Rabu, 06 Februari 2013

Pergantian Yang Melelahkan?



Pohon rindang kini semakin rindang saja. Musim penghujan di kota ini menjadikan pohon didekat fakultasku semakin rindang. Daun tua mulai berjatuhan meninggalkan ranting- ranting pohon. Kini daun muda siap menggantikan posisinya. Begitu kompleks kehidupan ini. Allah- lah yang mengatur segalanya. Dia yang menghidupkan dan Dia jualah yang mematikan. Dia  sungguh  Maha Sempurna dan Paripurna.
Manusia pun seperti daun- daun yang melekat pada ranting pohon. Daun tua baru selesai dengan tugasnya dan daun muda siap menggantikan tugas sang daun tua. Daun tua akan berserakan diatas tanah atau mungkin terbakar dan berubah menjadi abu. Sedangkan daun muda dengan gigih menjalankan tugasnya. Memberikan kesejukan bagi siapa saja yang berada disekitarnya.
***
Hari ini cerah. Walaupun masih tampak butiran kristal- kristal air hujan yang jatuh ke bumi. Tak seperti beberapa hari yang lalu. Hujan terus mengguyur kota dengan lebatnya dan tanpa pamrih. Setiap pengendara motor wajib mengenakan jas hujan dan sepatu laras bila tak ingin basah kuyup dan rutinitasnya di luar rumah tidak tertunda. Hujan lebat mengakibatkan daerah dibeberapa titik mengalami banjir. Para daeng becak menyediakan plastik khusus agar penumpangnya tidak kebasahan. Dan para pejalan kaki harus menyiapkan payung sebelum hujan, everytime and everywhere! Dalam sehari, entah hujan bisa turun berapa kali. Dan kurasa berkali- kali.
Biasanya sering kudengar di stasiun televisi adalah “ Jakarta Banjir lagi…”, namun kini kota Makassar pun mengalami hal yang serupa. Dan kurasa hampir seluruh kota- kota besar di negeri ini mengalami hal yang sama. Rain agains
Sepekan yang lalu. Tepat pukul 00.00 WITA Banjir dengan hangat menyambutku. Ketika baru kembali dari berlibur, selama sebulan penuh di kampung halamanku. Ternyata kota ini masih sama. Setelah aku meninggalkannya selama sebulan. Masih tetap lembab dan basah. Drainase tak lagi bisa menampung air hujan. Ditambah lagi dengan tumpukan sampah yang berserakan dimana- mana.  Menyumbat aliran air hujan menuju drainase makro, sungai. Mungkin juga sungai Tello.
Banyak yang mengeluarkan keluh kesah. Namun sebenarnya mereka tak menyadari apa penyebab dari terjadinya musibah ini. Mereka hanya selalu dan selalu mengeluh mengenai akibat. Namun kurang menggubris sebab dari akibat tersebut. Yah…begitulah kadang- kadang manusia. Lebih banyak yang lalai dibandingkan dengan yang betul –betul sadar.
***
Kini pondokan yang kutinggali selama kurang lebih 2 tahun benar- benar terapung. Sesuai dengan namanya, “ Pondok Terapung”. Para penghuni pondokan pun harus rela melepas sepatu mereka untuk tiba dikampus dengan selamat…he..he..he.. maksudku, menyelamatkan sepatu mereka agar tidak basah. Dan mereka pun tetap cantik setibanya dikampus. Begitulah mahasiswa, selalu berusaha tampil rapi, bersih, harum dan enak dipandang mata. Namun, ada juga sih mahasiswa yang tampil alakadarnya bahkan urakan pun ada. Dengan mudah aku jumpai di fakultasku. Kini mulai dianggap lumrah.
Syukurlah, aku memiliki sepeda. Jadi tak usah kulepas sepatuku. Tinggal kuroda sepeda diatas genangan air. Bak sepedaku melayang diatas air. Sempat kulihat di te- ve beberapa hari yang lalu. Seorang lelaki separuh baya menggayuh sepedanya diatas sungai, di kota Jakarta. It’s amazing right….!!! Hebat bukan? Katanya, hal tersebut dilakukan jika sewaktu- waktu kota Jakarta membutuhkan kendaraan alternatif untuk mencegah kemacetan yang acap kali terjadi dikota tersebut. Sepeda yang luar biasa kan… jangan salah, sebenarnya sepedahnya dilengkapi dengan pelampung yang direkatkan di sisi sepeda. Kemudian digayuh, seolah- olah tengah bersepeda diatas jalan. Mungkin sebagian orang akan berfikir, it’s impossible idea !!!, but it is the real man…or it’s KONYOL… sebagian orang yang melihatnya akan berkomentar, ada- ada saja orang yang nyari sensasi naik sepeda di atas sungai. Menurutku, it’s so good… begitulah seharusnya manusia. Harus tahu mencari solusi dari setiap masalah yang ada. Dan tahu bagaimana memanfaatkan alam dengan sebaik- baiknya, agar tidak murka. Alam benar- benar memperlihatkan kemurkaannnya kepada manusia. Begitu mudah manusia menggasak, membabat hutan- hutan. begitu mudahnya manusia membuang sampah di sembarang tempat. Begitu mudahnya manusia merusak laut and many more… dan hujan pun dikeluhkan. Bukakankah hujan adalah anugrah Tuhan Yang Maha Esa? Dan patut manusia syukuri.
Ibu kosku sering berkata disaat musim hujan melanda “ kapan musim panas akan tiba?”. Kurasa ia pun akan berkata disaat musim kemarau tiba “ kapan musim hujan akan tiba?”. Tidak hanya Bu kos saja yang akan berkata demikian. Namun hampir seluruh manusia. Dan memang manusiawai. Manusia memang senang berkeluh kesah.
Dari cerita sepada nan jauh disana. Tak perlu kubahas panjang lebar. Pengetahuankau akan hal itu masih sangat minim. Aku masih perlu belajar banyak tentang pencarian alternatif. Alternatif untuk mengatasi masalah lingkungan yang semakin gawat saja. Betul- betul gawat darurat, mesti di UGD dan ditangani oleh para ahlinya, spesialis lingkungan. Mungkin juga kelak adalah aku. Bukankah aku kini bertengger dibawah naungan bidang keilmuan tersebut. TATA RUANG KOTA, akan sangat bersahabat dengan lingkungan. Bidang keilmuan yang kuselami adalah program studi pengembangan wilayah dan kota atau disingkat PWK. Dan mungkin bila nanti Tuhan mengizinkan dan meloloskanku sebagai the true planner dan meneruskan cita- citaku menjadi seorang pengajar, pengusaha dan konsultan. Mewujudkannya adalah butuh keyakinan yang maksimal alias tidak setengah- setengah. Salah satu buku yang pernah kubaca didalamnya terkutip dengan jelas dan diulang beberapa kali pada halaman tertentu “ Man jadda wajada….” Intinya, siapa yang bersungguh- sungguh, sukseslah ia. Sebenarnya kutipan ini tercantum dalam kitab suci al- Quran. Sungguh, Allah tahu apa yang dibutuhkan oleh hamba- hambanya yang senantiasa berusaha untuk mendekati- Nya. Begitu juga denganku. Kuingin Tuhan mendengarkan mimpi- mimpiku, dan ketika aku berusaha sekuat tenaga dan melakukannya dengan sepenuh hati, aku yakin bahwa kelak Tuhan mengabulkannya. Tuhan memeluk mimpi- mimpi itu. Amiin…
***
Ketika sebagian besar orang- orang mulai sadar dan berusaha untuk mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada. Menangani masalah banjir. Mungkin tepatnya, menangani masalah climate change from global warming effect. Aku pun perlu banyak belajar.
Sangat jelas dan nampak dari perubahan iklim. Mulai dari melelehnya es- es raksasa dikutub utara. Badai salju dinegara- negara barat dan sebagian juga adalah Negara asia. Aneka badai seperti topan. Tingginya gelombang air laut. Kurasa sudah tak terhitung berapa kali bumi ini mengalami bencana. Entah bencana karena ulah- ulah tangan manusia itu sendiri ataukah bencana yang merupakan teguran dari- Nya. Permasalahnnya adalah keterkaitan antara faktor sebab akibat. Segala akibat yang timbul pastilah ada sebabnya. Sudah menjadi hukum alam.
Ayahku seringkali berkata bahwa kerusakan yang terjadi disebabkan oleh ulah tangan- tangan dari manusia itu sendiri. Aku tahu ayahku megutip kata- kata itu dari terjemahan ayat suci al- Quran. Aku tahu ayahku begitu peduli dengan alam. Namun yang kutahu, ayahku sendiri suka mematikan rumput didepan rumahku dengan menyemprotkannya dengan racun pembasmi semak belukar. Aku lupa merek racun mematikan itu apa. Yang jelasnya botol yang berisi cairan itu sangat mematikan. Dapat mematikan tumbuhan maupun hewan. Manusia pun akan mati jika mengkonsumsinya. Ide bodoh!!! Hal tersebut sama dengan bunuh diri.
Beberapa tahun yang lalu kudapati kucing peliharahanku mati terkapar setelah beberapa menit kusaksikan ia skarat. Dan sempat aku meneteskan begitu banyak air mata.  Kurasa ia mati karena keracunan. Kulihat ia memuntahkan beberapa helai rumput. Kutebak, ia mati karena rumput beracun itu. Rumput- rumput yang telah terkontaminasi dengan racun. Rumput- rumput yang telah ayah semprot dengan racun. Yang kusesali, kenapa aku tidak melarang ayah untuk menyemprot rumput dengan racun. Padahal aku tahu bahwa hal tersebut akan mempengaruhi keseimbangan alam. Simbiosis mutualisme pupus sudah…kekecewaaku terhadap ayah tak pernah kusampaikan. Kucing kesayangan pun jadi korban dari kelalaian manusia. Oh.. apakah ayah mengetahuinya…
***
Hujan akan segera reda. Buktinya kini hari telah cerah. Matahari mulai menampakkan sinar keemasannya. Aku tak harus puas hanya dengan memandangi daun- daun berguguran ataukah hanya duduk terdiam menikmati detik- detik terakhir tetersan air hujan yang masih tersisa pada dahan pohon. Memelototi jam menunggu waktu kuliah perdana dimulai. Atau sekedar mengeluh. Kenapa masih banyak teman sekelasku yang senang menghisap rokok dan mengepulkan asapnya hingga menyebar hampir kesetiap sudut ruangan.
Kira- kira kapan mereka akan sadar. Aku hanya terdiam, bisu. Berkata dalam hati. Memikirkan bagaimana cara mengakhiri kebiasaan buruk mereka. Merokok, buang sampah sembarang tempat, hidup bermewah- mewah dengan cara mengoleksi aneka accessoris  bahkan kendaraan pribadi. Kurasa semua itulah penyebab dari bencana yang sering terjadi di negeri ini. Astagfirullah….
Biarlah zaman terus berganti. Namun perubahan zaman takkan mengubah kekuasaan dan ketetapan Tuhan. Kuyakin kita pun tahu, bahwa ada saatnya lelah akan diganti dengan ketenangan yang abadi.[]

Dan Saya Pun Memilih Bersama 000



Saya tahu… semakin banyak yang ingin memperjuangkan Islam maka akan lebih banyak pula yang berusaha untuk meruntuhkannya, baik itu dari kalangan umat muslim sendiri ataupun dari kaum kafir laknatullah. Jaman sekarang yang mana serba terbalik, dimana kondisi umat semakin rusak. Yang halal diharamkan dan yang haram dihalalkan.
Dulu…ketika saya belum begitu memahami Islam, secara tidak sadar saya juga merupakan bagian dari mereka, sekuler, liberal yang hanya menempatkan agama pada tataran ritualisme belaka. Saya juga menyukai kebebasan, ingin menjadi wanita karir,bla...bla...bla… Sungguh jahiliyah….. saya juga sempat tersengat virus Korean wave sebagaimana anak muda masa kini. Yah… semasa SMA dulu, saya juga sempat menjadi fans tidak jelas alias sekedar ikut- ikutan entah itu dari lingkungan keluarga ataukah dari teman- teman pecinta korea dan tentunya layar TV yang sering menayangkan drama korea, dan jadilah saya penggila korea. Bodoh!!!
Dunia yang semakin tidak waras atau manusia yang sebenarnya semakin tidak waras? Saya kemudian melihat dunia semakin mencekam karena manusia yang semakin senang bermaksiat dan menjadi pembebek. Yah… pembebek…. Berkiblat kepada barat, fashionnya, life stylenya, cara berpikirnya dan banyak lagi. Ini lah kita sebut sebagai ghwzul fikr alias perang pemikiran
Inilah perang pemikiran yang sebenarnya…
Kuliah, jadi mahasiswa. Disitulah masa saya mengenal Islam lebih dekat. Menghadiri diskusi, seminar dialog, talkshow apapun itu yang berbau keilmuan pastilah saya berupaya untuk menghadirinya. Sebenarnya ini adalah salah satu habits yang saya bawah sedari SMA, saya sungguh menyukainya. Mengetahui banyak hal, dan mengenali banyak orang. Sebenarnya pada mulanya saya juga termasuk orang yang  demam panggung, gugupan, tapi sekarang tidak lagi…. Karena sudah habist…. Karena latihan dan terus terlatih gara- gara sering bicara di forum.
Di perkuliahan teman- teman pun tahu… saya adalah tipikal wanita yang suka berbicara jika bertanya ataupun ditanya, mungkin akan panjang ceritanya, itulah saya. Sekali bicara maka susah untuk berhenti. Bukannya sengaja atau karena ingin pamer ilmu. Tapi memang ada begitu banyak hal yang ingin saya sampaikan bila dalam kondisi seperti itu. Satu hal yang perlu kita ingat… tidak semua karakter orang itu sama. Begitu pula dengan saya yang senang berdiskusi ataupun berdebat, yang penting sehat dan dengan akal yang sehat.
Kembali lagi ke awal saya mengenal Islam kaaffah. Semua berawal dari besarnya rasa keingintahuan saya terhadap ilmu tepatnya IPTEKS. Apakah saya terjebak dengan habits saya sendiri. Ternyata tidak, justru saya sangat bersyukur dengan habits ini. Saya kemudian mengenal sebuah jamaah/ harokah Islam yang serius alias konsisten dalam memperjuangkan Islam. Sedikit pun tidak pernah terbesit dibenak saya untuk takut apalagi menyatakan diri anti/alergi  jamaah/ harakah Islam. Saya sama sekali tidak pernah menaruh kecurigaan sedikit pun terhadap harakah ini, yang nantinya saya disesatkan ataupun tidak, tapi saya yakin dengan sepenuh jiwa, harakah Islam ini tidak sesat sebagaimana kebanyakan ormas Islam saat ini, ada yang moderat ataupun liberal alias sekuler, dan banyak rupanya… sebagaimana manusia yang diciptakan dengan akal, maka saya harus selektif. Yah…. selektif dalam menilai, menyikapi dan memahami.
Di Peraduan
Tak berapa lama saya bergabung, dengan prinsip “saya dengan, dan saya taat” sebagaimana yang telah termaktub dalam Al- Quran “ sami’na wa atho’na”. saya kemudian memakai jilbab, memakai kerudung walaupun sebenarnya sudah berkerudung sedari SMP, tapi di harakah inilah kemudian saya mengenal apa itu Jilbab dan apa itu kerudung. Dan ternyata sama sekali tidak boleh kita anggap remeh makna berhijab dengan baik dan benar sebagaimana dalam perintah dalam Al- Quran surah Al- Azhab ayat 59 dan An- Nuur ayat 31. Hal seperti ini mungkin dianggap kecil atau remeh oleh sebagian besar muslimah di dunia ini, namun bagi saya tidak, berhijab dengan syar’I adalah sebuah kewajiban yang mutlak datangya dari Allah azza wa jalla, bukan diada- adakan oleh manusia atau yang sering dianggap adalah bagian dari budaya orang Arab saja. Sungguh kasihan diri yang masih miskin ilmu dan jauh dari aturan Islam.
Saya teringat…pada masa liburan semester beberapa tahun silam, saya sempat mendapatkan cemohan dari keluarga. Saudara perempuan ayah saya pernah melihat saya sholat menggunakan kerudung dan jilbab. Haula atau tante saya tersebut terkejut kemudian mengomel dihadapan keluarga termasuk dihadapan bapak dan ibu saya. Kenapa keluarga kaget? Karena orang- orang selama ini beranggapan kalau sholat harus pakai mukena, seluruh tubuh tertutupi kecuali wajah. Tapi saya saat itu, menampakkan kedua telapak tangan, otomatis tante saya kaget dan bahkan marah karena dianggapnya saya ikut aliran sesat, entah aliran apa. Saya sempat menjelaskan selepas sholat Isya kala itu. Bahwasanya muka dan telapak tangan bukanlah aurot, jadi tak apa diperlihatkan baik dalam ibadah maupun dalam aktivitas diluar rumah. Saya tak mau memperpanjang perdebatan disini. Saya tak mau memutus tali silatuhrami gara- gara hal sepeleh dan sebenarnya tidak salah, karena apa yang saya lakukan tidak bertentangan dengan hukum syara’, ada dalinya kok. Walaupun sempat tante saya mengucilkan saya selama beberapa pekan atau bulan, tapi akhirnya redah juga masalahnya. Saya pun tetap pada pendirian. Insya Allah….. la haula wa la quwwata illa billah…
Tidak sampai disitu…. Selama bergabung dalam harakah ini jangan pernah merasa tenang, alias nyantai, kenapa? Ujian semakin banyak? Yah…bisa dikatakan begitu. Saya juga jadi teringat dengan ucapan Rasulullah selepas mendapatkan wahyu untuk kali pertama melalui malaikat Jibril, Rasul kemudian pulang dan menemui Khadijah di rumahnya dan berkata “ tidak akan ada lagi istrahat/ waktu untuk berleha- leha setelah ini”. Ucap beliau kepada istrinya Khadijah ra.
Menghadiri perhalaqoan tiap pekan. Awalnya teras berat, lama- kelamaan terasa ringan. Sungguh, ada begitu banyak hal yang saya dapatkan  dan ketahui setelah bergabung dalam harokah Islam. Ashobiyah/ fanatisme kelompok….. tidakkk, harakah ini tidak mengajarkan hal tersebut. Harakah Islam hanya mengadopsi apa- apa yang bersumber dari Allah, Al- Quran dan As- Sunnah. Sehingga yang dirasakan adalah rahmat Islam. Yah hanya Islam….. bukan ideologi kiri.
Yah mengenai Idiologi…saya baru mengetahuinya setelah bergabung di harokah ini, entah karena saya yang kurang mendapatkan informasi atau karena memang saya tidak pernah mencari tahu,sebab memang tak pernah terbesit dipikiran saya tentang idiologi. Ternyata idiologi itu beraneka macam yah…ada sekularisme dan ada sosialisme… dan beserta anak- anaknya. Satu lagi…. Ternyata Islam, agama saya, kamu, kita… juga adalah sebuah idiologi….mabda…pandangan hidup….sistem hidup….aturan hidup…. Subhanallah… saya jadi bingung awal mengetahuinya, tapi melalui perhalaqoan yang rutin akhirnya saya pahami apa itu ideologi yang sebenarnya, dan hati kita…umat Islam, seharusnya berlabuh pada idiologi Islam. Bukan yang lain!!!

EKSPLOITASI KECANTIKAN MUSLIMAH


EKSPLOITASI KECANTIKAN MUSLIMAH

Oleh : Kholda Naajiyah

Kontes Muslimah hanya menguatkan opini bahwa menutup aurat itu harus cantik dan trendy.
Fenomena kontes kecantikan kini melanda dunia Muslimah. Ajang pencarian Muslimah tercantik dengan busana paling modis dan fashionable mulai dihelat beberapa kalangan. Seperti Hijab Hunt 2012 yang diselenggarakan sebuah portal berita ternama bekerja sama dengan beberapa kosmetik dan desainer.

Lalu World Muslimah Beauty 2012 yang dihelat 9-16 September di Jakarta. Pemilihan duta Muslimah tersebut digelar bersamaan dengan pertemuan para pengusaha bisnis syariah dunia bertajuk The 3rd Muslim World Biz 2012, yang dihadiri oleh delegasi negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) serta para pelaku bisnis syariah dunia, pada 12-16 September di Jakarta.

Nah, tujuan kontes-kontes itu satu: mencari Muslimah cantik untuk ikon fashion busana atau kosmetik Muslimah. Jadi, seperti tahun-tahun sebelumnya, pemenang ajang kontes seperti ini sontak akan menjadi model. Baik model foto maupun peragawati yang lenggak lenggok memperagakan busana Muslimah karya para desainer kenamaan.

Wajahnya akan nampang di majalah-majalah Muslimah, katalog brand-brand busana Muslimah ternama, brosur produk kosmetik, bintang iklan produk Muslimah atau seliweran di panggung-panggung peragaan busana Muslimah.

Lantas apa bedanya dengan foto model dan peragawati pada umumnya? Cuma satu: tidak mengumbar kulit tubuh. Adapun dandanan make up sama saja, tetap mempertontonkan kecantikan alias tabaruj. Duh!

Haruskah Modis?

Belakangan ini semangat menutup aurat di kalangan Muslimah memang menggembirakan. Mereka bahkan membentuk komunitas-komunitas khusus untuk menunjukkan eksistensinya. Dalam menutup aurat, mereka lebih suka menggunakan istilah hijab dan menyebut diri hijaber.

Menurut bahasa, hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi. Sedangkan menurut istilah syara', al-hijab dimaksudkan sebagai suatu tabir yang menutupi badan wanita.

Entahlah, mengapa istilah hijaber lebih disukai. Yang jelas, motto para hijabers ini sangat terkenal, yakni tetap fashionable meski menutup aurat. Mengklaim berpenampilan syar'i tapi tetap modis. Sayangnya, sadar atau tidak, mereka telah terseret filosofi dunia fashion ala sekuler-kapitalis pada umumnya.

Seperti diketahui, fashion umumnya diciptakan untuk menonjolkan kecantikan wanita. Fashion harus selalu berubah dan up to date. Selalu memunculkan trend-trend terbaru. Nah, kondisi ini turut menyeret para hijabers sehingga mereka merasa harus selalu mengikuti trend busana Muslimah teranyar, wajib terlihat fresh dan fashionable dengan model-model busana yang paling up to date. Mereka merasa bangga bila mengenakan busana Muslimah merek ternama, karya desainer favorit atau bahkan mix and match dengan busana-busana branded keluaran Barat, yang penting gombrong atau panjang. Seperti memadukan dress tanpa lengan dengan blazer keluaran Zara. Atau memadukan tunik dengan celana pantalon branded dari butik Max & Spencer.

Padahal, sekali lagi sayang, busana-busana Muslimah up to date yang mereka klaim itu, sangat jauh dari nilai-nilai syara'. Bahkan, terkadang yang tampak justru penampilan yang lebih glamour dan lebih tabaruj dibanding wanita pada umumnya yang tidak menutup aurat.

Hal ini tentu memunculkan keprihatinan. Di satu sisi kita salut dengan semangat berhijab mereka, namun di sisi lain mencuatkan opini di kalangan Muslimah bahwa berbusana itu harus modis dan cantik. Padahal, bukan itu esensi busana takwa, melainkan sebagai identitas Muslimah dan penjagaan izzah (harga diri, red).

Eksploitasi Kecantikan

Keberadaan kontes-kontes kecantikan Muslimah semakin menguatkan opini bahwa Muslimah itu harus cantik dan trendy, tak kalah dengan wanita-wanita pengumbar aurat. Buktinya, kontes ini pun selalu mensyaratkan harus berusia muda (17-30 tahun), fotogenik, terlihat menarik saat difoto dalam beberapa angle, tertarik dan berminat dengan dunia fashion.

Memang, mereka tak harus mengumbar aurat. Namun, kecantikan tetap saja menjadi poin penilaian. Wajah harus sedap dipandang dan bodi tinggi langsing. Pokoknya urusan kecantikan, nggak kalah dengan peserta kontes ratu-ratu kecantikan umumnya.

Nah, setiap peserta pasti ingin memenangkan kontes yang diikutinya. Apalagi hadiahnya cukup menjanjikan. Selain uang tunai jutaan rupiah, juga kesempatan menjadi terkenal sebagai foto model Muslimah. Tentu saja, berbagai cara mereka lakukan untuk itu. Seperti memutihkan wajah agar tampak lebih camera face, rajin ke salon sekadar menicure dan pedicure, menjaga kelembaban bibir, diet agar tetap langsing sehingga serasi mengenakan busana Muslimah model apapun, dan perawatan lainnya.

Sementara itu, untuk menghasilkan foto yang eye catching alias enak dipandang, tentunya harus ditunjang make up dan busana terbaik. Dipilihlah produk kosmetik termahal dan baju-baju branded yang harganya juga selangit. Kalau sudah begini, apa bedanya dengan peserta kontes-kontes ratu kecantikan pada umumnya? Sama-sama mengeksploitasi kecantikan perempuan.

Jaga Privasi

Para Muslimah seharusnya menyadari, potensi pada diri mereka bukanlah sekadar fisik. Jika Allah SWT menganugerahkan wajah cantik, fotogenik dan bodi aduhai, bukanlah untuk dieksploitasi.

Islam telah melarang wanita melakukan tabaruj (menampakkan perhiasannya). Dengan kata lain, tabaruj adalah hukum lain yang berbeda dengan hukum menutup aurat dan hukum wanita mengenakan kerudung dan jilbab.

Walaupun seorang wanita telah menutup aurat dan berbusana syar'i, namun tidak menutup kemungkinan ia melakukan tabaruj. Allah SWT berfirman: "Perempuan-perempuan tua yang telah berhenti haid dan kehamilan yang tidak ingin menikah lagi, tidaklah dosa atas mereka menanggalkan pakaian mereka (jilbab, red) tanpa bermaksud menampakkan perhiasannya (tabaruj).”[al-Nuur: 60]

Mafhum muwafaqah ayat ini adalah, "jika wanita-wanita tua yang telah menapouse saja dilarang melakukan tabaruj, lebih-lebih lagi wanita-wanita yang belum tua dan masih punya keinginan nikah"

Jelaslah, mempertontonkan kecantikan untuk konsumsi publik tidak diajarkan Islam. Berbusana dan berdandan dengan maksud agar terlihat cantik, modis dan trendy bukanlah tujuan seorang Muslimah. Kalaupun Muslimah tampil serasi dalam berbusana, hendaklah semata-mata diniatkan dalam rangka ibadah. Jadi, jangan mudah tergoda bius-bius dunia fashion.

________________________________________________________________

“Sampaikanlah walaupun hanya satu ayat”
Jika ikhwan wa akhwat fiLLAH meyakini adanya kebenaran di dalam tulisan dan fans page ini, serta ingin meraih amal shaleh, maka sampaikanlah kepada saudaramu yang lain. Bagikan (share) tulisan/gambar ini kepada teman-teman facebook yang lain dan mohon bantuannya untuk mengajak teman-teman anda sebanyak mungkin di KOMUNITAS RINDU SYARIAH & KHILAFAH, agar syiar kebaikan dapat LEBIH TERSEBAR LUAS DI BUMI INI....

Ending Yang Cantik


Alhamdulillah…. Saya, hingga detik ini masih dianugrahi kesehatan yang terbilang cukup baik, jarang sakit, apalagi sampai masuk rumah sakit, semoga itu tidak terjadi….. apatah lagi, biaya kesehatan di era kapitalisme ini sangatlah mahal, malahan ada slogan yang berbunyi seperti ini “ Orang Miskin dilarang Sakit!” ihhhh kasihan juga yah.... padahal mayoritas penduduk di negeri ini berada dalam garis kemiskinan, yah miskin…. Saya juga heran kenapa itu bisa terjadi padahal negeri kita amat kaya dengan SDA plus SDM. Tapi, kok bisa yah? yah jangan heran….yah..tentu saja ini akan terjadi…. Namanya juga era globalisasi yang mana mengusung ide Sekularimse- Kapitalisme.  But, disini tentunya saya tidak akan membahas hal tersebut, problem diatas itu hanya sekedar intermezzo…..^_^
Kematian? Die? siapa sih manusia yag tak kenal dengan istilah gaul satu ini… cie…cie.. gak asing lagi githu….mungkin ada yang senang ketika mendengarnya namun kebanyakan dari kita akan merasakan kesedihan or ketakutan yang teramat mendalam. Yah tentunya tergantung dari persepsi/ pemahaman kita terhadap kematian itu sendiri. Ada yang menyambut dan ada juga yang berupaya keras untuk menghindarinya.

Saya punya cerita. Ini kisah tentang seorang nenek. Umurnya sekitar 70 tahun, sang nenek menderita penyakit yang tergolong parah dan mematikan. Lucunya…setiap kali mendengar tentang obat yang kemungkinan dapat menyembuhkan penyakitanya, maka saat itupun sang nenek akan meminta kerabat or family untuk mendapatkan obat itu. Sepertinya sang nenek sangat berupaya untuk sembuh dari penyakitnya yah… iya dong, siapa tahu umur bisa diperpanjang dan kematian bisa diundur….. selama manusia mau berusaha, insya Allah kita  bisa sembuh dari penyakit yang diderita, sebagaimana sabda Rasululluh “ Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga menurunkan obatnya” (HR. Bukhari), nah… dari hadis ini mungkin sebagian dari kita akan temotivasi untuk mencari obat dari penyakit yang kita derita, bila kita yakin dengan apa yang telah kita imani yaitu Allah dan Rasul- Nya, seperti halnya yag dilakukan oleh sang nenek tadi, walaupun beliau sudah usur but..sang nenek terus berusaha untuk mengobati penyakit yang dideritanya.
Kematian adalah sebuah kepastian, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tak ada satupun manusia yang luput dari yang namanya kematian. Entah kita yang menyaksikan peristiwa tersebut, atau kita yang disaksikan.

Entahlah….. kematian, hampir tiap hari saya mengingatnya. Why? Karena ia adalah motivasi terbaik saya untuk senantiasa memperbaiki diri tuk setiap harinya. Ketika saya menghadiri acara kematian, mulai dari dimandikannnya mayit, dibungkusnya dengan kain kafan,disholatkan kemudian dikuburkan ke liang lahat, maka ada perasaan takut. Why? Sudah siapkah kita mati? Merasa cukupkah kita dengan amal yang kemudian menjadi bekal dialam berikutnya dan tentunya kita ingin ending yang baik. Yah… semoga kita menutup buku harian kita dengan baik.

Saya pun senantiasa mempersiapkan diri untuk mati, caranya dengan beribadah kepadah kepada Allah, melakukan kebaikan “ menyeruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar”, mengikuti kajian- kajian Islam, dan aktivitas positif lainnya, sehingga ketika malaikat akan menjemput kita pun akan selalu siap dan tak takut lagi, karena Insya Allah kita akan pergi dengan keadaan yang baik, khusnul khatimah.

Yah…ketika kita menginginkan ending yang cantik, tentunya kita harus melakukan hal- hal yang baik pula, ketika kita ingin meninggal dalam keadaan yang baik/ khusnul khatimah, tentunya kita harus disibukkan dengan hal- hal yang baik, beribadah kepada Allah, menuntut ilmu agama, bermajelis, dan lain- lain. Karena, kondisi kita tatkala mati adalah kondisi dimana sesuai dengan kegemaran kita. Misalkan, seorang pembalap motor, besar kemungkinan ia mati dalam kondisi kegemarannya itu, seperti kecelakaan. Begitupun orang yang senang maksiat, maka besar kemungkinan ia meninggal dalam keadaan bermaksiat kepada Allah. Orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, misalkan mendirikan sholat, maka besar kemungkinan ia meninggal dalam kondisi ia tengah sholat.
Nah, bagaimana dengan kita? Tidakkah kita ingin ending yang cantik? Yang tentunya harus kita siapkan mulai dari sekarang, memulai untuk memperbaiki diri dan segala aktivitas dan kebiasaan kita. Menyibukkan diri kita pada kegiatan yang diridhoi Allah, seperti bermajelis, mengemban dakwah, menuntut ilmu dan lain sebagainya.
Karena hidup adalah pilihan, rezeki, jodoh Allah yang menentukan begitu pun dengan ajal. But, manusia bisa mengupayakan yang terbaik dalam hidupnya selama ia mau dan berusaha meperbaiki rezeki, jodoh begitu pun dengan ajalnya. Cause Allah…. Tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum ia sendiri yang mengubah atas diri mereka sendiri. Yang artinya, kita dianjurkan tuk melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (TQS.Al Anbiyaa’ : 35)

Nah, sobat muda… saudaraku sekalian…. Kematian adalah sesuatu yang pasti. Tak bisa kita majukan dan tak bisa pula diundur, karena Allah lah yang menentukan kapan tiba masa itu. Masa dimana tak ada lagi waktu untuk melakukan amal shalih, terlebih lagi waktu untuk bermaksiat. Allah berfirman “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup”  (TQS. Thaahaa(20) : 74).  Naudzubillah min dzalik…. Semoga kita dimatikan dalam keadaan khusnul khatimah…. Jika perlu kita tersenyum menyambutnya, biarkan orang terdekat Anda menangisi kepergian Anda. Tapi jangan kita yang nangis… kita harus bahagia karena kita akan memulai kehidupan yang sebenarnya…. Sudah siap? Insya Allah

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. ( TQS. Az- Zumar(39) : 42)

Bila menginginkan kematian yang indah, cantik, menawan plus mulia… tentunya kita senantiasa taat aturan Allah, menjalankan apa- apa yang diperintahkan, dan menjauhi/ meninggalkan apa- apa yang dilarang- Nya.
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun…..


By : Aerin Nahl/ Aeriennisa Nahl Arieef
Bumi Allah, Minggu, 13 Januari 2013
Ahad, 30 Shafar 1434 H