini. Selain itu, juga akan menambah teman dan mempererat tali silatuhrahmi antara sesama Muslimah. Tentunya, acara ini dikhususkan untuk Muslimah saja. Jadi kita bebas untuk berekspresi. He..he… maksudku, bertukar pendapat, diskusi dan sebagainya.
Kanda Pemateri alias ukhti yang lebih banyak ilmunya dari pada aku, sering dan tak pernah bosan mengatakan, “ wahai ukhti- ukhti yang insha Allah dirahmati- Nya, terima kasih banyak, syukran telah menghadiri taman- taman surga, menghadiri majelis- majelis ilmu yang insha Allah mengantarkan kita semua ke Surganya Allah.” Hal ini memberikan rasa syukur dan rasa bangga diantara kami. Memberikan motivasi agar kami lebih giat menghadiri majelis- majelis ilmu Islam,mempelajari, mengkaji dan mengamalkan ilmu Allah nan luas. Mempelajari dan menerapkan hukum- hukum Allah secara Kaffah disegala aspek kehidupan. Karena Islam adalah Rahmat bagi sekalian Alam, Rahmatan Lil A’lamiin.... Dan sungguh ana bangga terlahir sebagai orang Muslim. Dan mudah- mudahan menjadi Muslim sejati. Bukan Muslim KTP atau apalah…
Setahun ini aku merasakan perubahan besar dalam diriku dan hidupku. Awal masuk kampus dulu, aku sama sekali amat jauh dari agama. Cara bergaul dan berpakaiannku sungguh tak mencerminkan kalau aku ini sebenarnya adalah seorang Muslimah, meninggalkan shalat dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Aku tak berkerudung dan tak mengenalan Jilbab, berbaur dengan lawan jenis, bahkan sering aku berboncengan sepeda motor dengan pria, kediskotik, berkemah dihutan bersama pria dan banyak lagi aktivitas yang sebenarnya dapat menjerumuskanku kedalam neraka Jahannam. Teringat jelas, dulunya aku sangat urakan dan jahiliyah. Kekampus mengenakan celana Jeans, kaos oblong dan dipadukan dengan jaket, kadang- kadang celana yang aku kenakan robek dibagian lutut bahkan diatasnya lagi. Sangat kelaki- lakian bukan?. Dan anehnya, saat itu aku tak pernah merasa risih apalagi malu dengan kostumku itu. Tapi itu dulu…. Beda dengan sekarang. Dan sekarang aku sangat malu mengingat apa yang terjadi atas diriku setahun yang lalu, karena sedari kecil memang aku sangat jauh dari ajaran Islam. Sungguh aku malu, malu kepada- Mu ya Rabb… malu kepada muslim yang amat taat padamu. Malu, karena orang tuaku tak pernah mengajarkanku tentang agama- Mu, karena orang tuaku tak pernah melatihku berwudhu dengan benar dan menuntunku untuk bersujud kepada- Mu, karena orang tuaku begitu sibuk dengan dunia mereka, dan sama sekali tidak begitu peduli dengan anak semata wayangnya ini. Tiada lain adalah aku. Semua keinginanku hanyalah akan terpenuhi. Apapun yang aku minta. Tapi, sungguh saat itu aku merasa hampa, kosong, tak ada kebahagiaan yang hakiki dalam hatiku. Semua dalah tipuan. Orang tuaku amat jauh dari agama. Dan kuputuskan untuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya. kebahagiaan yang mutlak dimiliki oleh seorang Muslim.
Sekarang genap sudah dua tahun aku mengenyam pendidikan dibangku perguruan tinggi, disalah Universitas terkemuka di negeri yang amat kaya ini. Perubahan akan selalu ada. Salah satu kalimat yang akan menjadi pembuktian dalam hidupku. Pembuktian kalau aku bisa berubah, dan harus berubah. Dan, inshaAllah kearah yang lebih baik. Ternyata aku telah menjemput yang namanya HIDAYAH itu. Sebuah anugrah yang Allah berikan tiada tara. Aku benar- benar berubah, sekarang telah memakai kerudung dan mengulurkan Jilbab keseluruh tubuhku, tak lupa lagi untuk selalu menggunakan tangan kanan untuk makan dan minum, baca doa sebelum dan sesudah masuk WC, dan berkumpul bersama orang- orang yang sholeh, insha Allah. Alhamdillah…aku juga sering meluangkan waktu dan aktif mengikuti kajian- kajian Islam, tarbiyah, dan dialog- dialog Islami, yang tentunya akan menambah khazanah pengetahuanku mengenai Islam. Sekarang aku adalah salah satu aktivis dakwah dikampus. Tentu aku bangga akan hal ini. Tapi, kadang- kadang aku merasa sedih dan takut. Apakah aku bisa menjalankan amanah ini dengan sebagaimana mestinya. Sesuai dengan tuntunan al- Quran dan as- Sunnah? Oh… Tuhan, ini sungguh ujian bagiku, ujian yang sangat berat. Sedangkan aku sendiri masih sangat kurang ilmunya. Aku bagaikan debu yang terombang- ambing dilautan pasir Sahara. Ilmu-Mu begitu luas, apakah aku mampu men- save nya dengan baik dan rapi di memoriku yang kapasitasnya amat terbatas ini. Walaupun ada milyaran sel otak dikepalaku yang siap siaga membantu. Apakah aku sanggup?, sebab terkadang aku menjadi orang yang amat pelupa. Dan mungkin akan lalai.
Man jadda wa Jada… kata- kata ini berkali- kali terngiang jelas ditelingaku, bahkan menjadi nyanyian. “ siapa yang bersungguh- sungguh, maka dapatlah ia…”. Dalam sujud shalatku aku seringkali meminta agar aku lebih baik dari hari kemarin, dan diberikan kesungguhan hati, ketetapan hati, agar tak kembali lagi kejalan yangg buruk dan menyesatkan. Aku benar- benar ingin menjadi wanita sholehah. Aku telah merindukan surga. Dan aku telah jatuh cinta. Jatuh Cinta kepada- Mu ya Rabb…
Sungguh, Nikmat Tuhan- mu yang manakah yang kamu dustakan? Kurasa, tak ada… semua begitu indah… indah pada waktunya, indah saat kukenal Engkau ya Rabb… indah disaat hidayah itu datang kepadaku. Saat musim hujan setahun silam. Saat kecelakaan maut yang hampir mengantarkanku pada liang kubur yang sunyi, senyap, gelap dan pasti akan menyiksaku tanpa kasihan sedikitpun. Pada saat itu, aku setengah sadar. Aku hanya merasa sakit diseluruh tubuhku. Lebih sakit lagi dihatiku. Dan kemudian dalam ketidaksadaranku selama sepekan lagi, sebenarnya aku mati, aku mati. Ruhku telah berpisah sebentar dengan jasadku. Kemudian aku kembali. Kurasa Tuhan memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan aku menjemput hidayah itu. Segera aku bertobat disaksikan oleh para malaikat Allah… I will be back…. True as Muslimah, insha Allah…***
Bumi Allah, 2 Desember 2010