Jumat, 03 Agustus 2012

SURAT PUTUS!!! PUTUSIN PACARMU SEBELUM TELAT


Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Alhamdulillahi syukron, syukur pada Allah SWT yang masih mengaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbarui taubat kita. Akhi (Red. Wahai saudara laki-laki ku), rasanya aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik darimu. Yang Tak Pernah Mengantuk dan Tak Pernah Tidur. 


Kekasih Yang siap terus menerus Memperhatikan dan Mengurusku. Yang selalu bersedia berduaan di sepertiga terakhir malamku. Yang siap Memberi apapun yang kupinta. Ia yang Bertahta, Berkuasa, dan Memiliki Segalanya.


Maaf Akhi, tapi menurutku kau bukan apa-apa dibanding Dia. Kau sangat lemah, kecil dan kerdil di hadapan- Nya. Dan, akhi, aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuat- Nya murka. Padahal Ia, Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya.


Akhi (Red. Wahai saudara laki-laki ku), belum terlambat untuk bertaubat. Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan oleh- Nya. Ia bisa marah, akhi. Marah tentang saling pandang yang kita lakukan, marah karena setitik sentuhan kulit kita (Red. Pegangan tangan, sengaja berdekat-dekatan hingga kulit mereka menempel) yang belum halal itu, marah karena suatu ketika dengan terpaksa akhi harus membonceng ku dengan motormu.


Ia akan marah tentang lamunanku yang selalu membayangkan wajahmu dietiap saat, marah Karena kita seringkali berpelukan dan ciuman, walaupun hanya sebatas cium pipi dan kening, Ia bisa marah Akhi (Red. Wahai saudara laki-laki ku). Tapi, sekali lagi semua belum terlambat. Kalau kita memutuskan hubungan ini (Red. Hubungan Pacaran) sekarang.


Semoga Ia mau Memaafkan dan Mengampuni kita. Akhi, Ia Maha Pengampun, Maha Pemberi Maaf, Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang, Maha Bijaksana. Akhi, jangan marah ya. Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan cinta sejatiku pada-Nya, tidak pada selain-Nya. Akhi (Red. Wahai saudara laki-laki ku), apa yang pernah kita lakukan selama pacaran, belumlah halal dihadapan- NYa sebelum kita menikah. 


Akhi, tapi tak cuma aku. Kau pun bisa menjadi kekasihNya, kekasih yang amat dicintai dan dimuliakan. Caranya satu, kita harus jauhi semua larangan-laranganNya termasuk dalam soal hubungan kita ini (Red. Pacaran). Insya Allah, Dia punya rencana indah untuk masa depan kita masing-masing. 


Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri dari hal-hal yang dibenci- Nya, kau pasti akan dipertemukan dengan seorang wanita shalihah, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Ya, wanita shalihah yang pasti jauh lebih baik dari diriku saat ini. Ia yang akan membantumu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridha Allah SWT dalam ikatan pernikahan yang suci. Inilah doaku untukmu, semoga kaupun mendoakanku, akhi.


Akhi, aku akan segera menghapus namamu dari memori masa lalu yang salah arah ini (Red. Pacaran). Tapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudara di jalan Allah SWT. Ya, saudara di jalan Ilahi Robbi, akhi. Itulah ikatan terbaik selama kita belum menjadi suami Isteri yang sah dalam ikatan pernikahan yang suci. Insya Allah itulah yang akan mempertemukan kita dalam nikmat dan indahnya Surga Ilahi Robbi


Maaf akhi (Red. Wahai saudara laki-laki ku), tak baik rasanya aku berlama-lama menulis surat ini. Aku takut ini merusak hati. Goresan pena terakhirku di surat ini adalah doa keselamatan dunia akhirat sekaligus tanda akhir dari hubungan haram kita (Red. Pacaran), Insya Allah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.


Demikianlah isi surat yang dihadiahkan oleh Salim A. Fillah untuk kita yang saya kutip dari bukunya yang berjudul ”Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan”. 


Apa kabar wahai Sobat yang tak kenal lelah menuntut ilmu dijalan Ilahi Robbi? Lama kita tak jumpa. Semoga Ilahi Robbi senantiasa melimpahkan Rahmat, Barokah, Nikmat Kesehatan dan Kecukupan dalam hidup kita. Aamiin..


Alhamdulillah artikel ini dapat Gw bagi untuk Sahabat-sahabat sebagai bentuk kecintaan Gw pada kalian karena Allah SWT. Pada kesempatan kali ini juga, harapan Gw, semoga Allah SWT menjaga keistiqomahan Gw dan Sahabat-sahabat dalam memerangi Pacaran, Untuk mengatakan, “Pacaran NO, Nikah Yes”.


Semoga bermanfaat bagi kita … Insya Allah..

Hanya Ayah & Ulya


“ Hanya Ada Ayah dan Ulya”

Karya; Arini Arief
      “Embe...embe…embe...he..he...” Embikan kambing dibelakang rumah, tiba- tiba membuyarkan konsentrasi Ulya yang tengah asyik membaca sebuah puisi karya D Zawawi Imron yang ia pegang, sambil duduk dipinggir jendela yang sengaja ia buka lebar- lebar. Ibu..!Judul puisi itu. Dan banyak lagi puisi berjudul “ IBU”  yang ia koleksi dan dihapalnya diluar kepala. Puisi yang amat membekas dihati Ulya. Puisi yang dibawa Ulya kemanapun ia pergi. Puisi yang dibaca Ulya ketika rindu kepada sosok ibunya.
           Itulah Ulya, seorang gadis yang beranjak  dewasa, senang dan hobi membaca puisi tatkala ia sedang sedih, gundah, lara, kesepian. Kadang ia mengeluarkan  air mata saat membacakan puisi, saking dalamnya cinta, penghayatan dan kepekaan hati seorang Ulya terhadap puisi. Karena Ulya adalah gadis yang lemah lembut namun tegar, selalu tersenyum, anggun pula perangainya. Orang takkan bosan menatap wajahnya.
         Pagi ini, Ulya menghabiskan waktunya dikamar saja. Duduk menekuk lututnya di jendela kamarnya. Jendela yang jaraknya cukup dekat dimana kambing itu berada, kambing yang telah merusak konsentrasinya. Setiap matahari terbit, ketika Ulya membuka jendelanya selalu disuguhi pemandangan indah mahakarya Tuhan. Ada sawah, bukit, kebun karet, sungai, ternak dan para petani yang siap bekerja seharian diladang- ladang mereka. Perpaduan yang indah dimata bening Ulya.
***
     “Ya’… Aya..” Suara itu, suara yang memanggil Ulya. Ayahnya sedang memanggil sembari mengetuk- ngetuk pintu kamarnya dengan pelan.
      “Sarapan dulu, Nak” ucap ayahnya sekali lagi.
      “Iya Ayah, sebentar lagi…” Ulya pun segera melompat dari jendela, meletakkan buku kumpulan puisi pemberian ayahnya setahun yang lalu, dihari ulang tahunnya. Kerena, orang yang paling mengerti Ulya adalah Ayahnya seorang. Ayahnya tahu Ulya senang dengan puisi, senang mencipta dan membacakan puisi.  Ayah adalah juri setia disaat Ulya membacakan puisi- puisinya.
          Pria yang tak lagi muda ini, sangat mencintai anugrah Tuhan yang diberikan untukknya, Ulya. Seorang anak perempuan yang lahir dari rahim wanita yang amat ia cintai. Ulya 17 tahun silam, adalah seorang bayi mungil tanpa kehadiran seorang ibu disisinya. Menyusui dan membelai rambutnya yang subur dan menyentuh kulitnya yang lembut, putih bersih bak mutiara. Ibu yang hamil tua mengandungnya selama hampir sepuluh bulan telah menghembuskan nafas terakhir saat Ulya terlahirkan ke dunia ini. Ibunya mengalami pendarahan hebat dan tak tertolong lagi. Bidan yang tak lain adalah tetangganya sendiri tak tahu harus berbuat apalagi, sang bidan bercucuran keringat, tak berkedip sekali pun saat proses persalinan, ia takut terjadi kesalahan sedikitpun. Akan tetapi, semua sudah menjadi kehendak Tuhan. Semua adalah takdir, takdir yang tak terlolak, takdir yang mengharuskan Ulya berpisah dengan ibunya untuk selamanya.
        Ayah Ulya, lelaki yang sangat baik dan sabar telah merawat dan membesarkan Ulya seorang diri. Walaupun ia mengalami banyak kerepotan bahkan lelah, tapi ia bahagia. Bagaimana seandainya Ulya ikut bersama ibunya, tentu ia akan seorang diri. Ia bahagia karena masih ada Ulya disisinya, Ulya akan menjadi pelipur laranya. Tujuh belas tahun sudah, ia melihat banyak kemiripan antara Ulya dengan ibunya, sangat mirip malah, dan itulah yang membuatnya semakin sayang dengan anak semata wayangnya. Salah satu kemiripan antara Ulya dengan ibunya adalah mereka sama- sama menyukai puisi, membaca dan mencipta sajak- sajak indah yang sering ia dengarkan dari bibir merah istrinya. Tapi, ayah Ulya tak pernah menceritakan hal tersebut kepada Ulya. Dan sama sekali tak ingin menceritakannya. Walaupun beberapa kali Ulya meminta untuk diceritakan tentang sosok ibunya, apa yang disukai dan tidak disukai oleh ibunya. Semua itu seringkali ditanyakan Ulya. Disaat Ulya berumur lima tahun, hampir setiap hari Ulya menanyakan Ibunya. Dimana ibunya. Siapa ibunya. Apakah ibunya baik, cerdas dan cantik seperti bidadari di surga? Dan banyak lagi serentetan pertanyaan yang Ulya lontarkan kepada sang ayah semasa ia kanak- kanak. Dengan lugu, polos dan gaya cedelnya yang khas. Ulya hanya dapat menatap dan mencium wajah ibunya dikertas foto, yang sengaja ia selipkan didalam buku kumpulan puisinya agar ia dapat menatap wajah ibunya dimana pun dan kapan pun.
          Pria yang mulai beruban ini tak ingin membenarkan mitos yang berbunyi seperti ini, jika anak mirip ibu atau ayahnya maka sang ibu atau ayah akan meninggal. Mitos ini sudah melekat kuat ditanah kelahirannya. Mungkin jika diadakan survey, mitos ini akan menjadi sebuah pembenaran karena hampir seluruh penghuni di kampung halamannya percaya akan hal ini. Ayah Ulya sama sekali tak mempercayainya. Pasalnya, pria yang taat beribadah ini hanya percaya kepada kehendak Tuhan. Dia hanya percaya kepada Allah semata, karena Allah- lah yang paling berwenang atas nyawa perempuan yang amat disayangnya itu, jika hidup maka itu adalah kebahagiaan dan jika mati maka itu juga adalah sebuah kebahagiaan. Istrinya baik dan taat kepadanya dan tentunya kepada Allah. Ia merasa Tuhan amat sayang kepada isrtinya itu, makanya Tuhan memanggilnya lebih dulu. Itulah yang diyakini ayah Ulya selama bertahun- tahun.
          Tapi kini Ulya telah beranjak dewasa. Usianya sudah menginjak 17, berarti Ulya semakin matang dan siap untuk mendengarkan segalanya. Apakah ayahnya masih enggan untuk menceritakan segalanya? Yang ia lihat Ulya adalah anak yang baik dan penurut, ia merasa Ulya akan paham. Tapi, ia tak ingin mengungkit- ungkit masa lalu. Masa lalu yang menyedihkan itu, ketika ia mencintai seorang gadis yang tak disukai oleh kedua orangtuanya. Ketika ia diusir karena nekat meminang seorang gadis miskin yang tak jelas siapa keluarganya. Sedangkan ia adalah keturunan “ Andi” atau “ Karaeng”1). Karena, ibu Ulya adalah seorang santriwati, biasa dan yatim piatu yang mondok di pesantren, diasuh dan dibesarkan di pesantren nan jauh di pelosok desa.
         Pertemuannya dengan gadis berkerudung itu bermula, ketika pemuda ini mengalami kecelakaan hebat tepat didepan pesantren. Sebelum benar- benar tak sadarkan diri, ia sempat melihat sosok wanita yang bercahaya bak bidadari. Ia merasa dirinya tengah berada di dunia lain. Mungkinkah ini kehidupan akhirat? Tanyanya dalam hati. Kemudian ia pun tak sadarkan diri.
Sang pemuda telah siuman, ia meraskan sakit disekujur tubuhnya, terutama dibagian kepala. Ia lalu memegang kepalanya yang telah dibungkus dengan perban berwarna coklat. Ia mendapati dirinya telah terbaring di ruang ICU rumah sakit. Ia berusaha mengeluarkan kata- kata dari mulutnya namun tak sanggup. Sebenarnya ia ingin bertanya kepada seorang suster yang berada tepat disampingnya. Kenapa ia berada ditempat ini? Siapa yang membawanya? Iya pun menuliskannya pada secarik kertas yang telah disediakan diatas meja persegi disamping kanannya.
      “Tadi, ada beberapa orang yang mengantarkanmu kerumah sakit, dan mereka telah pergi. Pihak rumah sakit telah menghubungi keluargamu, katanya sebentar lagi mereka akan tiba” Terang suster yang sedang menyuntikkan cairan kedalam infus yang tergantung pada sebuah tiang besi  bercat putih disampingnya.
***

          Seminggu berlalu, setelah kecelakaan itu. Didekat jendela, pemuda itu menopang dagunya, seakan sedang menikmati keramaian dibawah sana. Lalu lalang para suster di koridor rumah sakit. Pasien dengan kursi rodanya, dokter dengan perkakasnya, dan para penjenguk pasien rumah sakit dengan aneka bawaan ditangannya.
     “Tok…tok…tok..,Assalamu’alikum?” terdengar suara dari balik pintu.
     Waalaikum salam… masuk!” Jawab sang pemuda sambil mempersilahkan orang yang tak ia tahu siapa. Tiba- tiba dari balik pintu itu, muncullah dua gadis berkerudung biru langit, yang satunya memegang keranjang dengan susunan buah didalamnya ada jeruk, apel, anggur serta pir. Dan yang satunya lagi membawa sebuah tas ransel berwarna hitam. Tas pemuda itu. Tas yang terlempar saat kecelakaan itu terjadi. Wanita yang tengah memegang tas ranselnya, tepat disampingnya adalah wanita yang ia lihat terakhir kali dimana kejadian itu terjadi. Saat itulah ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam hidupnya. Ia telah jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama.
          Sebulan di rumah sakit. Akhirnya sang pemuda beraktivitas seperti sediakala. Kuliah, kerja tugas dan lain sebagainya. Pemuda tersebut masih terdaftar sebagai mahasiswa semester tiga. Dan gadis yang ia cintai itu masih sederajat SMA di pesantren. Si pemuda benar- benar jatuh hati. Perempuan itu seringkali hadir dalam mimpinya. Ia semakin yakin. Yakin bahwa santriwati itu adalah belahan jiwanya. Saat di rumah sakit, ia bertanya banyak, ia melontarkan pertanyaan demi pertanyaan. Siapakah nama ade’? dimanaki’ tinggal? Dan banyak lagi yang ditanyakan pemuda itu.
        Saat semester lima, ia pun berusaha meyakinkan kedua orang tuanya. Meminta agar kedua orang tuanya berkenan untuk melamar gadis itu untuknya. Tapi, sayang beribu sayang. Mungkin ini adalah bentuk kasih sayang ayah dan ibunya. Pasti menginginkan yang terbaik untuknya. Dianalogikan bahwa sejatinya keturunan darah biru harus menikah dengan orang yang terpandang alias orang kaya raya. Mungkin menjadi impian kedua orang tuanya. Tapi, apa boleh buat, jika anak sedang jatuh cinta, apapun bisa dihadangnya. Meski harus menentang keinginan kedua orang tuanya. Saat itulah ia tak lagi mengijakkan kaki di istananya yang megah. Ia telah pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Ia telah meminang gadisnya. Dan anehnya sang gadis langsung menerima lamarannya dan mereka pun menikah di pesantren, disaksikan oleh para penghuni pesantren.
***
Diatas meja makan telah tersedia nasi campur, susu coklat buatan sang Ayah. Aromanya menyeruak keseluruh ruangan. Wanginya bawang goreng merasuk kerongga- rongga hidung Ulya.
      “Ayah… sebelumnya Ulya ingin minta maaf” Ulya membuka pembicaraan. Mereka saling berhadapan dan bertatapan. Kemudian Ulya menunduk.
     “Ada apa, Nak? Kenapa harus minta maaf…” Jawab Ayah sambil menuangkan air kedalam gelas Ulya.
     “Ayah… sebulan yang lalu aku mengeledahi lemari Ayah, dan kutemukan sebuah kotak yang isinya telah menjawab semua pertanyaan Ulya selama ini, sebuah diari kecil, surat dan selembaran- selembaran kertas berisikan puisi, Ayah… mohon maafkan Ulya” terang Ulya sambil meneteskan air mata penyesalan karena telah lancang menggeledah kamar sang Ayah. Namun, pria itu tersenyum tanpa marah sedikit pun. Karena ia tahu, tak ada yang mesti disesalkan, yang berlalu biarlah berlalu.
      “Anakku, Ayah tak punya hak untuk marah kepadamu”. Memeluk tubuh anaknya dan membelai rambutnya yang hitam legam.
      “Ayah, hanya tak ingin mengingat masa lalu Ayah, karena semua itu terasa indah namun singkat, ayah masih ingin bersama dengan ibumu, ayah masih ingin mencintainya, mengarungi bahtera rumah tangga dengannya, merawat dan membesarkanmu bersama” Ucap, sang ayah sambil meneteskan air mata. Tak tahan lagi menahan pilu dihatinya.
      “Aku menyayangimu Ayah, layaknya menyayangi seorang Ibu yang merawatku”

***
Catatan kaki:
1)        Karaeng atau Andi”= Darah Biru, gelar bangsawan ditanah bugis, Makassar.







Bumi Allah, 1 Muharram 1432 H

BALASAN TUHAN UNTUK mu


BALASAN TUHAN UNTUK KALIAN
Karya; Arini Arief
Mahasiswa Teknik Arsitektur UNHAS

Sebagian tertawa
Sebagiannya lagi menangis
Sebagian berpoya- poya
Sebagiannya lagi berduka lara
Tak tahu harus berbuat apa lagi…

Dimanakah kalian, wahai umat Muslim
Saat saudara kalian dibantai
Bersimpah darah
Berlumurkan timah panas
Dimanakah kalian, wahai kaum Muslimin
Kudengar, kalian adalah umat terbanyak di penjuru dunia
Mengapa masih enggan berjihad
Melawan musuh- musuh Allah
Menyeruh kepada yang ma’ruf
Mencegah dari yang mungkar

Kalian adalah tentara dengan barisan terbesar
Mencintai kedamaian
Dan saling berkasih sayang
Satu tubuh
Satu merasa sakit
Maka, yang lain pun akan menjadi sakit

Nyatanya? Dimanakah kalian ini?
Apakah kalian lebih senang melihat atlet bergulat dilapangan
Ataukah…
Lebih senang
Berjoget ria di diskotik
Pesta miras.
Menonton konser

Menolehlah dan jangan berpaling muka
Lihatlah kebobrokan
Kerusakan, Kemaksiatan, Kefasikan, Kekururan
Pandanglah bencana alam
Bukankah itu balasan Tuhan untuk kalian…
***














Biodata singkat Penulis
Nama                     : Arini Arief
Nama pena            : Aerin Nahl
TTL                       :Bulukumba, 26 September 1991
No Hp                    :085242493987
Status                    : Mahasiswa
Fakultas/ Jurusan  : Teknik Arsitektur UNHAS’09
Organisasi             : BKLDK( Badan Koordinatif Lembaga Dakwah Kampus), FLP ranting    UNHAS,  aktif dalam Sekolah Menulis FLP UNHAS.
Hobi                      : Membaca, Menulis, Melukis, Memasak dan Traveling
Motto                    : kataklah sebuah kebenaran meski itu pahit, Jika Islam adalah kebenaran, maka sampaikanlah kebenaran itu.
Alamat e-mail/ FB: parkaerin@gmail.com/ Aeriennisa Nahl Arieef atau arief_arini@yahoo.co.id
Blog                      : http://arinimuslimah.blogspot.com/ atau http://arinial.blogspot.com/     
Cita- cita               : menjadi wanita Sholeha. Penulis, master engineer ….   Amiin…
         



Wanita, Betapa Mulianya Dirimu...


Wanita...
Begitu mulia dirimu..
Karena Allah telah memuliakanmu
Wanita...
Begitu cantik dirimu
Dengan Iman yang melekat pada jiwamu
Pakaian taqwa yang engkau ulurkan
Dan tak sedikitpun aurat yang engkau tampakan
Kau akan menjadi seorang istri
Menjadi ibu dan membesarkan,mendidik anak-anakmu dengan cinta dan kasihmu
Sangat tampaklah betapa mulianya dirimu
Kau begitu indah dan berharga dan dihargai
Kau adalah perhiasan dunia
Dihormati, disayangi,dicintai dan dijaga
Tapi, lihatlah...
Bagaiman engkau memperlakukan dirimu sekarang
Kau telah keluar dari batas
Kau terperangkap
Apakah kau ingin bebas?lari dari agamu, yang memuliakanmu...
Kau telah lupa
Lupa akan kemuliaan yang dberikan Tuhan untukmu
Tidakkah kau tau, betapa pentingya dirimu
Masihkah bisa, kau muliakan dirimu
Agar orang lebih memuliaknmu
Karena memang sudah semestinya
Dan Tuhan pun akan sayang kepadamu

Wanita, Betapa Mulianya Dirimu...


Wanita...
Begitu mulia dirimu..
Karena Allah telah memuliakanmu
Wanita...
Begitu cantik dirimu
Dengan Iman yang melekat pada jiwamu
Pakaian taqwa yang engkau ulurkan
Dan tak sedikitpun aurat yang engkau tampakan
Kau akan menjadi seorang istri
Menjadi ibu dan membesarkan,mendidik anak-anakmu dengan cinta dan kasihmu
Sangat tampaklah betapa mulianya dirimu
Kau begitu indah dan berharga dan dihargai
Kau adalah perhiasan dunia
Dihormati, disayangi,dicintai dan dijaga
Tapi, lihatlah...
Bagaiman engkau memperlakukan dirimu sekarang
Kau telah keluar dari batas
Kau terperangkap
Apakah kau ingin bebas?lari dari agamu, yang memuliakanmu...
Kau telah lupa
Lupa akan kemuliaan yang dberikan Tuhan untukmu
Tidakkah kau tau, betapa pentingya dirimu
Masihkah bisa, kau muliakan dirimu
Agar orang lebih memuliaknmu
Karena memang sudah semestinya
Dan Tuhan pun akan sayang kepadamu

Mencari Kambing Hitam


Kau gambarkan ciri-ciri teroris!
Berjanggot, kah?
Celana menggantung,kah?
Berkopiah, Kah?
Memakai tas ransel, kah?
Istri bercadar, kah?
Tapi ,kenapa kau tak gambarkan ciri-ciri koruptor!
Seharusnya
Seperti ini....
Berdasi
Memakai jas
Mobil mewah
Rumah mewah
Istri modis abiss
Dompet tebal!
Bila seperti ini, bukankah itu lebih mudah?
 Bahkan kau akan menangkap orang  yang salah
Kau akan membunuh orang yang tau apa-apa
Tidak,,, bahkan kau akan salah
Salah tangkap, salah bunuh
Dan kesalahan lain pun akan mengekor
Wahai.. penegak kebenaran dan keadilan
Beginikah caramu mengatasi masalah?
Sungguh Ironis!!!

I am and The KERIPIK PISANG


“ KERIPIK PISANG. ”

Kalian tau nggak gimana rasanya sekolah sambil berjualan? Mau ngintip pengalaman or kisahku nggak? Iya donk....!

Gini nih ceritanya.......
Hari ini adalah hari dimana aku memutuskan untuk berjualan ditengah kesibukanku sebagai seorang pelajar. 

Yah... memutuskan untuk berjualan alias mencari uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan selama aku menempuh pendidikan, walaupun hasilnya tidak begitu banyak. Dan bukankah semua  dimulai dari yang terkecil atau paling bawah.

Okey... sebelum aku bercerita panjang lebar.... maka izinkanlah daku untuk memperkenalkan diri. Perkenalkan, nama saya Aerinnisa dan biasa dipanggil Ririn atau bisa juga Nisa. Aku bersekolah di sebuah SMA yang cukup bergensi, semua tak luput dari upayaku untuk belajar giat dan memperoleh beasiswa untuk masuk di sekolah yang notabenenya sekolah orang gedongan alias orang tajir. Tapi toh, ternyata aku bisa masuk di sekolah yang terkenal dikota tempat aku tinggal. Bisa dikatakan bahwa sekolahku adalh sekolah favorit atau sekolah unggulan dan sebentar lagi akan menyandang gelar sekoalah bertaraf internasional, karena selain fasilitas atau sarana belajarnya yang lengkap juga didukung oleh siswa-siswinya yang berpretasi di segala bidang . Nah, lanjut keperkenalanku tadi.

  Aku  duduk dibangku kelas 2 SMA, sekarang umurku 17 tahun. Aku adalah seorang siswi yang bisa dibilang cukup cerdas. Tapi, biasa-biasa saja. Dan aku adalah anak sulung dari empat orang bersaudara. Keluargaku tergolong keluarga yang sederhana alias pas-pasan. Kedua orang tuaku berprofesi sebagai petani. Bisanya mereka menanam berbagai macam sayuran untuk dijual di pasar. Itulah satu-satunya sumber mata pencaharian kedua orang tuaku, menggarap kebun dengan tekun demi menghidupi anggota keluarganya.

Di sekolah aku lebih dikenal sebagai aktivis, aktivis apa dulu.....!!! PENJUAL MAKANAN RINGAN 

It’s me.... aku berjualan keripik pisang buatanku sendiri di sekolah. Dan tentu saja aku melakoni pekerjaan ini setelah proses belajar mengajar usai, yaitu pada saat jam  isterahat. Dan Alhamdulillah... cukup laris dan digemari oleh masyarakat setempat. Maksudku, aku hanya berjualan di dalam kelasku dan hanya dinikmati oleh teman sekelasku,dan bahkan guru pun kadang membeli daganganku ini, keripik pisang asin dan manis ala cheef Ririn 100% HALAL. Kujual dengan harga 500 perak per bungkusnya, cukup murah kan,? yang penting laris.

Aku belum yakin untuk berjualan diluar kelasku apalagi sambil mengelilingi seluruh halaman sekolah dan menelusuri kelas satu persatu. Wah.... terkadang aku merasa risih. Tapi... Tak apalah, namanya juga berusaha.

Hari demi hari, bulan berganti bulan... aku masih saja  menggeluti usahaku ini. Berjualan keripik pisang andalanku . Rasanya sulit untuk dihentikan. Mungkin karena jiwa dagangku mulai memuncak.
Hingga suatu hari. Hal yang paling kutakutkan pun terjadi. Hasil belajarku semester ini menurun dari semester lalu. Kekuatiran pun mulai menggerogotiku. Aku kwatir tahun ini tak dapat beasiswa. Padahal aku mengandalkan beasiswaku sebagai pembayaran uang semester. Dengan maksud tak ingin membebani orang tua dengan beban yang begitu berat, karena keputusanku untuk melanjutkan studi di sekolah yang elit dan bergensi ini. Dan tentunya menelan banyak biaya pendidikan. Makanya aku wajib belajar lebih giat lagi. Karena aku sadar kalau pendidikan itu mahal. Jadi nggak boleh disia-siakan.

Toh, dana pendidikan yang konon katanya digratiskan oleh pemerintah atau yang mendapat dana BOS hanya sampai tingkat sekolah menengah pertama saja. Dan bukan untuk tingkat SMA. Ada rasa kecewa. Karena pendidikan begitu mahalnya. Tak jarang lagi, banyak yang memutuskan untuk berhenti sekolah dan menjadi anak jalanan, pengamen dan lain-lain sebagainya hanya kerena persoalan biaya. Apatah lagi orang yang tidak mampu dari segi financial dan SDM. Pasti mereka akan mencap, bahwa sekolah adalah milik mereka yang berduit. Dan materi atau uang pun begitu sangat dibutuhkannya. Hati saya pun sempat miris,sewaktu pernah membaca sebuah artikel bahwsanya banyak mahasiswa di Kota-kota besar menjual tubuhnya alias menjadi PSK demi mendapatkan uang. Entah uang itu digunakan untuk pembayaran kuliah yang terbilang cukup mahal ataukah untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka selama menjadi anak kuliahan.

Semenjak itu, aku mulai banyak berpikir. Agar aku tak bernasib sama dengan mereka. Aku harus berusaha dan membulatkan tekat agar tetap bisa memperoleh pendidikan setinggi mungkin. Dan akupun memutuskan untuk berjualan. Hasilnya dapat aku gunakan, untuk keperluanku termasuk keperluan adik-adikku dan sebagian aku tabung untuk investasi masa depan, melanjutkan pendidikan kejejang yang lebih tinggi. Aku berharap nasib kami baik dimasa depan, setidaknya lebih dari apa yang digelutu kedua orang tuaku, petani. Dan aku bangga menjadi anak petani.


Aku tak akan merasa malu lagi menjadi seorang penjual keripik pisang di sekolah yang bergensi itu. Aku mulai menjajaki setiap kelas pada saat jam istrahat dimulai. Menjual keripik pisangku kesana kemari. Walaupun dikantin-kantin sekolah juga banyak yang menjual keripik pisang. Toh, aku tetap yakin bahwa keripik pisangku beda dari yang lain. Thanks MOM... karena telah membantuku dalam pembuatan keripik pisang ini. Dan mengajariku banyak hal, khususnya dibidang kuliner. I like cooking...

Alhamdulillah... bahan dasar keripik pisang pun aku dapatkan dengan mudah. Kebetulan ayahku senang menanam pohon pisang di kebun belakang rumah, disitulah aku berinisiatif untuk memanfaatkan sumber yang ada. Dan pohon pisang ayah menjadi sasarannya, ayahku sama sekali tidak keberatan. Karena ayahku adalah ayah yang terbaik yang kumiliki. Dia pengertian, bijaksana dan tegas kepada keempat anaknya, terutama aku sebagai anak sulung, yang harus menjadi tauladan bagi adik-adiknya. Thanks DAD.....!