Jumat, 03 Agustus 2012

Wanita, Betapa Mulianya Dirimu...


Wanita...
Begitu mulia dirimu..
Karena Allah telah memuliakanmu
Wanita...
Begitu cantik dirimu
Dengan Iman yang melekat pada jiwamu
Pakaian taqwa yang engkau ulurkan
Dan tak sedikitpun aurat yang engkau tampakan
Kau akan menjadi seorang istri
Menjadi ibu dan membesarkan,mendidik anak-anakmu dengan cinta dan kasihmu
Sangat tampaklah betapa mulianya dirimu
Kau begitu indah dan berharga dan dihargai
Kau adalah perhiasan dunia
Dihormati, disayangi,dicintai dan dijaga
Tapi, lihatlah...
Bagaiman engkau memperlakukan dirimu sekarang
Kau telah keluar dari batas
Kau terperangkap
Apakah kau ingin bebas?lari dari agamu, yang memuliakanmu...
Kau telah lupa
Lupa akan kemuliaan yang dberikan Tuhan untukmu
Tidakkah kau tau, betapa pentingya dirimu
Masihkah bisa, kau muliakan dirimu
Agar orang lebih memuliaknmu
Karena memang sudah semestinya
Dan Tuhan pun akan sayang kepadamu

Wanita, Betapa Mulianya Dirimu...


Wanita...
Begitu mulia dirimu..
Karena Allah telah memuliakanmu
Wanita...
Begitu cantik dirimu
Dengan Iman yang melekat pada jiwamu
Pakaian taqwa yang engkau ulurkan
Dan tak sedikitpun aurat yang engkau tampakan
Kau akan menjadi seorang istri
Menjadi ibu dan membesarkan,mendidik anak-anakmu dengan cinta dan kasihmu
Sangat tampaklah betapa mulianya dirimu
Kau begitu indah dan berharga dan dihargai
Kau adalah perhiasan dunia
Dihormati, disayangi,dicintai dan dijaga
Tapi, lihatlah...
Bagaiman engkau memperlakukan dirimu sekarang
Kau telah keluar dari batas
Kau terperangkap
Apakah kau ingin bebas?lari dari agamu, yang memuliakanmu...
Kau telah lupa
Lupa akan kemuliaan yang dberikan Tuhan untukmu
Tidakkah kau tau, betapa pentingya dirimu
Masihkah bisa, kau muliakan dirimu
Agar orang lebih memuliaknmu
Karena memang sudah semestinya
Dan Tuhan pun akan sayang kepadamu

Mencari Kambing Hitam


Kau gambarkan ciri-ciri teroris!
Berjanggot, kah?
Celana menggantung,kah?
Berkopiah, Kah?
Memakai tas ransel, kah?
Istri bercadar, kah?
Tapi ,kenapa kau tak gambarkan ciri-ciri koruptor!
Seharusnya
Seperti ini....
Berdasi
Memakai jas
Mobil mewah
Rumah mewah
Istri modis abiss
Dompet tebal!
Bila seperti ini, bukankah itu lebih mudah?
 Bahkan kau akan menangkap orang  yang salah
Kau akan membunuh orang yang tau apa-apa
Tidak,,, bahkan kau akan salah
Salah tangkap, salah bunuh
Dan kesalahan lain pun akan mengekor
Wahai.. penegak kebenaran dan keadilan
Beginikah caramu mengatasi masalah?
Sungguh Ironis!!!

I am and The KERIPIK PISANG


“ KERIPIK PISANG. ”

Kalian tau nggak gimana rasanya sekolah sambil berjualan? Mau ngintip pengalaman or kisahku nggak? Iya donk....!

Gini nih ceritanya.......
Hari ini adalah hari dimana aku memutuskan untuk berjualan ditengah kesibukanku sebagai seorang pelajar. 

Yah... memutuskan untuk berjualan alias mencari uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan selama aku menempuh pendidikan, walaupun hasilnya tidak begitu banyak. Dan bukankah semua  dimulai dari yang terkecil atau paling bawah.

Okey... sebelum aku bercerita panjang lebar.... maka izinkanlah daku untuk memperkenalkan diri. Perkenalkan, nama saya Aerinnisa dan biasa dipanggil Ririn atau bisa juga Nisa. Aku bersekolah di sebuah SMA yang cukup bergensi, semua tak luput dari upayaku untuk belajar giat dan memperoleh beasiswa untuk masuk di sekolah yang notabenenya sekolah orang gedongan alias orang tajir. Tapi toh, ternyata aku bisa masuk di sekolah yang terkenal dikota tempat aku tinggal. Bisa dikatakan bahwa sekolahku adalh sekolah favorit atau sekolah unggulan dan sebentar lagi akan menyandang gelar sekoalah bertaraf internasional, karena selain fasilitas atau sarana belajarnya yang lengkap juga didukung oleh siswa-siswinya yang berpretasi di segala bidang . Nah, lanjut keperkenalanku tadi.

  Aku  duduk dibangku kelas 2 SMA, sekarang umurku 17 tahun. Aku adalah seorang siswi yang bisa dibilang cukup cerdas. Tapi, biasa-biasa saja. Dan aku adalah anak sulung dari empat orang bersaudara. Keluargaku tergolong keluarga yang sederhana alias pas-pasan. Kedua orang tuaku berprofesi sebagai petani. Bisanya mereka menanam berbagai macam sayuran untuk dijual di pasar. Itulah satu-satunya sumber mata pencaharian kedua orang tuaku, menggarap kebun dengan tekun demi menghidupi anggota keluarganya.

Di sekolah aku lebih dikenal sebagai aktivis, aktivis apa dulu.....!!! PENJUAL MAKANAN RINGAN 

It’s me.... aku berjualan keripik pisang buatanku sendiri di sekolah. Dan tentu saja aku melakoni pekerjaan ini setelah proses belajar mengajar usai, yaitu pada saat jam  isterahat. Dan Alhamdulillah... cukup laris dan digemari oleh masyarakat setempat. Maksudku, aku hanya berjualan di dalam kelasku dan hanya dinikmati oleh teman sekelasku,dan bahkan guru pun kadang membeli daganganku ini, keripik pisang asin dan manis ala cheef Ririn 100% HALAL. Kujual dengan harga 500 perak per bungkusnya, cukup murah kan,? yang penting laris.

Aku belum yakin untuk berjualan diluar kelasku apalagi sambil mengelilingi seluruh halaman sekolah dan menelusuri kelas satu persatu. Wah.... terkadang aku merasa risih. Tapi... Tak apalah, namanya juga berusaha.

Hari demi hari, bulan berganti bulan... aku masih saja  menggeluti usahaku ini. Berjualan keripik pisang andalanku . Rasanya sulit untuk dihentikan. Mungkin karena jiwa dagangku mulai memuncak.
Hingga suatu hari. Hal yang paling kutakutkan pun terjadi. Hasil belajarku semester ini menurun dari semester lalu. Kekuatiran pun mulai menggerogotiku. Aku kwatir tahun ini tak dapat beasiswa. Padahal aku mengandalkan beasiswaku sebagai pembayaran uang semester. Dengan maksud tak ingin membebani orang tua dengan beban yang begitu berat, karena keputusanku untuk melanjutkan studi di sekolah yang elit dan bergensi ini. Dan tentunya menelan banyak biaya pendidikan. Makanya aku wajib belajar lebih giat lagi. Karena aku sadar kalau pendidikan itu mahal. Jadi nggak boleh disia-siakan.

Toh, dana pendidikan yang konon katanya digratiskan oleh pemerintah atau yang mendapat dana BOS hanya sampai tingkat sekolah menengah pertama saja. Dan bukan untuk tingkat SMA. Ada rasa kecewa. Karena pendidikan begitu mahalnya. Tak jarang lagi, banyak yang memutuskan untuk berhenti sekolah dan menjadi anak jalanan, pengamen dan lain-lain sebagainya hanya kerena persoalan biaya. Apatah lagi orang yang tidak mampu dari segi financial dan SDM. Pasti mereka akan mencap, bahwa sekolah adalah milik mereka yang berduit. Dan materi atau uang pun begitu sangat dibutuhkannya. Hati saya pun sempat miris,sewaktu pernah membaca sebuah artikel bahwsanya banyak mahasiswa di Kota-kota besar menjual tubuhnya alias menjadi PSK demi mendapatkan uang. Entah uang itu digunakan untuk pembayaran kuliah yang terbilang cukup mahal ataukah untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka selama menjadi anak kuliahan.

Semenjak itu, aku mulai banyak berpikir. Agar aku tak bernasib sama dengan mereka. Aku harus berusaha dan membulatkan tekat agar tetap bisa memperoleh pendidikan setinggi mungkin. Dan akupun memutuskan untuk berjualan. Hasilnya dapat aku gunakan, untuk keperluanku termasuk keperluan adik-adikku dan sebagian aku tabung untuk investasi masa depan, melanjutkan pendidikan kejejang yang lebih tinggi. Aku berharap nasib kami baik dimasa depan, setidaknya lebih dari apa yang digelutu kedua orang tuaku, petani. Dan aku bangga menjadi anak petani.


Aku tak akan merasa malu lagi menjadi seorang penjual keripik pisang di sekolah yang bergensi itu. Aku mulai menjajaki setiap kelas pada saat jam istrahat dimulai. Menjual keripik pisangku kesana kemari. Walaupun dikantin-kantin sekolah juga banyak yang menjual keripik pisang. Toh, aku tetap yakin bahwa keripik pisangku beda dari yang lain. Thanks MOM... karena telah membantuku dalam pembuatan keripik pisang ini. Dan mengajariku banyak hal, khususnya dibidang kuliner. I like cooking...

Alhamdulillah... bahan dasar keripik pisang pun aku dapatkan dengan mudah. Kebetulan ayahku senang menanam pohon pisang di kebun belakang rumah, disitulah aku berinisiatif untuk memanfaatkan sumber yang ada. Dan pohon pisang ayah menjadi sasarannya, ayahku sama sekali tidak keberatan. Karena ayahku adalah ayah yang terbaik yang kumiliki. Dia pengertian, bijaksana dan tegas kepada keempat anaknya, terutama aku sebagai anak sulung, yang harus menjadi tauladan bagi adik-adiknya. Thanks DAD.....!

Rabu, 01 Agustus 2012

My KKN

Bayanganku tentang Lokasi KNN tak pernah surut. Sebulan sebelum KKN pun aku mulai berimajiansi tentang suasana nantinya. Panorama pedesaan, udaranya, langitnya serta orang- orangnya. Sungguh menjadikanku semakin penasaran dengan tempat KKN- ku yang entah dimana. Seminggu sebelum keberangkatan. Pengumuman Lokasi KKN pun sudah keluar. Saya ditempatkan di salah satu kecamatan yang ada di Enrekang. Tepatnya di Kecamatan yang berlokasi di pusat Kota.


Yah…. Enrekang adalah salah satu kabupaten yang ada di SUL-SEL. Setahuku daerah ini berada pada daerah ketinggian alias berbukit- bukit dan bersuhu udara yang cukup dingin. Walaupun sebelumnya saya sempat kecewa karena tidak lulus pada seleksi KKN Pulau Sebatik. Saya sungguh tertarik plus merasa sangat tertantang untuk ber- KKN disana. Numun apa daya, kesempatan tidak disana. Saya gagal menjadi salah satu diantara 15 orang yang akan diberangkatkan ke Pulau sebatik karena kalah saing dengan senior seperjurusan saya, dia lebih memenuhi kriteria. Biarlah….mungkin ada hikmah dibalik ketidaklulusan saya kala itu, dan akhirnya harus tetap ikut berpartisipasi dalam KKN Reguler tahun ini bersama teman- teman lainnya. Tepatnya di Kabupaten Enrekang…


Enrekang City I am coming……

Koper yang cukup besar beserta ransel dipundakku siap menemaniku selama perjalanan dan tinggal di kampung orang untuk waktu yang cukup lama, kurang lebih dua bulan lah….. Insya Allah jika panjang umur dan saya pun berharap bisa menikmatinya dan menjalankan aktivitas yang bermanfaat nantinya disana, dan semoga bisa memanfaatkan ladang dakwah disana. Apatah lagi saya akan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan disana….sungguh ini adalah ujian yang saya harus sanggup melewatinya. Aamiin…. ***

Mobil tentara alias truk Kodam pun siap mengantarkan kami menuju lokasi KKN, sekitar enam jam perjalanan. Kenapa naik mobil tentara bukan naik bus kampus, yah??? Karena pihak universitas bekerja sama dengan KODAM Wirabuana Makassar dalam program KKN kali ini, begitu juga dengan gelombang KKN tahun lalu. Jadilah kami diberangkatkan dengan mobil truck ala tentara karena Bus kampus tidak cukup…. Aneh juga sih…. Sepertinya saya akan masuk angin atau paling tidak terserang flu setiba di lokasi. Truck pun melaju dengan cukup kencang, cukup menantang dan membuat sebagian penumpang berteriak ketika ban truck memasuki lubang yang menghiasi jalan. Alhamdulillah… teman satu truckku adalah perempuan semua, kecuali supirnya adalah seorang anggota TNI itu sendiri.


Akhirnya tiba juga dilokasi…. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Enrekang. Rasanya agak- agak mirip dengan tanah kelahiran saya. Ini kota tapi kok hampir mirip dengan suasana pedesaan yah? yah…..namanya juga kota berkembang dan merupakan daerah pemekaran. Wajarlah karena jauh dari ibu kota.


Pemandangan perbukitan memanjakan mata, hijau dedaunan, hembusan angin, serta burung menari- nari diudara menyambut kedatangan kami. Kami disambut oleh Bu camat beserta jajarannya di sebuah terminal sederhana yang letaknya di pusat kota berdampingan dengan pasar sentral Enrekang. Setelah prosesi penyambutan dan pembagian kelompok posko, kami pun diantar menuju rumah dimana saya akan tinggal selama sebulan lebih bersama delapan orang mahasiswa dari berbagai fakultas dan jurusan. Teknik, hukum, pertanian, peternakan, ekonomi hingga sospol. Tak ada satupun diantara mereka yang saya kenal sebelumnya. Mataku cukup tak percaya melihat rumah yang akan saya tinggali selama beberapa bulan kedepan. “ Inikah rumah itu?” rumah yang dalam bayangku adalah sebuah rumah yang setidaknya nyaman. But…. Inilah kondisi dimana saya harus menerimanya dengan lapang dada. Rumah kayu yang telah lapuk dimakan usia, inilah gubuk ditengah batas kota. Kosong tanpa penghuni, tanpa perabotan pula. Saya tak habis pikir, kenapa pak lurah bisa menempatkan kami pada sebuah rumah yang sangat memprihatinkan seperti ini. Saya perhatikan lurah kami adalah sosok yang misterius… entah apa yah ia pikirkan. Entahlah…. Kami pun mulai berkemas menyambut malam diatas sebuah rumah kayu yang bergoyang- goyang seakan ingin merebahkan dirinya ke tanah. Rumah ini, apakah ia sanggup menampung kami? Saya jadi teringat rumah- rumahan yang ada di kampung saya, rumah yang juga lapuk ditengah kebun karena tak berpenghuni lagi. Kondisi ini menjadikan saya dan teman satu posko lebih akrab. Kami saling memperkenalkan diri walaupun tadak secara formal, semua mengalir seperti air. Inilah malam pertama kami di Enrekang, memaksakan diri untuk tertidur lelap hingga subuh tiba. Alhamdulillah… tak ada masalah. Semua berjalan dengan baik- baik saja. Setidaknya Gubuk ini masih sanggup berdiri. Sungguh Allah mengujiku dihari pertama di kampong orang. Secercah harapan pagi ini. Kulangkahkan kaki menuju persimpangan jalan, melihat kearah utara dan selatan. Kupilih menuju arah selatan karena disana sebuah jembatan seakan- akan memanggilku untuk menegoknya. Jembatan besar itu belum jadi, baru sekitar 20% pembangunan. Ku nikmati pemandangan dari atas jembatan, melihat kearah sungai yang tak tahu dimana ujungnya, sangat panjang….. Tiba- tiba…. Seorang bapak paruh baya memanggilku ketika saya berniat untuk kembali ke posko. Kami pun berbicara sebentar, kemudian ia mengajakku untuk masuk kedalam rumahnya yang berada tepat disamping jembatan. “Sungguh baik bapak ini”, ucap saya dalam hati. Seorang wanita paruh baya pun muncul dan menyapaku. Sudah pasti wanita ini adalah istrinya. Kami pun mengobrol, saya pun mengungkapkan keluhan saya terkait kondisi rumah yang kami tempati. Suami-istri ini sebenarnya sudah memahami apa yang saya rasakan. Mereka sekan- akan telah menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan saya. Sang ibu begitu baik, ia menyiapakan secangkir teh dan beberapa potong roti diatas meja. Tak lama kami mengobrol…. “ tinggalah disini bersama kami”, seru pasangan suami istri tersebut. Apa? Baru saja ia mengenalku, begitupun denganku, baru dalam tempo beberapa menit. But….. secepat itukah? Kami seperti keluarga saja… Alhamdulillah….. segala puji bagi Allah atas segala limpahan rahmat dan karunia- Nya. Lagi- lagi saya dipertemukan dengan orang baik. Allah Maha Tahu apa yang dibutuhkan oleh hamba- Nya^_^ Saya segera bergegas menuju posko untuk memberitahukan kabar baik ini. Dengan senang hati mereka berkemas- kemas, memasukkan kembali barang kekoper, dan segera menuju rumah sederhana dimana kami akan menetap selama kurang lebih dua bulan. Hmm….. Hari pertama, penuh dengan kehangatan. Tak ada yang lebih indah dari ikatan aqidah…inilah yang saya rasakan ketika kali pertama berjumpa dengan mereka. Sungguh sebuah kesyukuran yang tiada tara setiap kali Allah mengabulkan setiap doa yang saya panjatkan, keyakinan terhadap kebesaran- Nya terus saja bertambah, begitu juga ketika Dia mengujiku. Mengingat kembali posko itu… sungguh menyedihkan, diluar dari perkiraanku. Betapa tidak! Kuingat dulu ketika duduk dibangku SD, hampir tiap tahun rumah nenek saya di kampung diisi dengan mahasiswa KKN…. Mahasiswa KKN disambut bak raja,bak tamu istimewa. Sungguh jauh berbanding terbalik dengan apa yang saya dapatkan untuk kali pertama ber- KKN di kampung orang, tempat yang berkesan di gubuk tua itu… dan akhirnya pindah…

Bersambung.....

Senin, 30 Juli 2012

ALHAMDULILLAH.... ( PUISI )

ALHAMDULILLAH… BY : ARINI ARIEF Alhamdulillah…. Ini bukan sekedar ucapan tak bermakna Melainkan sanjungan rasa syukurmu Kau ucapkan kemudian kau pahami…. Maka akan kau temui kedasyatan dari sebuah kata Yang melahirkan kedamaian di hati Satu kata penuh makna Bagi hamba- hamba yang berpikir Bagi hamba- hamba yang tahu Bagi hamba yang bersyukur Atas nafas yang masih berhembus Atas jiwa yang masih melekat dalam raga Atas kaki yang masih mampu melangkah Atas mata yang masih dapa memandang Atas telinga yang masih mendengar Atas jasmani yang masih sehat Oh…..sungguh Nikmat manakah yang kau dustakan? Alhamdulillah….. Ucaplah rasa syukurmu Segala puji bagi Allah yang telah menciptamu Yang menghembuskan ruh untuk jasadmu Yang menolongmu saat kau sulit Yang memberimu kekuatan bathin…. Alhamdulillah….. Ucapkanlah di setiap waktumu….

ALHAMDULILLAH.... ( PUISI )

ALHAMDULILLAH… BY : ARINI ARIEF Alhamdulillah…. Ini bukan sekedar ucapan tak bermakna Melainkan sanjungan rasa syukurmu Kau ucapkan kemudian kau pahami…. Maka akan kau temui kedasyatan dari sebuah kata Yang melahirkan kedamaian di hati Satu kata penuh makna Bagi hamba- hamba yang berpikir Bagi hamba- hamba yang tahu Bagi hamba yang bersyukur Atas nafas yang masih berhembus Atas jiwa yang masih melekat dalam raga Atas kaki yang masih mampu melangkah Atas mata yang masih dapa memandang Atas telinga yang masih mendengar Atas jasmani yang masih sehat Oh…..sungguh Nikmat manakah yang kau dustakan? Alhamdulillah….. Ucaplah rasa syukurmu Segala puji bagi Allah yang telah menciptamu Yang menghembuskan ruh untuk jasadmu Yang menolongmu saat kau sulit Yang memberimu kekuatan bathin…. Alhamdulillah….. Ucapkanlah di setiap waktumu….