Rabu, 06 Februari 2013

Memilih Jalan Yang Terbaik


 SEBUAH CERPEN..."Memilih Jalan Yang Terbaik"


             Hari yang sangat cerah, tepat pukul 09.00 pagi, ku gayuh sepeda buntutku menuju kampus. Segerombolan Mahasiswa berlari- lari kecil sambil berteriak, bersorak, sekeras- kerasnya. Teknik…. teknik… teknik… berpakaian serba hitam plus kain merah hitam yang direkatkan dikepala gundul para lelaki dan para wanitanya memakai kerudung hitam. Aku jadi teringat dengan suku Kajang Ammatoa’ di Kabupaten Bulukumba, yang senang menggunakan pakaian serba hitam, karena memang itulah salah satu ciri khas dan ditonjolkan mereka diantara beberapa ciri khas yang lainnya. Andai saja ada orang kajang kette’, tulen yang melihat penampilan mereka ini, pasti dikiranya mereka sedang melakukan ritual penghormatan kepada roh- roh yang menghuni alam sekitar mereka, lumayan kampus cukup rindang pasti banyak makhluk halus yang menghuni pohon- pohon raksasa disekitarnya. Cuman mata tak dapat menjamah mereka. “ Yah..iyalah, Nur…namanya juga makhluk halus”. Sahutku dalam hati sambil tersenyum sumbringah.
           Tak salah lagi mereka ini pasti adalah mahasiswa  fakultas Teknik, sama seperti diriku. Setahun yang lalu akupun melakukan dan merasakan hal yang serupa, pada masa- masa pengkaderan angkatanku . Hampir setiap pekan, tepatnya hari Sabtu atau Ahad kami yang masih berstatus MABA alias mahasiswa baru harus patuh dan taat kepada para senior yang rela datang pagi buta menuju kampus dan mereka pun siap memerintahkan kami untuk lari dan berlari mengelilingi kampus yang cukup luas ini, seolah- olah kami ini adalah robot yang remotnya di kendalikan oleh senior, memberlakukan kami seenak jidatnya, kadang ditampar pipi kanan pipi kiri, disuruh menyanyi, kengkereng, ini dan itu. Sebenarnya aku ingin memberontak dan memerdekakan diri sesegera mungkin. Namun apa daya, jika aku memberontak saat itu maka satu angkatan akan mendapatkan hukuman dan dianggap angkatan pembangkang. Aku juga kurang paham, apa dasar yang paling mendasari sehingga senior kami memperlakukan kami secara tidak berprikemanusiaan. Weleh- weleh kok malah menjelek- jelekkan senior yah? Ah …. Enggak juga sih, memang begitulah kenyatannya…he..he..he…
         Yang lalu biarlah berlalu, yang jelasnya sekarang aku tak lagi dibawah kendali para senior itu, aku juga tak begitu kenal dengan mereka. Sepertinya wajah- wajah mereka sudah te-remove dari memoriku. Aku sudah memutuskan untuk tidak ikut dan masuk dalam sistem itu, himpunan maksudku apalagi ikut untuk melestarikan kulturnya yang kurang wajar untuk diteruskan. Toh, hidup adalah sebuah pilihan. Harus berani mengambil resiko dan memilih jalan yang terbaik diantara yang kurang baik. Sekarang aku harus melakukan sesuatu diatas rata- rata sebagian orang. Yang intinya adalah…mendedikasikan diri untuk hal- hal yang positif saja. Dan segera untuk mempensiunkan diri agar tidak lagi ikut mengerjakan hal- hal yang menurutku tidak bermanfaat untuk kehidupan selanjutnya.
*       
          Dan tibalah aku ditempat tujuanku yang sesungguhnya. Ikut dalam salah satu  acara atau wadah yang menurutku sangat baik untuk diikuti. Wadah yang bisa menyalurkan bakatku dan merealisasikan salah satu impianku, yakni keinginanku tuk menjadi salah satu penulis handal. Sebutlah forum ini adalah sebuah forum kepenulisan, forum yang mengajak kita untuk bisa menulis, mengerti tulisan  dan menuliskan apa yang seharusnya dituliskan, tepatnya bercerita diatas kertas, berbagi cerita lewat tulisan, bernyanyi, berpuisi atau bahkan berpantun sekalipun. Merangkai kata demi kata menjadi sebuah paragraf dan seterusnya hingga terciptalah sebuah  karya sastra atau bahkan menciptakan buku. Baik itu cerita fiksi dan nonfiksi, yah… begitulah yang saya dapatkan, selama bergabung di forum itu. Sebuah forum yang tak asing lagi. Namun bagiku masih asing, karena memang aku baru saja bergabung, dan belum disahkan sebagai anggota. Tapi ikut berpartisipasi adalah sebuah bentuk kesyukuran untukku. Sungguh nikmat yang tak dapat aku dustakan. Berupa nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga aku bisa bergabung dengan orang- orang yang mempunyai hobi yang sama denganku. Menulis…maka kita akan dikenal banyak orang… tentunya tidak menjadikan tulisan sebagai koleksi pribadi belaka.
             Sebenarnya bukan itu yang menjadi topikku hari ini, bukan seperti itu topik yang ingin aku rangkaikan dan kubahas secara mendalam. Namun, ada yang lain. Ini tentang perasaan. Tiba- tiba aku ingin berbicara tentang perasaan. Yang akhir- akhir ini….. aneh!
            Aku melihatnya lagi, Aku menatapnya sekilas. Pasti itu dia, dia adalah sosok yang tak asing lagi bagiku. Setiap aku bertemu dengannya, seakan- akan ada angin sekilas yang menyambarku dengan lembut dan  kurasakan kesejukan dirongga- rongga dadaku. Senyumnya, membuatku merasa aneh. Entah perasaan apa yang sedang kurasakan ini. Aku berusaha menyembunyikannya. Bahkan ingin menghilangkannya dengan pasti. Namun, aku tetap saja tidak bisa.  Angin terus saja berhembus menyambar- nyambar kerudung biru langitku. Menambah rasa galau yang membuncah dirongga dadaku. Namun aku tak akan membiarkannya sampai menghunus jantungku. Biarlah hatiku dan Tuhan yang tahu.
           Aku yakin bahwa tak ada yang kebetulan didunia ini, semua telah direncankan oleh- Nya. Semua telah disusun baik sesuai kehendak- Nya. Jika dihitung- hitung tanpa sengaja dan tak terduga sudah lebih dari 5 kali aku berjumpa dengannya  dan anehnya aku menghitungnya. Dia adalah seorang ikhwan, tentu saja. Setiap bertemu  kami tak pernah berkomunikasi apalagi bertatapan lama, paling hanya sekilas namun pasti. Tapi, sebenarnya aku telah mengenalnya. Kebetulan dia pernah menjadi seniorku sewaktu SMP, itu pun aku baru tahu saat dia sudah menjadi Mahasiswa. Saat itu dia mengadakan sosialisasi atau pengenalan kampus di SMA ku 2 tahun yang lalu, dan mengapa wajahnya masih terekam baik dimemoriku, padahal biasanya aku susah mengingat wajah seseorang, apalagi melihatnya hanya sekilas. Tapi ini sungguh berbeda dari biasanya. Ada apa denganku ya Rabb…. ampuni hamba yang dhoif...
          Mengapa wajahnya begitu ramah, begitu sejuk, begitu akrab denganku. Dan hari ini aku berpapasan dengannya di koridor, bahkan dia menyapaku. Seolah- olah itu hanyalah sebuah hayalanku saja. Tapi tidak, ini benar- benar nyata. Baru kali ini dia mengajakku bicara walaupun hanya sebentar. Alhamdulillah, aku masih memegang kuat batas kewajaran itu. Aku masih bisa mengendalikan diriku dan menjaga identitas keislamanku di hadapan- Mu Ya Rabb… ketika ditanya, maka kujawab dengan seadanya. Dengan singkat namun padat, cepat.
            Aku akan berusaha menghilangkan perasaan yang aneh itu, karena sesungguhnya aku kurang yakin dengan apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku sungguh lemah jika dihadapkan dengan masalah seperti ini, dan hanya membutuhkan pertolongan dari- Mu Ya Rabb. Biarlah perasaan ini engkau saja Yang Tahu. Walaupun perasaan ini telah menghujam hatiku dan mengambil sebagian waktuku untuk menebak-nebaknya. Aku akan memaksimalkan cintaku pada- Mu, agar kudapatkan cinta yang nantinya Engkau kirimkan untukku. Sebuah perasaan yang membuatku lebih bahagia dan lebih mencintai- Mu… biarlah perasaan ini mengalir seperti air, kunikmati dengan lebih mendekatkan diri kepada- Mu, jika harus hilang perasaan aneh ini, maka ia akan hilang dengan sendirinya. Aku hanya berharap agar Engkau memberikan yang terbaik untukku.
Memilih…yah…aku harus memilih dan bersegera untuk menetapkan hati dan pendirianku. Mengokohkan semangat dan kreativitasku. Aku ingin berbeda dengan yang lain. Aku tak ingin seperti remaja kebanyakan saat ini. Nongkrong di mall- mall, di cafĂ©, rutin ke bioskop bahkan ada- ada saja mahasiswa yang hobinya nge-labbing. Clubbing? What’s wrong? Because… Bagian dari nikmat duniawi semata yang tentunya bersifat sementara. Jika memperturutkan nafsu saja, maka aku yakin pasti akan celaka. Sebaiknya aku menjauh dari hal- hal yang mungkin saja membuatku lalai.

Jika kebanyakan orang bercermin pada layar te-ve atau komputer, maka aku akan lebih banyak menggunakan waktuku untuk bercermin pada buku. Jika semua orang telah memiliki kendaraan bermesin, maka dengan senang hati ku gayuh sepedaku menuju tempat- tempat terbaik. Jika semua telah senang chatting dan mengirim surat melalui e-mail, maka aku takkan melupakan untuk sesekali menyempatkan waktuku mengirim surat lewat pos untuk sahabatku Rosmah di Padang. Apa kabarkah ia sekarang? Sudah lama aku tak berkirim- kirim surat padanya. Mudah- mudahan ukhuwah diantara kami tetap terjalin kuat. Meski jarak memisahkan kami.
*       
Zaman boleh berubah, kapal boleh berlayar hingga ke samudra. Orde lama telah berganti menjadi orde baru, reformasi hingga menjadi demokrasi yang masih tidak jelas keberadaannya, utopis! hanya Ilusi!!! Demokrasi itu cacat. Namun jangan sampai hal tersebut membawaku kepada sesuatu yang bukan menjadi tujuan hidupku.
Hari ini juga, jam ini, detik ini…. Aku ingin memaksimalkan hidupku hanya untuk kebaikan, tak lagi membuang waktu untuk sekedar memikirkan perasaan yang masih samar- samar. Namun, aku ingin mengabdikan hidup- ku untuk mencapai keridhoan- Nya. Berada pada jalan yang lurus.
Suatu saat nanti, Tuhan akan mempertemukanku dengan orang- orang yang jauh lebih baik, dengan berbagai pengalaman yang lebih menyenangkan. Life is adventure… life is choice...Bila niatan sudah bulat, maka insya Allah…semua akan diloloskan- Nya. Jika Tuhan sudah berkehendak. Maka…qunn faa ya qun… maka jadilah.
*       

Bumi Allah, 28 Februari 2011

SEBUAH CERPEN "SITTI KHONISAH"


SITTI KHONISAH

           Karya; ( Aerin Nahl )
           Dia tinggi semampai, kulitnya bersih tanpa noda, matanya bersinar, bulat, bening. Siapa saja yang melihatnya takkan bosan, akan selau merindukan bola matanya yang bak mutiara hitam. Dia tak butuh produk pelangsing untuk memperindah tubuhnya ataupun alat kecantikan, karena memang sudah terlahir dengan tubuh yang perffect- lah dan wajah yang cantik di mataku.
           Sungguh sempurna sosok wanita yang satu ini. Selain fisik yang indah, ia juga memilki akhlak yang tak kalah indahnya. Wajahnya selalu dihiasi dengan senyuman manis, semanis madu plus lesung pipi. Tuturnya penuh dengan kerendahan dan kesopanan. Dia takkan berkata “ iyo”(1) tapi selalu berkata “ iye”. Dia adalah wanita Bugis asli yang sangat mengerti tatakrama yang pernah kutemui selama hidup. Dan tak lupa aku sebutkan. Dia adalah wanita yang menutup auratnya dengan sempurna, menutupi fisik yang ku anggap sempurna itu. Kepalanya ia balut dengan kerudung hingga menutupi dadanya. Dan ia julurkan Jilbab/gamis keseluruh tubuhnya. Yang nampak hanyalah wajahnya yang berseri bak Bidadari dan tangannya yang halus bak kain sutera. Kurasa dia lah wanita idaman kaum Adam. Wanita yang dirindukan Surga.
***
            Ketiga temanku tengah asyik bercerita. Ada Jenab, Vinki dan juga Ude. Entah apa yang sedang mereka ceritakan, sepertinya tak bisa kusadap barang sekata pun. Apakah karena musik jazz yang sengaja aku besarkan volumenya. Sedangkan aku hanya terdiam menjalankan si Avanza ketempat tujuan.
            Akhirnya kami berempat tiba di sebuah tempat yang sangat indah. Sebuah pemandangan yang sangat menawan. Menjadikan hati yang gersang menjadi bening sebening embun di pagi hari. Kembali aku melamun. Temanku berlarian menuju sebuah danau yang airnya tak sebening permata. Tapi, biru kehijauan. Menandakan danau itu sangatlah dalam.
            Ketiga temanku terus berlari, berlari seperti bocah mengejar layang- layang putus. Hingga mereka tiba ditepi danau. Dan melompat. Melompat? Ujarku seketika. Mereka telah melompat kedasar danau itu. Danau yang tak ku tahu danau apa namanya. Ketiga temanku menghilang bak tertelam pusaran air, hitam dan gelap. Tak berapa lama kemudian mereka bertiga muncul. Kulihat sebagian tubuhnya telah berubah. Berubah menjadi ikan. Apakah mereka terkena kutukan atau semacamnya? Lantas mengapa mereka tiba- tiba berubah menjadi makhluk yang aneh. apakah mereka putri Duyung seperti dalam cerita dongeng sebelum tidur, yang acapkali ibu bacakan untukku menjelang tidur lelapku? Oh…tidakkkk… aku berteriak sejadi- jadinya. Tapi sama sekali tak ada orang yang mendengarku. Aku seperti orang bisu. Pita suaraku seakan terputus. Aku hilang…
             “Agghh….” Aku terjatuh menimpahi guling yang lebih dulu terjatuh ke lantai keramik. Ternyata aku bermimpi, melihat diriku bersama teman- teman semasa SMA ku. Lagi- lagi mimpi yang aneh. Mimpi tak berlogika. Dan lagi- lagi suara adzan yang membangunkanku dari tidur panjang yang cukup lelap.
              “Allahu Akbar…. Allahu Akbar….” Terdengar suara Adzan yang berasal dari surau dekat rumah kontrakanku, setiap subuh. Dengan suara Mu’adzin yang sama. Aku tahu, pasti hanya kaset yang diputar di surau itu. Suara adzan ala Saudi Arabia. Suara ini juga biasa aku dengar di salah satu stasiun TV swasta. Suara Adzan yang tak pernah bosan mengingatkanku untuk Sholat, meninggalkan aktivitas duniaku. Beribadah kepada Sang Pencipta.
***
                Inilah aku. Aku adalah seorang mahasiswa yang berpisah jauh dari kedua orangtuaku di sebuah desa, dengan pulau yang berbeda. Mereka menetap di Kalimantan sedangkan aku di kaki Sulawesi. Tepatnya di Makassar, tempat dimana terdapat banyak pedagang “pisang ngepe”. Ada pantai Losari tempat melabuhkan cinta dua insan. Ciee…sok romantis. Terdapat banyak penjual minyak Tawon di Jalan Sulawesi, sirup Markisa dan makanan khasnya seperti Coto dan Konro yang mantap pisan euy…! Sungguh, ada banyak hal yang aku temui di kota ini. Termasuk Sitti Khonisah. Seorang teman. Seorang sahabat. Juga saudara seimanku. Hampir setahun ukhuwah terjalin kuat diantara kami. Antara aku dan Nisa. Masih saja sangat berbeda.
              Dia lah wanita mulia itu. Wanita yang penuh dengan kelebihan, kelembutan dan kasih sayang. Wanita yang menyeka air mataku saat ku sedih, saat ku rindu dengan ayah ibuku. Wanita yang mengajariku bagaimana menatap kehidupan ini. Dan wanita yang membuatku meninggalkkan keyakinanku yang selalu meragukanku. Dan memilih untuk menjadi seorang muallaf. Delapan bulan yang lalu, dan sebenarnya aku memang krisis keyakinan sejak itu, sejak dulu, sejak kecil malah. Seperti tak memiliki keyakinan, aku tak pernah yakin dengan Tuhanku saat itu. Dihatiku, kenapa manusia bisa menciptakan menusia? Apakah benar Tuhan itu berwujud manusia? Kenapa harus disembah? Ah… sungguh ada banyak kata “Kenapa” dibenakku. Dan Nisa lah yang membuatku menemukan sebuah ketentraman hati, jati diri dan sebuah pemahaman, kebenaran yang tak pernah terbantahkan. Aku telah bersyahadat di depannya dan didepan seorang Ustadz Abdul Rahman. Imam Masjid di kampus kami.
              Awalnya kedua orang tuaku tidak setuju, aku kira mereka takkan lagi menganggapku sabagai anaknya. Tapi, lama- kelamaan seiring berjalannya waktu, setelah Nisa menjelaskan sesuatu kepada ibuku via telepon, pada bulan Mei lalu. Entah apa yang dipaparkan Nisa kepada ibuku saat itu. Aku juga tak pernah tahu, karena memang tak pernah bertanya kepadanya. Itulah Nisa. Ia sangat mengerti perasaan seorang wanita. Ia lebih memilih berbicara dengan ibuku dari pada ayahku, padahal ibuku seorang katolik fanatik sedangkan ayahku biasa saja dalam memaknai sebuah keyakinannya. Dan yang membuatku kagum kepadanya. Karena Nisa berhasil merobohkan keegoisan itu. Keegoisan kedua orang tuaku. Keegoisan karena tak ingin mendengarkan alasanku untuk berpindah keyakinan.
             Ya, diawal tahun baru Hijriyah… disaat hujan lebat. Disaat drainase tak  sanggup lagi menampung air hujan. Disaat kicauan burung tak terdengar lagi. Disaat aku benar- benar yakin seyakin- yakinnya. Kusampaikan keinginanku untuk berpindah keyakinan kepada Nisa. Sitti Khonisah sang Hafidzah. Kupanggil ia dengan Nisa saja.
“Apakah Elis ikhlas?” Tanya Nisa dengan senyuman meyakinkan.
“Ikhlas? Maksudmu apakah aku benar- benar ingin memeluk agama ini? Insya Allah…” Jawabku. Kuucapkan sebuah kalimat yang tak asing lagi dikalangan orang Muslim. Sebuah kata yang juga sering diucapkan Nisa. Dan tiba- tiba ucapan itu meluncur begitu saja dari mulutku dengan lancarnya. Sempat ku tangkap raut muka Nisa. Sepertinya ia terkejut mendengarkan ucapanku itu. Insya Allah… walaupun saat itu aku tak mengerti artinya apa. Tapi, batinku serasa sejuk melafazdkannya. Aku sedikit bergetar dan takut. Hujan pun turun semakin lebatnya. Aku membisu. Suasana semakin mencekam. Gelap. Matahari tak nampak lagi, berselimutkan awan hitam.
             “Datanglah besok ketempat itu.” Ucap Nisa sambil menunjuk ke arah sebuah bangunan, tempat yang ku anggap sebagai gua pertapaannya. Ya… Masjid. Sebuah tempat peribadatan, tempat mencurahkan perasaan dengan Tuhan. Tempat yang sering dikunjungi orang- orang yang bertaqwa. Menurutku. Dan sungguh aku kagum akan hal ini. Aku sering membayangkan diriku bagian dari bangunan artistik itu. Bangunan yang sangat kontras dengan gaya timur tengahnya.
***
               Aku saat ini, adalah seorang muslimah. Nisa mulai mengajariku banyak hal tentang agamanya, juga agamaku. Baca tulis al- Quran, bahkan mulai menghapal beberapa surah Juz Amma. Awalnya aku sangat kesulitan. Aku terbata- bata, lidahku seakan terlilit. Tapi, Nisa pantang menyerah mengajariku ini dan itu. Bagaimana cara mensucikan diri selepas menstruasi, cara berwudhu, sholat, puasa, menutup aurat dengan baik dan benar. Semua diajarkan Nisa. Rukun iman, rukun Islam, bahkan cara makan pun diajarkan, sepertinya ia tak ingin melewatkan moment keIslamanku. Keinginanku untuk mempelajari agama ini lebih dalam lagi. Nisa pernah berkata, “Untuk melihat bagaimana Islam itu, maka jangan lihat siapa penganutnya, tapi lihatlah apa yang diajarakannya, bacalah kitabnya”. Tapi, bagiku melihat dan mengenal Nisa, sudah cukup untuk mengenal Islam. Dia lah  yang mengetuk hatiku. Tingkah lakunya yang menggerakkanku. Dia begitu taat dan terbuka dengan sesama manusia. Tak pandang bulu. Tak pandang manusia dari kalangan mana yang ia temui. Nisa adalah seorang Muslimah yang senang menebar salam. Aku senang ia menyapaku dengan ucapan,
 Assalamu’alaikum ya ukhti….”
Waalaikum salam…..” Jawaban ini adalah doa. Nisa lah yang menjelaskan maksud dari sebuah salam ternyata sebuah doa dan tentunya memperkuat tali silaturahmi.
Sungguh… aku makin jatuh cinta dengan Islam.. dan sangat berterima kasih dengan Sitti Khonisah karena telah membantuku untuk lebih jauh mengenal Islam dengan baik dan benar.. sehingga diriku bukanlah seorang Muslimah simelekete… but, be a trua Muslimah and make me proud…anaa uhibbukifillah ya ukhti^_^ coz, Allah azza wa jalla
Catatan kaki;
1)      Iyo” atau “iye”= iya.

Bumi Allah, 3 Muharrom 1432 H
Makassar, 9 Desember 2010

Selasa, 05 Februari 2013

Cinta Dakwah


Cinta Dakwah

By: Aerin Nahl

Bertandang di tanah- Mu...
sungguh... kita memiliki kewajiban besar
kewajiban yang mesti kedepankan
menebar benih kebaikan melalui lisan dan pena
membasahi bibir dengan kalimah tauhid
menggores tinta hitam bertaburkan keteduhan yang menenangkan jiwa

Ada rasa letih, mesti dicampakkan
ada rasa sedih, diobati dengan tangisan
menyemai janji kesetiaan
merona jiwa yang tersentuh manisnya dakwah
pahitnya jika ucap tak didengar

Oh... inilah dakwah yang diemban
kepada kebenaran walaupun terkadang menyakitkan
kepada kebaikan dengan kucuran keringat dan air mata

Jika itu cinta, tak ada kata tapi!
melangkah meski tertatih- tatih

Jika itu Cinta, tak ada kata nanti- nanti
buktikan dengan taqwa
dan itulah hibbuh dakwah...

Problem of Ummah..... Open Your eyes, open your mine... WAKE UP!!!

Problem of Ummah..... Open Your eyes, open your mine... WAKE UP!!!
By: Aerin Nahl



Apa yang menimpa negeri dan dunia ini bukanlah masalah yang sederhana... bukan masalah sepele.....l terutama yang menimpa kaum muslimin di seluruh penjuru dunia... di belahan Bumi yang lain, negeri2 timur tengah ( Palestine, Suriah, Afganistan, dll ) tengah ditimpah musibah yang disebabkan oleh ulah tangan2 pemerintah mereka sendiri, pemerintah yang mendzolimi rakyatnya sendiri, mereka di bantai, wanita- wanita di diperkosa, anak2 dan orang tua dibunuh, mereka di bakar, di bom, ditembak, digantung, dikubur hidup-hidup, sungguh ada begitu bayak penyiksaan yang mereka terima.... rakyat sipil maupun para mujahidin yg siap berjuang dan syahid.... mereka rela mati demi aqidah mereka, mereka mati karena menentang sistem/ idiologi kufur, mereka mati karena tdk ingin berada dibawah ketiak dan penjajahan Israel dan AS, mereka sungguh rela mati....... demi ALLAH dan Rasul- Nya....

Wake up yaa Ahlul sunnah..... where are you???
muslim Indonesia, malaysia...... where are you ummah.... 1,6 million muslim in the world...., BUT where.. dimanakah kekuatan itu? kapankah kita bangkit!!!
inikah kita, seperti buih di lautan...
kita terpisah
kita saling berjauhan, dibatasi jurang teritorial
dibatasi oleh sekat, benteng nasionalisme...
kalian lebih senang menikmati Demokrasi disini.... hidup berleha- leha tanpa memperjuangkan sesuatu yang pasti!
merasa hidup kalian nyaman, damai, sentosa....
pernahkah terbesik dalam benak kalian....dalam lubuk hati kalian
tentang kehidupan mereka.... tentang masa depan mereka... dan juga KITA....
Apakah penyakit individualisme telah menimpah kalian? kalian sibuk dengan dunia, hanya sibuk mengejar prestasi dunia, sibuk mengejar materi.... sibuk mengejar tahta...wanita...dan juga mengumpulkan harta sebanyak mungkin...sudah cinta dunia dan takut mati kah kalian??? al wahn.... naudzubillah....

Dan bisa kah kita mempertanggung jawabkan itu semua, kelak dihadapan Allah...
Allah akan bertanya... dimanakah kita saat saudara kita mengalami penyiksaan l setidaknya kita memikirkan mereka, berdoa untuk mereka, dan berusaha mencari solusi.... memecahkan masalah kaum muslimin hanya dengan SYARIAH dan KHILAFAH..... apakah yang telah kita perbuat untuk bangkitnya ummat!!! agar Syariah dan Khilafah segera tegak kembali.... sungguh... ini tidaklah mudah dan sesederhana yg kalian pikirkan, butuh perjuangan ekstra....sebuah keniscayaan yang harus kita tebus dengan berkorban waktu, pikiran, harta/materi, keringat, tetesan air mata bahkan tetesan darah sekalipun... dan juga nyawa.... tak ada yang sia- sia...coz Allah azza wa jalla...

Dilain sisi.... sekularisme melanda warga negeri ini!!! mereka ini justru sungguh liberal...

Sebentar lagi 14 Februari, kebanyakan muslim indonesia akan sibuk dengan hari itu, seakan- akan hari valentine adalah hari raya mereka.... mereka akan sibuk mempersiapkan kado untuk orang terkasih...benarkah??? mereka sibuk menyiapkan diri untuk mndapatkan pujaan hati, menaklukkan wanita... dan para wanita pun akan sibuk berdandan ria,mencari fashion terbaru, yg up to date deh pokoknya, mereka senang dipuji kecantikannya... mereka tereksploitasi kecantikannya!!! bahkan direnggut kesuciannya... dihari itu, Kondom laris manis (akan ada pesta seks bebas di hari itu), coklat2 impor jg akan laris manis, boneka2 jg, serta assecoris lainnya... siapakah yg kita untungkah saudaraku??? disisi lain mereka para pelaku kapital diuntungkan secara materi, dan mereka jg beruntung karena merasa berhasil menyuntikkan budaya kufur mereka... mereka musuh2 Allah akan merasa berbahagia....mereka senang.....mereka merasa berhasil dengan makar2 mereka!!! sedangkan kita??? apa yang akan anda terima duhai saudaraku, kalian hnya mendapatkan kenikmatan sementara sebagaimana mereka.... hanya kenikmatan duniawi saja.... apa yang akan anda katakan dihadapan Allah? waktu kalian habiskan untuk hal2 apa saja? hidup kalian... akankah kalian maksimal beribadah hnya kepada Allah.... ataukah kalian menyembah berhala2 moderen... seperti sekularisme!!!

Sungguh permasalahn ini bukanlah masalah sederhana... bukan hanya masalah rusaknya aqidah umat Islam.. melainkan ada hal besar yang menyebabkan aqidah mereka rusak.... itulah yang kita sebut dengan SISTEM yang rusak, sistem kufur KAPITALISME- SEKULARISME- LIBERALISME- DEMOKRASI... sistem inilah yang kemudian menyebabkan aqidah mereka rusak dan tergadaikan.... ini bukan masalah sepele... sudah sangat sistemik dan terorganisir... mereka musuh2 Allah... tidak akan diam melihat jumlah kaum muslimin yang terus bertambah... ibaratkan mereka tdk pernah tidur demi memikirkan kehancuran kaum Muslimin di penjuru dunia.... mereka melakukan pelbagai macam cara, menyuntikkan pemahaman/ idiologi kufur, perang melalui Food, Fashion, Fun, Song, Sport, Shopping, Life Style... dll... terutama untuk muslimin indonesia yang jumlahnya sangat banyak l inilah perang budaya,,, hadharah.... peradaban kufur ala barat yang kemudian diadopsi, disenangi, digandrungi....

Pacaran, seks bebas, narkoba, miras, pornografi, pornoaksi, korupsi, kolusi, kriminalitas.... semua ini hanyalah segelintir buah dari sistem yang bobrok, disamping banyakanya kerusakan dan kemaksiatan yang terjadi.... sistem yang sangat bertentangan dengan Islam.... sebagai umat Islam, layakkah kita untuk tetap berkutat dan menikmati sistem ini???

Katakan tidak pada Sistem kufur!!!

Kinilah saatnya kita bangkit dari keterpurukan, melalui perang pemikiran, melawan musuh- musuh Allah dengan idiologi Islam semata....

Ayo bangkit... lawan arus.... lawan sistem kufur dengan sistem Islam.... hanya dengan Islam kehidupan akan menjadi baik....hanya dengan Islam kehidupan kita menjadi mulia, mari kita obati penyakit dunia ini hanya dengan Islam... bergabunglah bersama para pejuang Syariah dan Khilafah..... dengan demikian kita akan menjadi lebih kuat... bergerak secara berjamaah, bergabunglah dan berjuanglah... sebagaimana yg telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat beliau...... hanya dengan berpengang teguh terhadap Quran dan Sunnah kita bisa selamat, hanya dengan mengikuti metode dakwah Rasulullah kita bisa berhasil menegakkan Syariah dan Khilafah...
Yakinlah.....karena ini janji Allah dan Bisyarah Rasululllah... kemenangan pasti berada ditangan kaum Muslimin... bila kita mau bersatu dan berjuang berama- sama.

Ayo Bangkit... tegakkan Syariah dan Khilafah.....

ALLAHU AKBAR!!!


Bumi Allah,  5 Februari 2013