Senin, 30 Juli 2012

ALHAMDULILLAH.... ( PUISI )

ALHAMDULILLAH… BY : ARINI ARIEF Alhamdulillah…. Ini bukan sekedar ucapan tak bermakna Melainkan sanjungan rasa syukurmu Kau ucapkan kemudian kau pahami…. Maka akan kau temui kedasyatan dari sebuah kata Yang melahirkan kedamaian di hati Satu kata penuh makna Bagi hamba- hamba yang berpikir Bagi hamba- hamba yang tahu Bagi hamba yang bersyukur Atas nafas yang masih berhembus Atas jiwa yang masih melekat dalam raga Atas kaki yang masih mampu melangkah Atas mata yang masih dapa memandang Atas telinga yang masih mendengar Atas jasmani yang masih sehat Oh…..sungguh Nikmat manakah yang kau dustakan? Alhamdulillah….. Ucaplah rasa syukurmu Segala puji bagi Allah yang telah menciptamu Yang menghembuskan ruh untuk jasadmu Yang menolongmu saat kau sulit Yang memberimu kekuatan bathin…. Alhamdulillah….. Ucapkanlah di setiap waktumu….

ALHAMDULILLAH.... ( PUISI )

ALHAMDULILLAH… BY : ARINI ARIEF Alhamdulillah…. Ini bukan sekedar ucapan tak bermakna Melainkan sanjungan rasa syukurmu Kau ucapkan kemudian kau pahami…. Maka akan kau temui kedasyatan dari sebuah kata Yang melahirkan kedamaian di hati Satu kata penuh makna Bagi hamba- hamba yang berpikir Bagi hamba- hamba yang tahu Bagi hamba yang bersyukur Atas nafas yang masih berhembus Atas jiwa yang masih melekat dalam raga Atas kaki yang masih mampu melangkah Atas mata yang masih dapa memandang Atas telinga yang masih mendengar Atas jasmani yang masih sehat Oh…..sungguh Nikmat manakah yang kau dustakan? Alhamdulillah….. Ucaplah rasa syukurmu Segala puji bagi Allah yang telah menciptamu Yang menghembuskan ruh untuk jasadmu Yang menolongmu saat kau sulit Yang memberimu kekuatan bathin…. Alhamdulillah….. Ucapkanlah di setiap waktumu….

Sabtu, 28 Juli 2012

PACARAN MENURUT ISLAM

BAGAIMANA PACARAN MENURUT ISLAM ?
Bagaimana pandangan Ibnu Qoyyim tentang hal ini ? Kata Ibnu Qoyyim, ” Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta. Malah, cinta diantara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan. Karena bila keduanya telah merasakan kenikmatan dan cita rasa cinta, tidak boleh tidak akan timbul keinginan lain yang tidak diperoleh sebelumnya. “ ” Bohong !” Itulah pandangan mereka guna membela hawa nafsunya yang dimurkai Allah, yakni berpacaran. Karena mereka telah tersosialisasi dengan keadaan seperti ini, seolah-olah mengharuskan adanya pacaran dengan bercintaan secara haram. Bahkan lebih dari itu mereka berani mengikrarkan, bahwa cinta yang dilahirkan bersama dengan sang pacar adalah cinta suci dan bukan cinta birahi. Hal ini didengung-dengungkan, dipublikasikan dalam segala bentuk media, entah cetak maupun elektronika. Entah yang legal maupun ilegal. Padahal yang diistilahkan kesucian dalam islam adalah bukanlah semata-mata kepemudaan, kegadisan dan selaput dara saja. Lebih dari itu, kesucian mata, telinga, hidung, tangan dan sekujur anggota tubuh, bahkan kesucian hati wajib dijaga. Zinanya mata adalah berpandangan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, zinanya hati adalah� membayangkan dan menghayal, zinannya tangan adalah menyentuh tubuh wanita yang bukan muhrim. Dan pacaran adalah refleksi hubungan intim, dan merupakan ring empuk untuk memberi kesempatan terjadinya segala macam zina ini. Rasulullah bersabda, ” Telah tertulis atas anak adam nasibnya dari hal zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tak dapat tidak. Zinanya mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah berjalan, zina hati adalah ingin dan berangan-angan. Dibenarkan hal ini oleh kelaminnya atau didustakannya.” Jika kita sejenak mau introspeksi diri dan mengkaji hadist ini dengan kepala dingin maka dapat dipastikan bahwa segala macam bentuk zina terjadi karena motivasi yang tinggi dari rasa tak pernah puas sebagai watak khas makhluk yang bernama manusia. Dan kapan saja, diman saja, perasaan tak pernah puas itu selalu memegang peranan. Seperti halnya dalam berpacaran ini. Pacaran adalah sebuah proses ketidakpuasan yang terus berlanjut untuk sebuah pembuktian cinta. Kita lihat secara umum tahapan dalam pacaran. 1. Perjumpaan pertama, yaitu perjumpan keduanya yang belum saling kenal. Kemudian berkenalan baik melalui perantara teman atau inisiatif sendiri. hasrat ingin berkenalan ini begitu menggebu karena dirasakan ada sifat2 yang menjadi sebab keduanya merasakan getaran yang lain dalam dada. Hubungan pun berlanjut, penilaian terhadap sang kenalan terasa begitu manis, pertama ia nilai dengan daya tarik fisik dan penampilannya, mata sebagai juri. Senyum pun mengiringi, kemudian tertegun akhirnya , akhirnya jantung berdebar, dan hati rindu menggelora. Pertanyaan yang timbul kemudaian adalah kata-kata pujian, kemudian ia tuliskan dalam buku diary, “Akankah ia mencintaiku.” Bila bertemu ia akan pandang berlama-lama, ia akan puaskan rasa rindu dalam dadanya. 2. Pengungkapan diri dan pertalian, disinilah tahap ucapan I Love You, “Aku mencintaimu”. Si Juliet akan sebagai penjual akan menawarkan cintanya dengan rasa malu, dan sang Romeo akan membelinya dengan, “I LOve You”. Jika Juliet diam dengan tersipu dan tertunduk malu, maka sang Romeo pun telah cukup mengerti dengan sikap itu. Kesepakatan pun dibuat, ada ijin sang romeo untuk datang kerumah, “Apel Mingguan atau Wakuncar “. Kapan pun sang Romeo pengin datang maka pintu pun terbuka dan di sinilah mereka akan menumpahkan perasaan masing-masing, persoalanmu menjadi persoalannya, sedihmu menjadi sedihnya, sukamu menjadi riangnya, hatimu menjadi hatinya, bahkan jiwamu menjadi hidupnya. Sepakat pengin terus bersama, berjanji sehidup semati, berjanji sampai rumah tangga. Asyik dan syahdu. 3. Pembuktian, inilah sebuah pengungkapan diri, rasa cinta yang menggelora pada sang kekasih seakan tak mampu untuk menolak ajakan sang kekasih. ” buktikan cintamu sayangku”. Hal ini menjadikan perasaan masing-masing saling ketergantungan untuk memenuhi kebutuhan diantara keduanya. Bila sudah seperti ini ajakan ciuman bahkan bersenggama pun sulit untuk ditolak. Na’udzubillah Begitulah akhirnya mereka berdua telah terjerumus dalam nafsu syahwat, tali-tali iblis telah mengikat. Mereka jadi terbiasa jalan berdua bergandengan tangan, canda gurau dengan cubit sayang, senyum tawa sambil bergelayutan, dan cium sayang melepas abang. Kunjungan kesatu, kedua, ketiga, keseratus, keseribu, dan yang tinggal sekarang adalah suasana usang, bosan, dan menjenuhkan percintaan . Segalanya telah diberikan sang juliet, Juliet pun menuntut sang Romeo bertanggung jawab ? Ternyata sang romeo pergi tanpa pesan walaupun datang dengan kesan. Sungguh malang nasib Juliet. Wahai para Muslimah sadarlah akan lamunan kalian , bayang-bayang cinta yang suci, bukanlah dengan pacaran , cobalah pikirkan buat kamu muslimah yang masih bergelimang dengan pacaran atau kalian wahai pemuda yang suka gonta-ganti pacar. Cobalah jawab dengan hati jujur pertanyaan-pertanyaan berikut dan renungkan ! Kami tanya : 1. Apakah kamu dapat berlaku jujur tentang hal adegan yang pernah kamu kamu lakukan waktu pacaran dengan si A,B,C s/d Z kepada calon pasangan yang akan menjadi istri atau suami kamu yang sesungguhnya ? Kalau tidak kenapa kamu berani mengatakan, pacaran merupakan suatu bentuk pengenalan kepribadian antara dua insan yang saling jatuh cinta dengan dilandasi sikap saling percaya ? Sedangkan kenapa kepada calon pasangan hidup kamu yang sesungguhnya kamu berdusta ? Bukankah sikap keterbukaan merupakan salah satu kunci terbinanya keluarga sakinah? 2. Mengapa kamu pusing tujuh keliling untuk memutuskan seseorang menjadi pendamping hidupmu ? Apakah kamu takut mendapat pendamping yang setelah sekian kali pindah tangan ? ” Aku ingin calon pendamping yang baik-baik” Kamu katakan seperti ini tapi mengapa kamu begitu gemar pacaran, hingga melahirkan korban baru yang siap pindah tangan dengan kondisi ” Aku bukan calon pendamping yang baik” , bekas dari tanganmu, sungguh bekas tanganmu ? 3. Jika kamu disuruh memilih diantara dua calon pasangan hidup kamu antara yang satu pernah pacaran dan yang satu begitu teguh memegang syari’at agama, yang mana yang akan kamu pilih ? Tentu yang teguh dalam memegangi agama, ya Khan ? Tapi kenapa kamu berpacaran dengan yang lain sementara kamu menginginkan pendamping yang bersih ? 4. Bagaimana perasaan kamu jika mengetahui istri/ suami kamu sekarang punya nostalgia berpacaran yang sampai terjadi tidak suci lagi ? Tentu kecewa bukan kepalang. Tetapi mengapa sekarang kamu melakukan itu kepada orang yang itu akan menjadi pendamping hidup orang lain ? 5. Kalaupun istri/suami kamu sekarang mau membuka mulut tentang nostalgia berpacaran sebelum menikah dengan kamu. Apakah kamu percaya jika dia bilang kala itu kami berdua hanya bicara biasa-biasa saja dan tidak saling bersentuhan tangan ? Kalau tidak kenapa ketika pacaran bersentuhan tangan dan berciuman kamu bilang sebagai bumbu penyedap ? 6. Jika kamu nantinya sudah punya anak apakah rela punya anak yang telah ternoda ? Kalau tidak kenapa kamu tega menyeret Ortu kamu ke dalam neraka Api Allah ? Kamu tuntut mereka di hadapan Allah karena tidak melarang kamu berpacaran dan tidak menganjurkan kamu untuk segera menikah. Karena itu wahai muslimah dan kalian para pemuda kembalilah ke fitrah semula. Fitrah yang telah menjadi sunattullah, tidak satupun yang lari daripadanya melainkan akan binasa dan hancur. Inti dari pembahasan ini adalah “PACARAN ITU HARAM” Sumber : Ditulis oleh blog khilafahislamiyah pada Mei 17th, 2007

ONE DAY...

Angin berhembus menerpa wajahku, kurasakan kesejukan dipagi yang cerah ini. Aku terus berjalan menuju tempat peraduan. Menjajakan kue buatanku, yang akan kujual pada teman dan orang- orang yang aku kenal dan ingin kukenal. Seorang anak perempuan memandangiku dan tersenyum, mungkin heran melihat seorang wanita muslimah mengenakan jilbab kemudian menggunakan sepatu sporti. Pasti sangat aneh dimatanya. Yah…itu mungkin baru penilaian seorang anak kecil. Namun menurutku apa yang kukenakan hari ini adalah suatu hal yang biasa saja dan pasti nampak kesual….he…he… *** Akhirnya ada yang membeli kue. Dialah kak Tenri, dengan wajah yang bersinar- sinar ia mulai mengambil kue pancake gulung pada kantong berwarna pink yang sudah kuletakkan didepannya. Setiap pagi hari aku sengaja berangkat pagi- pagi meninggglkan tempat kosku menuju tempat kos seorang akhwat yang sudah menjadi pelanggan setiaku. Hampir setiap hari ia membeli kue buatanku itu, dan entah mengapa akhir- akhir ini ia selalu memasang wajah yang berbinar- binary dihadapanku, bak orang yang tertimpa durian runtuh. Aku mulai penasaran dan akhirnya kak Tenri membuka pembicaraan pagi ini. “ De’ sebentar saya mau kerumah’ta belajar buat kue, bisa jeki’?” Tanya kak Tenri sambil tertawa kecil. “ wah….boleh dong kak…dengan senang hati” “sebenarnya de…..” “ iye….kenapai kak?” ucapku dengan wajah yang penasaran “ sebenarnya de’, saya mau menikah bulan depan, jadi saya mau belajar memasak” Mendengar pernyataan kak Tenri, saya bukannnya kaget malah terkesima dan senang plus tersanjung. Terkesima dengan keberanian kak Tenri yang sudah memutuskan menikah diusianya yang masih muda, menurutku. Dan senang….akhirnya ada seorang akhwat lagi yang mau menikah yang artinya akan menambah keluarga- keluarga Islam yang akan berjuang menegakkan syariah dimuka bumi ini dan akan melahirkan calon pejuang- pejuang Islam. Saya juga tersanjung, tumben….ada akhwat yang mau berguru sama saya, padahal saya lebih muda darinya, but…..mungkin karena saya memiliki ilmu dibidang tata boga, jadi tidak mengherankanlah bila saat ini banyak yang ingin menjadikan saya sebagai juru dan guru masak. He..he..he… syukurlah….. Hobi masak mendatangkan rezeki, yah….begitulah cara Allah menolong hamba- hambanya. Tatkala saya membutuhkan sesuatu, insya Allah pasti dikabulkan. Karena saya yakin bahwasanya Allah tidaklah memberikan apa yang kita inginkan melainkan apa yang sebenarnya kita butuhkan. Semester ini hampir dua bulan sudah saya berjualan kue pancake gulung aneka rasa di kampus. Menjajakannya pada teman- teman sekelas maupun teman- teman satu pengajian, entah saat penambahan tsaqofah, halaqoh maupun JM( jalasamanah )/ duduk bersama dalam rangka diskusi masalah universal, masalah umat hari ini.
Kelas yang masih kosong menunggu untuk diisi. Dari luar saya memandang, melihat meja dan bangku tak beraturan serta beberapa kertas bekas yang bertaburan diatasnya. Inilah kelas di Jurusan Arsitektur yang transparan dan seharusnya mengutamakan kebersihan dan kerapian. Namun, siapa sangka. Ternyata jauh dari kriterianya. Yang seharusnya rapi, bersih, lapang, indah dipandang mata bila perlu wangi dan sejuk. ***
Saya mulai memasuki kelas kosong itu, meletakkan ransel kemudian mengeluarkan laptop merah yang senantiasa setia menemaniku.kebetulan hari ini saya tak ada kuliah, kumanfaatkan saja untuk menulusuri dunia maya di kampus. Kunyalahkan laptop kemudian segera membuka akun facebuk. Dan mulai meng- update status….. tik…tik di keyboard “Bismillah..........peluklah mimpi- mimpimu....... buat ia jadi nyata..... melalui usaha yang maksimal, pemikiran yang cemerlang, pemahaman yang jelas, hati yang ikhlas, jiwa yang tenang, dan berdoalah dengan sepenuh jiwa dan kekhuysukan, insya Allah mimpi- mimpi indah itu akan jadi nyata, nothing impossible....if you try....and fighting! Itulah sepenggal status di akun facebuk- ku pagi ini. Bukan hanya bermaksud memotivasi teman- teman di jejaring sosial namun juga memotivasi diri sendiri. Karena dengan menulis saya juga bisa mengingatkan diri sendiri. Saat mendakwai orang, maka kuanggap juga mendakwai diri sendiri sebagai seorang hamba yang dhoif dan saya ingin mengukur seberapa besarnya nyali dan keberanian untuk menghadapi tantangan serta cobaan hidup yang harus dilewati, baik dunia nyata maupun di dunia maya. Selain melakukan aktivitas kampus seperti kuliah dan mengerjakan tugas perkuliahan, hal yang sering kulakukan di waktu senggang adalah membaca, menulis, memasak, melukis dan ngenet. Yah… bila ada waktu luang, namun, aktivitas di luar kampus juga senantiasa menungguku, menantikan sumbangsiku, kehadiranku, terutama dakwah. Yah….Aku tak bisa meninggalkannya, karena memang akulah yang membutuhkannya. Tanpa dakwah atau menyampaikan ilmu walau hanya sebait maka rasanya ada yang kurang dalam hidupku, yaitu ilmu… semakin ia disampaikan semakin ia bertambah. Itulah hakekat ilmu agar tidak mati. Dakwah….. yah, aktivitas yang memang sulit untuk di geluti, sangat sedikit orang yang mau terjun didalamnya karena dianggap beresiko, menantang dan penuh tanggung jawab, namun bila telah terbiasa maka dengan sendirinya tangan akan lincah menuliskannya dan lisan akan mudah mengucapkannya, salah satu contoh aktivis dakwah sekaligus trainer motivator yang cukup terkenal di negeri ini adalah Ustad Felix Y Siauw. Saya sangat mengagumi tulisan- tulisan beliau serta teknik dakwah beliau yang khas dan tampil apa adanya, bukan karena ada apanya. Ngomong- ngomong soal dakwah, sebenarnya saya belajar dari orang- orang yang ahli di bidang tersebut. Saya belumlah bisa dikatakan sebagai seorang aktivis dakwah, karena saya merasa tidak semua aktivitas saya diisi dengan hal-hal yang berbau dakwah, bisa dikatakan saya masih seringkali lalai dalam menjalankan perintah- Nya. Saya belum layak di katakan sebagai pengemban dakwah, karena memang saya belum memaksimalkan potensi yang saya miliki, waktu yang saya miliki untuk berdakwah, untuk agama saya. Saya masih sangat terbilang jauh dari kriteria pengemban dakwah professional semacam Alm. H.Zainuddin MZ, mamah Dedeh, AaGym,Uje,Uztad Yusuf Mansur, Uzt. Arifin Ilham, Uzt. Harits Abu Ulya, Uztads Felix dan banyak lagi pengemban dakwah yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena memang masih banyak yang belum saya tahu dan kenali. Bertumpuknya tugas kuliah di akhir semester ini, menjadikan saya semakin jauh dari aktivitas yang sudah sewajibnya saya emban sebagai umat Islam yaitu dakwah. Saya tak akan menyalahkan dosen yang memberikan tugas. Karena memang bukan salah mereka dan memang sudah menjadi hak dan kewajiban mereka untuk memberikan tugas pada mahasiswa yang diajarinya. Semua ini hanyalah masalah sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini. Tidak salah lagi. Akankah diri ini pasrah saja? Tentu tidak, solusinya bukan dengan pasrah apalagi berdiam diri. Yah…. Cerdas dalam membagi waktu, itulah salah satu solusi yang dapat saya terapkan. Padatnya jadwal ngampus, menumpuknya tugas, jualan kue dan lain-lain, tentunya saya harus punya inisiatif untuk mengaturnya. Namun, itulah saya. Seberapa maksimal usaha saya dalam membagi waktu, tetap saja ada yang terlupakan. Saya memang kadang melupakan suatu hal yang tak seharusnya saya lupakan alias urgent. Bagaimana dengan dakwah, apakah pantas saya melupakannya? Apakah pengemban dakwah itu harus pelupa? Tentu saja jawabannya adalah tidak. I will be try and changed! I must…. Demi perjuangan meraih janji Allah SWT.
BISAKAH SE- IKHLAS LEBAH?
Warnanya kuning, dengan garis hitam dibadannya. Ukurannya kecil dengan dua sayap kecil dipunggungnya. Dialah lebah….. Lebah yang menghasilkan cairan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lebah senantiasa menghisap sari- sari bunga atau yang biasa kita sebut nektar. Lebah menghisap nectar tanpa merusak bunga yang ia hinggapi. Lebah memiliki mata yang cukup besar untuk ukurannya yang kecil, ia memiliki kaki, perut, rahang, antena, kepala, sayap dan juga sengatan untuk menghindari musuh namun manusia menggunakan sengat lebah sebagai pengobatan akupuntur yang berkhasiat bagi kesehatan. Lebah tentunya diciptakan Allah bukan hanya sekedar penciptaan saja. Namun ia memiliki banyak manfaat bagi kehidupan dan berperan dalam siklus kehidupan. Lebah, ia adalah hewan kecil yang senantiasa bekerja keras. Mengabdi pada sang ratu lebah. Ia tak memikirkan dirinya sendiri, ia adalah hewan yang suka bekerja sama dan pantang menyerah. Ukurannya kecil, tapi ia hewan yang kuat. Kekuatannya untuk terbang mencari sumber kehidupan tak pantas kita ragukan lagi, lebah terbang dari pohon ke pohon mencari sari- sari bunga. Ia menghisap sari bunga, lantas apakah bunga itu akan mati setelah ada lebah yang menghisap sarinya? Tentu saja tidak. Justru lebah bisa membantu proses penyerbukan bunga. Itulah salah satu keistimewaan lebah. Ia dapat membantu perkawinan dan perkembangbiakan tanaman. Yang kita ketahui bahwa lebah hanyalah jenis serangga yang kadang dianggap sangat berbahaya karena memiliki sengatan yang sangat menyakitkan, atau bahkan mematikan. Namun,bukan itu maksud diciptakannya lebah, bukan untuk menyakiti, lebah hanya menyengat manakala ia mendapatkan gangguan ataupun serangan dari musuhnya ataupun manusia. Kita harusnya bersyukur. Bukankah lebah yang memproduksi madu dan menyimpannya dengan baik dalam sarangnya yang berbentuk unik. Bahkan kita pun bisa mengkonsumsi sarang lebah, yang biasa kita sebut dengan royal jelly. Nikmat bukan? Dan apakah lebah pernah marah dan menuntut ketika madu yang ia kumpulkan dengan susah payah harus diambil oleh manusia? Tidak kan? Bahkan manusia dapat menghasilkan banyak uang dari hasil penjualan madu yang diproduksi oleh sang lebah. Kita seharusnya bersyukur, kita masih bisa menikmati madu, yang sampai saat ini masih dapat kita jumpai di toko- toko maupun di supermarket. Mampukah kita se- ikhlas lebah? Lebah bekerja tanpa pamrih. Ia senantiasa mengabdi pada sang ratu lebah. Setiap satu sarang lebah terdapat satu ratu lebah pula. Dan tentunya ukuran ratu lebah lebih besar dibandingkan para prajurit/ para lebah pekerja. Lebah yang kita ambil madunya tak pernah balas dendam, ketika madu disarangnya telah habis kita peras dan disaring, maka ia akan membuat sarang baru lagi dan mulai mencari sari- sari bunga lagi untuk mengisi sarangya yang baru. Ia terus mengumpulkan sari bunga hingga sarangnya penuh, terjadi proses dalam perutnya hingga sari- sari/nektar bunga itu berubah menjadi cairan yang cukup kental yang kita sebut madu. Madu yang sampai saat ini masih terjual dengan harga yang relatif tinggi. Tak semua orang dapat menikmatinya. Jadi, beruntunglah orang yang masih bisa menikmati madu yang sangat berkhasiat bagi kesehatan. Al Qur'an menempatkan secara istimewa lebah madu menjadi sebuah surah yaitu An Nahl (Lebah Madu). Dalam salah satu ayatnya, “ Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah di mudahkan. Kemudian dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir”. (Surah An Nahl ayat 68-69). Bila lebah telah melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuhan dan tertera abadi dalam kitab suci Al- Quran. Lantas, apakah kita akan kalah patuhnya dengan lebah? Sedangkan kita mempunyai akal yang sehat dan masih memiliki hati. Dan bukankah surga menjadi tempat bagi orang- orang yang tunduk dan patuh kepada sang Khalik, ini janji Allah. Dan apakah kita sebagai manusia masih meragukan keajaiban penciptaan ini, masih percaya dengan tahayyul, mitos- mitos serta cerita- cerita yang bisa merusak aqidah kita? Tengoklah lebah…… Ia adalah makhluk kecil yang sangat patuh kepada Allah. Ia tak pernah mengeluh dan putus asa. Ia bahkan rela mati demi manusia. Dan tahukah kita, ketika sengat ekor lebah kita cabut karena dijadikan sebagai pengobatan akupuntur, maka bebrapa saat lebahpun akan mati. Begitu juga ketika diserang oleh musuhnya, lebah menusukkan sengatan ekornya berkali-kali ke epidermis/ kulit musuhnya sehingga merasa sakit. Namun, apa yang dilakukan lebah ini ternyata malah membuat sengatnya lepas (tertinggal) di kulit seseorang dan menarik alat sengat dan kantung sengat (yang memang menempel pada sengatnya), dan dalam beberapa menit kemudian lebah pun mati.
Sudahkah kita sekuat lebah? Seikhlas lebah? Sepatuh lebah? Padahal, kita adalah mahkluk yang lebih istimewa dibandingkan lebah. Ataukah kita merasa tidak istimewa, sehingga kita hanya melakukan hal- hal yang biasa saja. Makan, minum, tidur, bekerja….. padahal hidup ini adalah beribadah kepadanya. Segala aktivitas yang kita lakukan saat ini hanyalah sebagai wujud penghambaan kita kepada- Nya. Wallahu’ alam bi’ shawab……
BISAKAH SE- IKHLAS LEBAH?
Warnanya kuning, dengan garis hitam dibadannya. Ukurannya kecil dengan dua sayap kecil dipunggungnya. Dialah lebah….. Lebah yang menghasilkan cairan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lebah senantiasa menghisap sari- sari bunga atau yang biasa kita sebut nektar. Lebah menghisap nectar tanpa merusak bunga yang ia hinggapi. Lebah memiliki mata yang cukup besar untuk ukurannya yang kecil, ia memiliki kaki, perut, rahang, antena, kepala, sayap dan juga sengatan untuk menghindari musuh namun manusia menggunakan sengat lebah sebagai pengobatan akupuntur yang berkhasiat bagi kesehatan. Lebah tentunya diciptakan Allah bukan hanya sekedar penciptaan saja. Namun ia memiliki banyak manfaat bagi kehidupan dan berperan dalam siklus kehidupan. Lebah, ia adalah hewan kecil yang senantiasa bekerja keras. Mengabdi pada sang ratu lebah. Ia tak memikirkan dirinya sendiri, ia adalah hewan yang suka bekerja sama dan pantang menyerah. Ukurannya kecil, tapi ia hewan yang kuat. Kekuatannya untuk terbang mencari sumber kehidupan tak pantas kita ragukan lagi, lebah terbang dari pohon ke pohon mencari sari- sari bunga. Ia menghisap sari bunga, lantas apakah bunga itu akan mati setelah ada lebah yang menghisap sarinya? Tentu saja tidak. Justru lebah bisa membantu proses penyerbukan bunga. Itulah salah satu keistimewaan lebah. Ia dapat membantu perkawinan dan perkembangbiakan tanaman. Yang kita ketahui bahwa lebah hanyalah jenis serangga yang kadang dianggap sangat berbahaya karena memiliki sengatan yang sangat menyakitkan, atau bahkan mematikan. Namun,bukan itu maksud diciptakannya lebah, bukan untuk menyakiti, lebah hanya menyengat manakala ia mendapatkan gangguan ataupun serangan dari musuhnya ataupun manusia. Kita harusnya bersyukur. Bukankah lebah yang memproduksi madu dan menyimpannya dengan baik dalam sarangnya yang berbentuk unik. Bahkan kita pun bisa mengkonsumsi sarang lebah, yang biasa kita sebut dengan royal jelly. Nikmat bukan? Dan apakah lebah pernah marah dan menuntut ketika madu yang ia kumpulkan dengan susah payah harus diambil oleh manusia? Tidak kan? Bahkan manusia dapat menghasilkan banyak uang dari hasil penjualan madu yang diproduksi oleh sang lebah. Kita seharusnya bersyukur, kita masih bisa menikmati madu, yang sampai saat ini masih dapat kita jumpai di toko- toko maupun di supermarket. Mampukah kita se- ikhlas lebah? Lebah bekerja tanpa pamrih. Ia senantiasa mengabdi pada sang ratu lebah. Setiap satu sarang lebah terdapat satu ratu lebah pula. Dan tentunya ukuran ratu lebah lebih besar dibandingkan para prajurit/ para lebah pekerja. Lebah yang kita ambil madunya tak pernah balas dendam, ketika madu disarangnya telah habis kita peras dan disaring, maka ia akan membuat sarang baru lagi dan mulai mencari sari- sari bunga lagi untuk mengisi sarangya yang baru. Ia terus mengumpulkan sari bunga hingga sarangnya penuh, terjadi proses dalam perutnya hingga sari- sari/nektar bunga itu berubah menjadi cairan yang cukup kental yang kita sebut madu. Madu yang sampai saat ini masih terjual dengan harga yang relatif tinggi. Tak semua orang dapat menikmatinya. Jadi, beruntunglah orang yang masih bisa menikmati madu yang sangat berkhasiat bagi kesehatan. Al Qur'an menempatkan secara istimewa lebah madu menjadi sebuah surah yaitu An Nahl (Lebah Madu). Dalam salah satu ayatnya, “ Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah di mudahkan. Kemudian dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir”. (Surah An Nahl ayat 68-69). Bila lebah telah melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuhan dan tertera abadi dalam kitab suci Al- Quran. Lantas, apakah kita akan kalah patuhnya dengan lebah? Sedangkan kita mempunyai akal yang sehat dan masih memiliki hati. Dan bukankah surga menjadi tempat bagi orang- orang yang tunduk dan patuh kepada sang Khalik, ini janji Allah. Dan apakah kita sebagai manusia masih meragukan keajaiban penciptaan ini, masih percaya dengan tahayyul, mitos- mitos serta cerita- cerita yang bisa merusak aqidah kita? Tengoklah lebah…… Ia adalah makhluk kecil yang sangat patuh kepada Allah. Ia tak pernah mengeluh dan putus asa. Ia bahkan rela mati demi manusia. Dan tahukah kita, ketika sengat ekor lebah kita cabut karena dijadikan sebagai pengobatan akupuntur, maka bebrapa saat lebahpun akan mati. Begitu juga ketika diserang oleh musuhnya, lebah menusukkan sengatan ekornya berkali-kali ke epidermis/ kulit musuhnya sehingga merasa sakit. Namun, apa yang dilakukan lebah ini ternyata malah membuat sengatnya lepas (tertinggal) di kulit seseorang dan menarik alat sengat dan kantung sengat (yang memang menempel pada sengatnya), dan dalam beberapa menit kemudian lebah pun mati.
Sudahkah kita sekuat lebah? Seikhlas lebah? Sepatuh lebah? Padahal, kita adalah mahkluk yang lebih istimewa dibandingkan lebah. Ataukah kita merasa tidak istimewa, sehingga kita hanya melakukan hal- hal yang biasa saja. Makan, minum, tidur, bekerja….. padahal hidup ini adalah beribadah kepadanya. Segala aktivitas yang kita lakukan saat ini hanyalah sebagai wujud penghambaan kita kepada- Nya. Wallahu’ alam bi’ shawab……