Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah, Because...... SYARIAH WA KHILAFAH IS OUR SOLUTION....for All Problem in our Life.....
Sabtu, 28 Juli 2012
YUK KITA BACA SIRAH NABAWIYAH^_^
Executive Summary Of Sirah Nabawiyyah
“Sisi Politis Perjuangan Rasulullah SAW”.
Karya : Prof. Dr.Muh. Rawwas Qol’ ahji
Bab ( I )Pertama, membicarakan tentang upaya menyiapkan kondisi yang mendukung tegaknya sebuah institusi yakni Negara Islam ( Khilafah Islamiyyah ) dibawah kepemimpinan Rasulullah Sallallahu alaihi’ wasallam, yaitu dengan menyiapkan kondisi dunia dalam keadaan sangat membutuhkan sebuah Negara yang mampu mensejahterahkan yakni Negara Islam. Dan dalam bab ini juga banyak mengkisahkan dan menceritakan mengenai pribadi Rasulullah sallallahu alaihi’ wasallam. Sejak beliau dilahirkan hingga dewasa.
Bab ( II )kedua, menceritakan tentang Rasulullah sallallhu alaihi’wasallam. Menerima kepemimpinan setelah sempurnanya persiapan untuk itu, memulai aktivitas mengumpulkan kekuatan untuk mendirikan Negara Islam dan usaha- usaha kelompok penentang dengan memblokade perluasan pengaruh Negara Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah sallallahu alaihi’wasallam.
Bab ( III )Ketiga, mengisahkan dan membahas tentang Rasullullah Sallallhu alaihi’wasallam, mencari tempat ( tempat yang strategis)untuk mendirikan Negara Islam guna memelihara akidah ilahiyah ( idiologi Islam ) dan menegakkan hukum- hukum yang disyariatkan oleh Allah. Dan sejauh mana keberhasilannya dalam menyukseskan suksesi kepemimpinan, serta dalam pembangunan elemen- elemen Negara Islam yang efesien ditempat yang baru itu ( Madinah al Munawarrah)
Bab ( IV )keempat, membahas tentang proklamasi berdirinya Daulah Islam secara politik dan resmi di Madinah Al- Munawarrah, setelah adanya persiapan yang sangat matang untuk proklamasi tersebut.
Bab ( V )Kelima, membahas tentang mulainya terjadi pergolakan dan berbagai genjatan senjata antara Negara Islam dibawah kepemimpinan Rasullullah dengan para musuh- musuhnya, dan penyusunan berbagai macam program perpolitikan yang diatur secara cermat dan penuh ketelitian yang diatur langsung oleh Rasulullah sallallahu alaihi’ wassallam, untuk membersihkan musuh- musuhnya kelompok demi kelompok. Pemebersihan itu dimulai dari komunitas/ kelompok Yahudi, lalu kemudian para komunitas musyrikin, dan terakhiir dari kominitas perpolitakan lainnya yang memusuhi dan secara langsung maupun tidak langsung memerangi Negara Islam kala itu.
Bab ( VI )Keenam, mengisahkan tentang proklamasi kekuasaan Negara Islam atas semua wilayah yang ada di semenanjung Jazirah Arab, dan peralihan orang- orang dibawah kekuasaannnya untuk dijaga kemuliaannya dan keamanannya, hal ini tentunya sangat memperhatikan segala bentuk urusan dan kebutuhan ummat kala itu, perhatian Negara Islam meliputi masalah administrasi dan pendidikan dan lain sebagainya.
Bab ( VII )Ketujuh, mengabarkan tentang sakit dan wafatnya Rasulullah sallalhu alaihi wasallam. Serta pelantikan khalifah yang akan menjalankan urusan- urusan kaum muslimin yaitu Abu Bakar as- shiddiq sebagai khalifah yang dibaiat ( dipilih )setelah wafatnya Rasulullah sallallahu alaihi’ wasallam. Yang kemudian akan menjalankan wasiat serta apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah selama masa kepemimpinan beliau.
PACARAN MENURUT ISLAM
BAGAIMANA PACARAN MENURUT ISLAM ?
Bagaimana pandangan Ibnu Qoyyim tentang hal ini ? Kata Ibnu Qoyyim, ” Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta. Malah, cinta diantara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan. Karena bila keduanya telah merasakan kenikmatan dan cita rasa cinta, tidak boleh tidak akan timbul keinginan lain yang tidak diperoleh sebelumnya. “
” Bohong !” Itulah pandangan mereka guna membela hawa nafsunya yang dimurkai Allah, yakni berpacaran. Karena mereka telah tersosialisasi dengan keadaan seperti ini, seolah-olah mengharuskan adanya pacaran dengan bercintaan secara haram. Bahkan lebih dari itu mereka berani mengikrarkan, bahwa cinta yang dilahirkan bersama dengan sang pacar adalah cinta suci dan bukan cinta birahi. Hal ini didengung-dengungkan, dipublikasikan dalam segala bentuk media, entah cetak maupun elektronika. Entah yang legal maupun ilegal. Padahal yang diistilahkan kesucian dalam islam adalah bukanlah semata-mata kepemudaan, kegadisan dan selaput dara saja. Lebih dari itu, kesucian mata, telinga, hidung, tangan dan sekujur anggota tubuh, bahkan kesucian hati wajib dijaga. Zinanya mata adalah berpandangan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, zinanya hati adalah� membayangkan dan menghayal, zinannya tangan adalah menyentuh tubuh wanita yang bukan muhrim. Dan pacaran adalah refleksi hubungan intim, dan merupakan ring empuk untuk memberi kesempatan terjadinya segala macam zina ini.
Rasulullah bersabda,
” Telah tertulis atas anak adam nasibnya dari hal zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tak dapat tidak. Zinanya mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah berjalan, zina hati adalah ingin dan berangan-angan. Dibenarkan hal ini oleh kelaminnya atau didustakannya.”
Jika kita sejenak mau introspeksi diri dan mengkaji hadist ini dengan kepala dingin maka dapat dipastikan bahwa segala macam bentuk zina terjadi karena motivasi yang tinggi dari rasa tak pernah puas sebagai watak khas makhluk yang bernama manusia. Dan kapan saja, diman saja, perasaan tak pernah puas itu selalu memegang peranan. Seperti halnya dalam berpacaran ini. Pacaran adalah sebuah proses ketidakpuasan yang terus berlanjut untuk sebuah pembuktian cinta. Kita lihat secara umum tahapan dalam pacaran.
1. Perjumpaan pertama, yaitu perjumpan keduanya yang belum saling kenal. Kemudian berkenalan baik melalui perantara teman atau inisiatif sendiri. hasrat ingin berkenalan ini begitu menggebu karena dirasakan ada sifat2 yang menjadi sebab keduanya merasakan getaran yang lain dalam dada. Hubungan pun berlanjut, penilaian terhadap sang kenalan terasa begitu manis, pertama ia nilai dengan daya tarik fisik dan penampilannya, mata sebagai juri. Senyum pun mengiringi, kemudian tertegun akhirnya , akhirnya jantung berdebar, dan hati rindu menggelora. Pertanyaan yang timbul kemudaian adalah kata-kata pujian, kemudian ia tuliskan dalam buku diary, “Akankah ia mencintaiku.” Bila bertemu ia akan pandang berlama-lama, ia akan puaskan rasa rindu dalam dadanya.
2. Pengungkapan diri dan pertalian, disinilah tahap ucapan I Love You, “Aku mencintaimu”. Si Juliet akan sebagai penjual akan menawarkan cintanya dengan rasa malu, dan sang Romeo akan membelinya dengan, “I LOve You”. Jika Juliet diam dengan tersipu dan tertunduk malu, maka sang Romeo pun telah cukup mengerti dengan sikap itu. Kesepakatan pun dibuat, ada ijin sang romeo untuk datang kerumah, “Apel Mingguan atau Wakuncar “. Kapan pun sang Romeo pengin datang maka pintu pun terbuka dan di sinilah mereka akan menumpahkan perasaan masing-masing, persoalanmu menjadi persoalannya, sedihmu menjadi sedihnya, sukamu menjadi riangnya, hatimu menjadi hatinya, bahkan jiwamu menjadi hidupnya. Sepakat pengin terus bersama, berjanji sehidup semati, berjanji sampai rumah tangga. Asyik dan syahdu.
3. Pembuktian, inilah sebuah pengungkapan diri, rasa cinta yang menggelora pada sang kekasih seakan tak mampu untuk menolak ajakan sang kekasih. ” buktikan cintamu sayangku”. Hal ini menjadikan perasaan masing-masing saling ketergantungan untuk memenuhi kebutuhan diantara keduanya. Bila sudah seperti ini ajakan ciuman bahkan bersenggama pun sulit untuk ditolak. Na’udzubillah
Begitulah akhirnya mereka berdua telah terjerumus dalam nafsu syahwat, tali-tali iblis telah mengikat. Mereka jadi terbiasa jalan berdua bergandengan tangan, canda gurau dengan cubit sayang, senyum tawa sambil bergelayutan, dan cium sayang melepas abang. Kunjungan kesatu, kedua, ketiga, keseratus, keseribu, dan yang tinggal sekarang adalah suasana usang, bosan, dan menjenuhkan percintaan . Segalanya telah diberikan sang juliet, Juliet pun menuntut sang Romeo bertanggung jawab ? Ternyata sang romeo pergi tanpa pesan walaupun datang dengan kesan. Sungguh malang nasib Juliet.
Wahai para Muslimah sadarlah akan lamunan kalian , bayang-bayang cinta yang suci, bukanlah dengan pacaran , cobalah pikirkan buat kamu muslimah yang masih bergelimang dengan pacaran atau kalian wahai pemuda yang suka gonta-ganti pacar. Cobalah jawab dengan hati jujur pertanyaan-pertanyaan berikut dan renungkan ! Kami tanya :
1. Apakah kamu dapat berlaku jujur tentang hal adegan yang pernah kamu kamu lakukan waktu pacaran dengan si A,B,C s/d Z kepada calon pasangan yang akan menjadi istri atau suami kamu yang sesungguhnya ? Kalau tidak kenapa kamu berani mengatakan, pacaran merupakan suatu bentuk pengenalan kepribadian antara dua insan yang saling jatuh cinta dengan dilandasi sikap saling percaya ? Sedangkan kenapa kepada calon pasangan hidup kamu yang sesungguhnya kamu berdusta ? Bukankah sikap keterbukaan merupakan salah satu kunci terbinanya keluarga sakinah?
2. Mengapa kamu pusing tujuh keliling untuk memutuskan seseorang menjadi pendamping hidupmu ? Apakah kamu takut mendapat pendamping yang setelah sekian kali pindah tangan ? ” Aku ingin calon pendamping yang baik-baik” Kamu katakan seperti ini tapi mengapa kamu begitu gemar pacaran, hingga melahirkan korban baru yang siap pindah tangan dengan kondisi ” Aku bukan calon pendamping yang baik” , bekas dari tanganmu, sungguh bekas tanganmu ?
3. Jika kamu disuruh memilih diantara dua calon pasangan hidup kamu antara yang satu pernah pacaran dan yang satu begitu teguh memegang syari’at agama, yang mana yang akan kamu pilih ? Tentu yang teguh dalam memegangi agama, ya Khan ? Tapi kenapa kamu berpacaran dengan yang lain sementara kamu menginginkan pendamping yang bersih ?
4. Bagaimana perasaan kamu jika mengetahui istri/ suami kamu sekarang punya nostalgia berpacaran yang sampai terjadi tidak suci lagi ? Tentu kecewa bukan kepalang. Tetapi mengapa sekarang kamu melakukan itu kepada orang yang itu akan menjadi pendamping hidup orang lain ?
5. Kalaupun istri/suami kamu sekarang mau membuka mulut tentang nostalgia berpacaran sebelum menikah dengan kamu. Apakah kamu percaya jika dia bilang kala itu kami berdua hanya bicara biasa-biasa saja dan tidak saling bersentuhan tangan ? Kalau tidak kenapa ketika pacaran bersentuhan tangan dan berciuman kamu bilang sebagai bumbu penyedap ?
6. Jika kamu nantinya sudah punya anak apakah rela punya anak yang telah ternoda ? Kalau tidak kenapa kamu tega menyeret Ortu kamu ke dalam neraka Api Allah ? Kamu tuntut mereka di hadapan Allah karena tidak melarang kamu berpacaran dan tidak menganjurkan kamu untuk segera menikah.
Karena itu wahai muslimah dan kalian para pemuda kembalilah ke fitrah semula. Fitrah yang telah menjadi sunattullah, tidak satupun yang lari daripadanya melainkan akan binasa dan hancur.
Inti dari pembahasan ini adalah “PACARAN ITU HARAM”
Sumber :
Ditulis oleh blog khilafahislamiyah pada Mei 17th, 2007
PACARAN MENURUT ISLAM
BAGAIMANA PACARAN MENURUT ISLAM ?
Bagaimana pandangan Ibnu Qoyyim tentang hal ini ? Kata Ibnu Qoyyim, ” Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta. Malah, cinta diantara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan. Karena bila keduanya telah merasakan kenikmatan dan cita rasa cinta, tidak boleh tidak akan timbul keinginan lain yang tidak diperoleh sebelumnya. “
” Bohong !” Itulah pandangan mereka guna membela hawa nafsunya yang dimurkai Allah, yakni berpacaran. Karena mereka telah tersosialisasi dengan keadaan seperti ini, seolah-olah mengharuskan adanya pacaran dengan bercintaan secara haram. Bahkan lebih dari itu mereka berani mengikrarkan, bahwa cinta yang dilahirkan bersama dengan sang pacar adalah cinta suci dan bukan cinta birahi. Hal ini didengung-dengungkan, dipublikasikan dalam segala bentuk media, entah cetak maupun elektronika. Entah yang legal maupun ilegal. Padahal yang diistilahkan kesucian dalam islam adalah bukanlah semata-mata kepemudaan, kegadisan dan selaput dara saja. Lebih dari itu, kesucian mata, telinga, hidung, tangan dan sekujur anggota tubuh, bahkan kesucian hati wajib dijaga. Zinanya mata adalah berpandangan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, zinanya hati adalah� membayangkan dan menghayal, zinannya tangan adalah menyentuh tubuh wanita yang bukan muhrim. Dan pacaran adalah refleksi hubungan intim, dan merupakan ring empuk untuk memberi kesempatan terjadinya segala macam zina ini.
Rasulullah bersabda,
” Telah tertulis atas anak adam nasibnya dari hal zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tak dapat tidak. Zinanya mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah berjalan, zina hati adalah ingin dan berangan-angan. Dibenarkan hal ini oleh kelaminnya atau didustakannya.”
Jika kita sejenak mau introspeksi diri dan mengkaji hadist ini dengan kepala dingin maka dapat dipastikan bahwa segala macam bentuk zina terjadi karena motivasi yang tinggi dari rasa tak pernah puas sebagai watak khas makhluk yang bernama manusia. Dan kapan saja, diman saja, perasaan tak pernah puas itu selalu memegang peranan. Seperti halnya dalam berpacaran ini. Pacaran adalah sebuah proses ketidakpuasan yang terus berlanjut untuk sebuah pembuktian cinta. Kita lihat secara umum tahapan dalam pacaran.
1. Perjumpaan pertama, yaitu perjumpan keduanya yang belum saling kenal. Kemudian berkenalan baik melalui perantara teman atau inisiatif sendiri. hasrat ingin berkenalan ini begitu menggebu karena dirasakan ada sifat2 yang menjadi sebab keduanya merasakan getaran yang lain dalam dada. Hubungan pun berlanjut, penilaian terhadap sang kenalan terasa begitu manis, pertama ia nilai dengan daya tarik fisik dan penampilannya, mata sebagai juri. Senyum pun mengiringi, kemudian tertegun akhirnya , akhirnya jantung berdebar, dan hati rindu menggelora. Pertanyaan yang timbul kemudaian adalah kata-kata pujian, kemudian ia tuliskan dalam buku diary, “Akankah ia mencintaiku.” Bila bertemu ia akan pandang berlama-lama, ia akan puaskan rasa rindu dalam dadanya.
2. Pengungkapan diri dan pertalian, disinilah tahap ucapan I Love You, “Aku mencintaimu”. Si Juliet akan sebagai penjual akan menawarkan cintanya dengan rasa malu, dan sang Romeo akan membelinya dengan, “I LOve You”. Jika Juliet diam dengan tersipu dan tertunduk malu, maka sang Romeo pun telah cukup mengerti dengan sikap itu. Kesepakatan pun dibuat, ada ijin sang romeo untuk datang kerumah, “Apel Mingguan atau Wakuncar “. Kapan pun sang Romeo pengin datang maka pintu pun terbuka dan di sinilah mereka akan menumpahkan perasaan masing-masing, persoalanmu menjadi persoalannya, sedihmu menjadi sedihnya, sukamu menjadi riangnya, hatimu menjadi hatinya, bahkan jiwamu menjadi hidupnya. Sepakat pengin terus bersama, berjanji sehidup semati, berjanji sampai rumah tangga. Asyik dan syahdu.
3. Pembuktian, inilah sebuah pengungkapan diri, rasa cinta yang menggelora pada sang kekasih seakan tak mampu untuk menolak ajakan sang kekasih. ” buktikan cintamu sayangku”. Hal ini menjadikan perasaan masing-masing saling ketergantungan untuk memenuhi kebutuhan diantara keduanya. Bila sudah seperti ini ajakan ciuman bahkan bersenggama pun sulit untuk ditolak. Na’udzubillah
Begitulah akhirnya mereka berdua telah terjerumus dalam nafsu syahwat, tali-tali iblis telah mengikat. Mereka jadi terbiasa jalan berdua bergandengan tangan, canda gurau dengan cubit sayang, senyum tawa sambil bergelayutan, dan cium sayang melepas abang. Kunjungan kesatu, kedua, ketiga, keseratus, keseribu, dan yang tinggal sekarang adalah suasana usang, bosan, dan menjenuhkan percintaan . Segalanya telah diberikan sang juliet, Juliet pun menuntut sang Romeo bertanggung jawab ? Ternyata sang romeo pergi tanpa pesan walaupun datang dengan kesan. Sungguh malang nasib Juliet.
Wahai para Muslimah sadarlah akan lamunan kalian , bayang-bayang cinta yang suci, bukanlah dengan pacaran , cobalah pikirkan buat kamu muslimah yang masih bergelimang dengan pacaran atau kalian wahai pemuda yang suka gonta-ganti pacar. Cobalah jawab dengan hati jujur pertanyaan-pertanyaan berikut dan renungkan ! Kami tanya :
1. Apakah kamu dapat berlaku jujur tentang hal adegan yang pernah kamu kamu lakukan waktu pacaran dengan si A,B,C s/d Z kepada calon pasangan yang akan menjadi istri atau suami kamu yang sesungguhnya ? Kalau tidak kenapa kamu berani mengatakan, pacaran merupakan suatu bentuk pengenalan kepribadian antara dua insan yang saling jatuh cinta dengan dilandasi sikap saling percaya ? Sedangkan kenapa kepada calon pasangan hidup kamu yang sesungguhnya kamu berdusta ? Bukankah sikap keterbukaan merupakan salah satu kunci terbinanya keluarga sakinah?
2. Mengapa kamu pusing tujuh keliling untuk memutuskan seseorang menjadi pendamping hidupmu ? Apakah kamu takut mendapat pendamping yang setelah sekian kali pindah tangan ? ” Aku ingin calon pendamping yang baik-baik” Kamu katakan seperti ini tapi mengapa kamu begitu gemar pacaran, hingga melahirkan korban baru yang siap pindah tangan dengan kondisi ” Aku bukan calon pendamping yang baik” , bekas dari tanganmu, sungguh bekas tanganmu ?
3. Jika kamu disuruh memilih diantara dua calon pasangan hidup kamu antara yang satu pernah pacaran dan yang satu begitu teguh memegang syari’at agama, yang mana yang akan kamu pilih ? Tentu yang teguh dalam memegangi agama, ya Khan ? Tapi kenapa kamu berpacaran dengan yang lain sementara kamu menginginkan pendamping yang bersih ?
4. Bagaimana perasaan kamu jika mengetahui istri/ suami kamu sekarang punya nostalgia berpacaran yang sampai terjadi tidak suci lagi ? Tentu kecewa bukan kepalang. Tetapi mengapa sekarang kamu melakukan itu kepada orang yang itu akan menjadi pendamping hidup orang lain ?
5. Kalaupun istri/suami kamu sekarang mau membuka mulut tentang nostalgia berpacaran sebelum menikah dengan kamu. Apakah kamu percaya jika dia bilang kala itu kami berdua hanya bicara biasa-biasa saja dan tidak saling bersentuhan tangan ? Kalau tidak kenapa ketika pacaran bersentuhan tangan dan berciuman kamu bilang sebagai bumbu penyedap ?
6. Jika kamu nantinya sudah punya anak apakah rela punya anak yang telah ternoda ? Kalau tidak kenapa kamu tega menyeret Ortu kamu ke dalam neraka Api Allah ? Kamu tuntut mereka di hadapan Allah karena tidak melarang kamu berpacaran dan tidak menganjurkan kamu untuk segera menikah.
Karena itu wahai muslimah dan kalian para pemuda kembalilah ke fitrah semula. Fitrah yang telah menjadi sunattullah, tidak satupun yang lari daripadanya melainkan akan binasa dan hancur.
Inti dari pembahasan ini adalah “PACARAN ITU HARAM”
Sumber :
Ditulis oleh blog khilafahislamiyah pada Mei 17th, 2007
MENJADI ISTIMEWA
MENJADI ISTIMEWA!
Hidup adalah pilihan dan pilihan hidup kita hanya ada dua, menjadi orang yang istimewa ataukah memilih menjadi orang yang biasa- biasa saja. Apapun pilihan kita pastilah ada investasi, konsekuensi dan resikonya. memilih untuk menjadi pribadi yang istimewa dibutuhkan investasi, konsekuensi serta resiko yang lebih dibandingkan dengan pilihan hidup orang yag biasa saja. oleh karena itu, pribadi istimewa itu tidaklah banyak jumlahnya. ibarat pertandingan sepak bola, penonton/ fans pastilah jumlahnya banyak dari pada dengan pemain. yang sedikit memang belum tentu baik, tapi yang baik pastilah jumlahnya sedikit.
Seseorang yang istimewa memilih untuk melakukan tindakan- tindakan yang tidak umum dilakukan orang- orang yang biasa saja.
Orang istimewa memilih untuk menanggapi sesuatu dengan cara yang berbeda dengan orang biasa. orang istimewa menolak untk melakukan hal- hal yang biasa, mereka selalu memberikan yang terbaik pada setiap perbuatan yang dilakukannya.
Karena perbedaan pilihan inilah, maka berbeda pula hasil yang kan didapatkan. makanya orang istimewa selalu menerima lebih dari pada orang biasa......
Manusia istimewa adalah manusia yang menempatkan dirinya untuk menghamba dengan penuh totalitas kepada Allah Azza wa jalla, Sang Maha Pencipta.
Apakah anda sudah menjadi orang yang istimewa? Setidaknya ada dua alat yang menjadi tolak ukurnya. Pertama, dengan melihat apakah kita termasuk kelompok orang yang sedikit atau yang banyak/ kebanyakan. Jika kita mampu konsisten untuk sholat shubuh berjamaah di Masjid berarti kita adalah oaring yang istimewa karena orang yang sholat berjamaah di Masjid itu jumlahnya tidaklah banyak. Jika seorang wanita mampu menutup auratnya dengan sempurna yakni mengenakan jilbab serta kerudung tidaklah banyak jumlahnya. Kedua, menjadi istimewa membutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Sahabat Rasulullah Sallallhu alaihi’ wasallam, Mus’ab bin Umair Ra, misalnya, mengorbankan hal- hal yang tak terkira untuk menjadi istimewa. Bahkan berkorban nyawa.
Keputusan ada ditangan kita, apakah mau menjadi orang yang istimewa ataukah
yang biasa- biasa saja?apabila kita memilih untuk menjadi istimewa maka konsekuensi yang lebih berat menanti kita, dan kita harus siap bergabung ke dalam kelompok yang sedikit jumlahnya serta harus siap di cap aneh/ orang asing oleh sebagian besar manusia biasa!
“ Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?”( TQS.al- Balad, ayat 10-11 )
(FR_rakyat Bandung)
Pengendalian Cinta-ku
Cinta… siapa sih yang tidak pernah merasakan cinta selama ia mengaku dirinya sebagai manusia yang masih normal. Sebagai pengemban dakwah atau aktivis dakwah yang masih seumur benih jagung saya juga pernah merasakan yang namanya jatuh cinta… atau Falling in Love…. Sulit dipungkiri dan saya tidak bisa mengelakkaannya. Cinta terhadap lawan jenis memang beda rasanya ketika mencintai orang tua, saudara ataupun sahabat. Sulit rasanya melukiskan perasaan ini ketika kita terjebak dalam sebuah perasaan fitrawi yang namanya Cinta.
Old time…. Saya sama sekali tidak berniat untuk memilih orang yang dianggap special untuk dicintai sebelum waktunya tiba. Sedari kecil dan menginjak usia baligh saya pernah bersumpah pada diri saya agar tidak pacaran. Saya lupa alasan pastinya apa. Saya hanya tak ingin membuang- buang waktu dan tenaga saya untuk aktivitas yang tidak penting. Kalaupun saya nantinya menyukai seseorang maka saya tak seharusnya menyatakannya. Saya lebih suka memendam perasaan. Saya yakin ini hanya perasaan suka atau kagum yang cenderung manusiawi dan biasanya hanya bersifat sementara, jadi saya tak harus mengepresikannya dengan pacaran atau apalah seperti halnya yang dingandrungi anak muda dewasa ini. Yang mana kebanyakan dari mereka berpacaran terutama pada masa pubertas atau usia baligh, dari SMP hingga Mahasiswa. Tapi, kini dunia semakin parah saja yah…. Anak seusia SD pun sudah mengenal yang namanya pacaran. Mereka pun telah berani menyatakan perasaannya ketika menyukai lawan jenisnya. Seingat saya dimasa SD dulu istilah pacaran masih sangat asing terdengar, dan orang akan sangat malu jika menyukai sesama teman SDnya. Bukan hanya itu, anak- anak kini lebih banyak menghapal lagu-lagu cinta alias lagu orang dewasa dibandingkan dengan lagu anak- anak. Apatah lagi didukung dengan produktivitas music dewasa yang berkembang pesat sedangkan lagu anak- anak semakin terkikis dan nyaris lenyap.
Selepas SD, SMP, SMA…. Saya terus membentengi diri saya dengan ilmu agar tidak terjerat pada aktivitas yang tak bermanfaat, seperti halnya dengan pacaran. Entah mengapa saya sangat membenci aktivitas yang digandrungi oleh kebanyakan generasi saat ini, yang seakan- akan hidupnya hambar tanpa aktivitas tersebut. Godaan begitu banyak, tapi hati cukup konsisten memegang komitmen yang telah saya ikrarkan beberapa tahun silam. Godaan cinta selalu saja datang menghampiri, tapi hati tetap saja menolak. Duduk dibangku SMA adalah ujian terberatnya. Mata yang senantiasa memandang, mulut yang merayu- rayu, SMS Cinta dan bentuk eksperi cinta telah datang mewarnai hari- hari saya selama masa putih abu- abu. Saya hanya bersikap santai mengahadapinya, saya merasa ini adalah sesuatu yang wajar jika sesorang ada yang menyukai kita, terutama ketika hanya mengukur perasaan cintanya dengan penampakan fisik dari orang yang dicintainya. Saya tidak pernah merasa sombong dengan apa yang saya miliki. Kecantikan? Kecantikan adalah sesuatu yang relative…. Cerdas? Entahlah, semua orang bisa…. Sifat? Saya masih jauh dari kesempurnaan sebagai muslimah. I remember…. Ketika ada yang menyatakan cinta kepada saya, maka saya akan berkata “ Why?”…. yah kenapa? Kenapa anda menyukai saya? Apa karena wajah saya? Sifat saya? Atau ada alasan lainnya. Kebanyakan dari mereka berkata bahwasanya saya adalah wanita yang berbeda dari wanita pada umumnya, cantik sudah pasti. Rayuan gombal….. saya sungguh geli mendengarnya. Saya sudah berusaha menahan pandangan, membatasi diri dari pergaulan dengan lawan jenis. Tapi toh ada saja yang masih berani menyatakan cintanya saat itu. Tentu jawaban yang saya layangkan adalah tidak… saya pikir tidak ada jawaban selain tidak.
But, entah kenapa setelah saya memasuki bangku perkuliahan semester awal, saya melanggar komiten saya sendiri yang telah saya rawat selama bertahun- tahun dan akhirnya luluh pada teman saya sendiri. Teman yang kini berada jauh dipelupuk mata. Ia kuliah di Bandung dan saya di Makassar. Kami sangat jarang bertemu. Tapi dan kenapa? Dua kata yang yang sebenarnya bukan menjadi alasan saya untuk melanggar prinsip itu.
Saya tidak berpikir untuk memiliki pacar, tapi dalam rangka menjadikannya sebagai calon suami. Suatu waktu saya bermimpi tentangnya, entah kenapa ia bisa masuk dalam mimpi saya. Mimpi itu terus saja berputar- putar dikepala saya. Dan pada suatu waktu, lewat dunia maya, teman saya tersebut menyatakan perasaannya kepada saya. Jawaban yang saya berikan adalah…. Iya? What? Saya juga tak habis pikir, kenapa secepat itu saya memberikan jawaban, yang awalnya saya anggap sebagai pertanyaan candaan tapi toh saya luluh dan syaiton pun semakin menggoda saya, memudahkan saya untuk berkata “ Yah”.
Ada rasa sesal? Itu sudah pasti, apalagi ilmu saya tentang Islam semakin bertambah saat mengenyam pendidikan di kampus, basicnya pun sebenarnya saya telah mendapatkan sedikit pemahaman Islam sedari SMA dulu, dan salah satunya betapa Islam sangat melarang aktivitas yang namanya ‘Pacaran’. Tapi….yah ada banyak kata tapi… tapi toh saya terbukti melanggar aturan Allah SWT.
Semester dua…. Saya pun memutuskan untuk menghentikannya, hubungan saya dengan teman saya terbilang sangat cepat, hanya bertahan beberapa bulan. Dan saya sendirilah yang memutuskan tidak melanjutkannya, untuk tidak melanjutkan hubungan yang diharamkan Allah ini. Pacaran sungguh perbuatan yang sia- sia. Untunglah saya dan dia jarang bertemu, kami dibatasi ruang dan waktu. Hubungan pun tak lebihnya hanya seperti pertemanan saja. Jadi sebenarnya kami tak pacaran…… karena saya memang tak pernah suka dengan yang namanya pacaran dan tak akan mengulanginya lagi. Cukup hanya sekali melakukan kesalahan ini. I am promise!!!
Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan orang- orang yang senantiasa berjuang dijalan Allah, bersama dengan merekalah saya mengenal Islam jauh lebih dalam untuk setiap waktunya. Hari demi hari saya usahakan untuk mempertajam keilmuan saya, walaupun terkadang juga jatuh pada kelalaian dan kemalasan, tapi saya tidak membiarkan itu menjadi kebiasaan saya. Yakinlah semua berawal dari keterpaksaan…. Memang seharusnya memaksakan diri agar menjadi sebuah kebiasaan dan karakter diri.
Karena hidup adalah pilihan…. Akhirnya saya berjanji dengan sepenuh hati bahwasanya saya tidak akan menerima cinta yang tak halal dimata Allah SWT. Seperti halnya dengan pacaran, saya tidak akan memasukkannya dalam peta dan kamus hidup saya. Pacaran, kata ini harus saya benci dan harus saya buang sejauh yang saya bisa dari benak ini. Benci karena Allah dan cinta karena Allah… Insya Allah….. keep hamasah…keep istiqamah…. Aamiin Ya Rabb….
Saya hanya akan mencintai seseorang yang pantas untuk saya cintai. Yaitu….. suami saya kelak, suami yang mencintai saya karena Allah dan saya pun mencintainya kerena Allah, dan kami pun saling mencintai karena Allah dibawah naungan cinta yang halal dan suci yakni melalui jalur pernikahan yang sakral. Suami saya adalah seorang imam yang senantiasa membimbing saya menuju ridho- Nya. Suami saya adalah seorang lelaki yang penuh tanggung jawab, senantiasa menunjukkan cinta dan kasih sayangnya terhadap anak- anak kami kelak. Suami saya adalah seorang mujahid yang memperjuangkan Syariah dan Khilafah…. Aamiin Ya Rabb…. Saya akan menunggu hingga waktunya tiba…. Semua akan indah pada waktunya…. Saya ingin menerangkan kepada seluruh saudari seiman bahwa betapa indahnya hidup dibawah cinta Ilahi….. bersabarlah ukhtifillah, Man shabara zhafira….^_^
Jumat, 27 Juli 2012
Dakwah, Ketika Anaa dicuekin
DAKWAH, KETIKA ANAA DICUEKIN…
By: Arini Arief (Aerin_Nahl)
Dakwah…. Kata ini sungguh berat diucapkan bagi mereka yang tak biasa mengucapkannya apatahlagi menggelutinya sebagai sebuah aktivitas rutin dalam kehidupan sehari- hari. Sungguh terasa amat banyak cobaan serta ujiannya.
Dakwah…. Dulu kata ini masih asing ditelingaku, apalagi untuk mengucapkannya. Sangat jarang! Mungkin saya hanya mengucapkannya takkala tengah menbaca buku atau mendengarnya melalui TV atau media elektronik semacam Radio. Namun kini…..
Dakwah menjadi bagian dari hidup saya. Saya pun tak pernah berpikir sebelumnya untuk menjadi seorang yang akan mengemban amanah berat ini, dakwah. Aktivitas dakwah baru saya ketahui dan kenal saat mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. Saya memilih jalan ini karena saya berpikir jalan inilah yang memang harus ditempuh oleh seorang yang mengaku dirinya Muslim. Yah…. ternyata setiap muslim memiliki kewajiban untuk mengemban dakwah. Kewajiban ini saya ketahui semenjak saya aktif mengikuti kajian rutin tiap pekannya bersama sang Musrifah. Kata yang pada mulanya masih kaku untuk saya ucapkan apalagi untuk menjadi bagian dari hidup saya lambat laun menjadi biasa.
Selalu bermula dari kebiasaan….
Memang berat, pasti sulit, ujian terus saja datang dan tak pernah henti. Itulah tantangan dalam mengemban risalah dakwah selama kaki masih berpijak di bumi ini. Jangan harap ada Istrahat. Karena Istrahat yang sebenarnya adalah di surga. Ketika kita memetik buah dari dakwah itu sendiri. Tunggulah saat itu tiba, sebuah kebahagiaan yang hakiki yang harus kita tebus mulai dari sekarang….
Berdakwah…. Membutuhkan perjuangan serta pengorbanan. Dakwah bukan sebuah pekerjaan yang pasang surut. Dakwah bukanlah rutinitas untuk meraih popularitas. Dakwah meminta kita untuk meluangkan waktu, mengerahkan seluruh tenaga, meneteskan keringat, mengeluarkan materi, meminta segalanya agar dakwah itu tetap ada dan terus berkobar seiring dengan semangat dari para pengembannya. Sungguh dakwah membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Setiap perjuangan dan pengorbanan itu semata- mata berharap meraih ridho Allah Azza Wa Jalla.
Dua tahun belakangan ini, saya tengah berusaha untuk menjadi pengemban dakwah. But…ilmu saya masih terbilang sangat sedikit, sehingga ruang dakwah pun masih sempit. Sulit rasanya berdakwah tanpa ilmu. Untuk itu, aktivitas menuntut ilmu dan mengemban dakwah haruslah berjalan beriringan. Rasulullah bersabda “ sampaikanlah walau satu ayat”. Ketika kembali kuingat dan kurenungkan kata ini, maka cukuplah menjadi penyemangat bagiku, yang artinya peluang untuk berdakwah memang amatlah jelas sangat dianjurkan walaupun ilmu kita seperti secuil debu. Allah tidak pernah bermaksud untuk menyusahkan hamba- Nya. Karena yang dibutuhkan hanyalah sebuah keberanian untuk melakukannya. Manakala kita berkomitmen untuk memperjuangkan diin ini, maka tidak ada kata “Impossible” selama kita yakin akan janji Allah…its possible…try and try
Ujian Pun Menghampiriku…
Selamat datang… saya selalu ingin menyambut setiap ujian yang saya rasa datang bukan untuk melemahkan saya, melainkan Allah mengirimnya justru untuk menguatkan saya, dan Allah pun pastilah melihat seberapa besar keimanan saya terhadap- Nya… demikianlah ujian yang telah tertuliskan. “ semakin tinggi keimanan seseorang, maka akan tinggi pula ujian yang akan dihadapinya”.
Begitu banyak motivasi dalam mengemban dakwah, dan begitu luas janji Allah kepada setiap orang yang setia dengan pilihan ini. Maka dari itu, ketika saya menangis setiap kali mengalami kesulitan dalam berdakwah, dan saya hanya berkeluh kesah dihadapan- Nya, bertanya apakah saya pantas ya Rabb? Jika Allah telah mengenalkan saya dengan dunia dakwah ini, berarti Allah telah memantaskan saya untuk ikut serta dalam perjuangan besar ini, yakni ikut andil dalam perjuangan mengembalikan kembali kehidupan Islam yang telah lama dirindukan, dalam bingkai syariah dan Khilafah Islamiyyah. Untuk mewujudkan cita- cita besar ini maka dibutuhkan orang- orang yang memiliki keyakinan kuat terhadap janji- Nya. Apakah saya bisa? Wallahu’alam bi ashawab…
Di kampus dan dilingkungan dimana saya tinggal, terus saja ada beraneka rupa cobaan serta godaannya. Mulai dari teman- teman perkuliahan. Ada yang terlampau hedonis namun ada juga yang sudah paham akan Islam. Tapi…. Yang mampu menerapakan Islam dalam kehidupan sehari- hari masih sangat jarang. Inilah kesulitan yang dialami sebagian besar aktivitas dakwah di kampus. Ketika saya mulai menyinggung permasalahan umat, maka sangat sedikit yang ingin mendengarkan pemaparan saya dengan saksama. Kadang juga ada yang antusias, tapi ketika saya ajak untuk ikut kajian yang lebih dalam atau sekedar ikut acara- acara yang bertemakan dunia Islam, bahkan tak ada satupun yang bisa hadir. Entah apa yang membuyarkan pemikiran mereka akan pentingnya menuntut ilmu, yang bukan hanya ilmu sains atau ilmu dunia, melainkan terhadap ilmu agama mereka sendiri. Saya tak bisa menyalahkan teman- teman saya 100%. Memang hidup adalah pilihan, dan ketika saya dicuekin saat mengajak mereka turut serta dalam acara- acara ke- Islaman ataupun kajian- kajian Islam, pastilah mereka juga sedang dihadapkan dengan dua atau beberapa pilihan sehingga ikut serta dalam kegiatan seperti ini kurang diminati karena dianggapnya menyita waktu dan tidak menyenangkan, atau dengan banyaknya alasan lain yang menurut saya bukan alasan melainkan sebuah kemalasan yang dialami oleh sebagian umat Islam saat ini.
Sedih…. Itu sudah pasti. Ketika ada teman kita yang menolak apa yang kita sampaikan dan menghindar setiap kali menghampirinya. Baguslah jika ia hanya diam mendengarkan, tapi bagaimana rasanya ketika ide yang kita sampaikan ditolak? Kertas bulletin berisi sejumlah fakta dan Islam juga ditolak mentah- mentah. Sungguh memiriskan hati bak diiris sembilu. Padahal apa yang kita sampaikan adalah sebuah fakta dan Islam selalu punya solusi untuk menjawab setiap problematika umat saat ini, saya hanya ditugaskan untuk menyampaikan. Ini sebuah kesadaran. Saya merasa sangat sedih jika saudara sendiri masih ada yang menolak… ketakutan itu masih menyelimuti sebagian umat Islam di dunia ini. Ketakutan terhadap Islam itu sendiri, yang selalu dianggap mengadopsi pemikiran serta aturan yang mengekang umatnya. Ketakutan terhadap Islam yang selalu diidentikkan dengan kasus- kasus terorisme dan aliran- aliran sesat. Sungguh ironis!!!
Selama sistem masih seperti ini, Negara Indonesia dan dunia masih mengadopsi sistem kufur semacam kapitalisme- sekularisme, maka kita tak bisa berharap untuk mengubah nasib generasi muda negeri ini menjadi lebih baik dan memiliki kesadaran yang tinggi. Hanyalah sebuah mimpi buruk bila mengharap ada perbaikan yang menyeluruh dari sebuah sistem yang busuk, yang sama sekali tak mampu melahirkan generasi cemerlang sebagaimana peradaban Keemasn Islam beberapa abad yang lalu yang terbukti mampu menciptakan kesejahteraan bagi seluruh alam berserta manusia. ONLY SYARIAH AND KHILAFAH ISLAMIYYAH! Allahu Akbarrr….
Life For Choise.....
Hidup Untuk Memilih
Didunia ini terlalu banyak pilihan. Manusia benar- benar akan disibukkan dengan berbagai macam pilihan dan aktivitas. Pilihan, adalah sesuatu yang harus direncanakan dan diputuskan dengan tepat. Tanpa pilihan maka hidup tak akan bermakna. Dengan pilihan kita dapat mengetahui siapa sebenarya kita, apa yang kita inginkan, dan apa tujuan hidup kita. Untuk itu, selalu ada pilihan dalam lika- liku kehidupan ini.
Actually…Life is choice…….
Dilapangan kita akan menyaksikan betapa banyak orang yang melakukan sesuatu yang berlainan dengan apa yang ia rencanakan. Ini merupakan cara yang salah dalam menyikapi sebuah pilihan.
Hidup adalah pilihan….
Dengan pilihan kita menjadi lebih tahu, antara yang benar dan yang salah. Bila pilihan yang kita ambil menjadikan kita terpuruk maka pastilah pilihan itu adalah salah. Dan bila pilihan yang kita ambil menjadikan kita lebih baik dan bertambah baik maka tepatlah pilihan kita.
Pilihan pada hakekatnya ada dua. Ya atau Tidak? Ya untuk kebaikan dan tidak untuk keburukan. Namun kita tengok saai ini. Apa yang terjadi atas diri manusia. Apakah manusia telah memilih sebuah pilihan yang tepat untuk dijadikan patokan dalam menjalani kehidupannya.
Saat ini kita berproses dan terus berproses. Entah ketahap yang lebih tinggi derajatnya ataukah malah sebaliknya. Manusia pastilah menginginkan sesuatu yang baik terjadi dalam hidupnya. Tapi entah mengapa, manusia masih banyak yang tersesat. Apa sebenarnya yang salah?
Mari kita lihat pilihan hidup kita. Adakah yang salah. Jika salah maka, ayo kita perbaiki. Mungkin saja pilihan kita salah, jika kita merasa terpuruk, tertekan, tersesat maka kemungkinan besar ada yang slah dalam setiap pilihan yang kita ambil. Yah….betapa berperannya sebuah pilihan itu. Jadi jangan pernah main- main dalam menentukan sebuah pilihan. Tapi dibutuhkan kesungguhan dan keyakinan.
Setiap pilihan adalah resiko
Yups….. setiap pilihan yang kita ambil untuk kita jalani pastilah ada resikonya. Jangan berani memilih jika tak sanggup menanggung resiko kemungkinan muncul dari setiap pilihan itu.
Yang terpenting adalah, kita mempunyai akal yang masih sehat maka sewajibnyalah memilih dengan benar dan tepat. Pilihan yang terbaik adalah pilihan yang direstui oleh Allah subhanahu wa’ta ala. pilihlah sesuatu yang diridhoi-Nya, dan jangan takut salah apalagi tersesat, karena bila hati telah tertautkan dengan hukum- hukum- Nya maka tidak sepatutnyalah kita memendam keraguan terhadap- Nya,kehendak- Nya dan juga takdir yang ditetapkan- Nya.
Man sara ala darbi washala….. siapa yang berjalan dijalan- Nya pasti akan sampai ketujuan. Yah….berjalanlah diatas kehendak- Nya. Jadikan setiap pilihan adalah tujuan perbaikan hidup kita, ada target dan jelas adanya. Pilihan hidup kita adalah pilihan yang sudah pasti berasal dari Sang Khalik. Pilihan hidup kita adalah pilihan yang berbalas surga. Begitulah Allah akan membalas pilihan hidup kita, yaitu senatiasa memilih untuk berjalan pada garis lurus yang telah ditetapkan- Nya.
Langganan:
Postingan (Atom)



