Now…My Life….
Udara segar di hari yang cerah, beberapa hari ini langit terlihat bersih. Awan memutih dan langit pun membiru, mengibur lara jadi bahagia. Mengubah duka jadi senyuman, mengubah pilu jadi semangat, mengubah sedih jadi senyuman.
Ah….. aku mulai bosan dengan tugas kuliah akhir- akhir ini. Semakin banyak dan semakin menumpuk saja. Aku membutuhkan tenaga ekstra, fisik yang harus tetap prima dengan semangat membara. Mungkinkah aku bisa menjaga semua itu? Ughh……akhir semester yang melelahkan…
“Sabar Rin…….seminggu lagi….”. hiburku dalam hati.
Siang ini matahari semakin terik saja, siap menggosongkan kulit yang tak tertutupi dengan kain. Yah….kasihan saja bagi wanita yang berkulit putih, bening atau apalah… bila terkena sinar matahari yang tentunya mengandung UVA dan UVB yang bisa saja menggelapkan dan menjadi sebab percepatan proses pengkeriputan ( penuaan dini ) dan tentunya dapat menyebabkan kanker kulit. Satu kata for your guys…. WASPADALAH!!!
Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas lebih lanjut tentang penuaan dini atau apapun namanya. Disini saya akan menceritakan aktivitas harian saya….motivasi saya…kelemahan saya dan bisa dikatakan analisis SWOT, SWOT stands for Strengths, Weaknesses, Opportunities and
Threats.…, but….. saya hanya ingin bercerita tentang kekuatan, peluang dan hambatan…he..he…
Peluang….. masih ada waktu, success? Why not ? walaupun hanya menjual kue...
Di subuh yang masih buta, belum ada cahaya mentari sedikit pun. Udara masih dingin, namun suhu didalam kamar mungilku tetap hangat. Sepertinya cocok untuk menyimpan adonan kue yang akan difermentasikan. Yah….yah… I know… I have idea….
Si Arin penjual kue….atau si rajin, hiperaktif…..apapun sebutan untukku akan kuterima dengan lapang dada alias dengan senang hati. Terserah pada kalian yang mengatakan aku ini manusia jenis apa dan berprofesi sebagai apa, silahkan saja menilaiku dari luar. Yang jelasnya dapat kupastikan bahwa diriku seperti manusia pada umummnya. Masih punya organ tubuh yang lengkap, dan yang pastinya memiliki perasaan hati nurani, rajin bukan dalam rangka burenk/ sok pintar, tapi sudah menjadi resiko manakala kita memilih menjadi seorang mahasiswa idiologis, harus rajin, disiplin, amanah n bertanggung jawab…cie..cie…. but I am is different……
How To make Pancake Gulung Ala Arin???
Setiap pagi buta, Aku bangun membuat adonan kue pancake. Pukul 04.00, adonan kue pun mulai dicampur dan diaduk. Telur, gula pasir, tepung terigu, ragi, garam, air dan mentega cair yang turut menyertainya ( pelengkap terakhir ), diaduk menjadi satu hingga membentuk sebuah adonan yang lembut…ehm…yummy….. all right….and stay with me…
Kurang lebih 1 jam 30 menit, adonan yang telah didiamkan pada suhu ruangan sekitar 18 0 C, telah mengembang dengan sempurna, naik sekitar 3 cm dari tinggi adonan 1 jam yang lalu. Aroma ragi yang terfermentasikan tercium sudah….saatnya menuju tempat peraduan didapur umum milik Pondok Terapung.
Yah…. Mari menghadap kekompor panas, wajan alias teplon mulai panas. Arin mulai menuang adonan sekitar 2 sendok diatas teplon, kemudian membuatnya menjadi lebar ( metode membuat dadar ataupun crepes ) dengan lebar sekitar 10 cm. next…mengambil setiap lembaran adonan yang telah siap untuk digulung bersama parutan keju dan coklat pasta ( favorit teman2 dikelas, by request Asta, Mba Lela, Muti, Tanti, Veo, Eka, Nunu, Endang, etc….)
Satu persatu kue yang sudah digulung ditumpuk diatas wadah plastik berukuran 10x 25cm. its perffect……akhirnya satu pekerjaan telah selesai. Siap untuk dijual dan dijajakan di areal kampus, khususnya di Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur Prodi PWK. And than…Menunggu para pelanggan untuk membeli, mudah- mudahan laris, in the day and next day…aamiin
Demikianlah….untuk hari yang sibuk- sibuknya( start Monday and closing Friday), saya tetap menyempatkan diri dan waktu untuk membuat kue, dikala yang lainnya masih tertidur dengan lelapnya. Saya tengah bangun lebih awal mendahului ayam jantan milik tetangga sebut saja namanya si Amin. Kadang mata masih ingin terpejam, tapi saya harus memaksakan diri untuk bangkit dan harus membiasakan diri. Profesi sebagai the young entrepreneur telah saya geluti kurang lebih 1 semester belakangan ini. Dari semester IV hingga semester ini ( V ), berharap seterusnya? I think….
Apa yang menjadikan saya seperti ini….???
Umur yang semakin bertambah? Ingin mandiri? Latar belakang keluarga yang hidupnya pas- pasan? Ingin mencari sesuatu yang baru? Kebutuhan bertambah? Bosan dengan aktivitas kampus? Ingin sukses?
Maybe all right…..one agains….because I am different….
Pada faktanya… walaupun kita sama- sama memiliki tangan, memiliki kaki, rambut, kepala…namun perlu diingat, kita memiliki proses hidup yang berbeda serta cara berfikir yang berbeda pula. Manusia…ada yang lebih cepat mengalami proses pendewasaan dalam berfikir maupun bertindak, namun ada juga yang lambat dan cenderung mengulur- ngulur waktunya untuk melakukan perubahan…ada yang pasrah, ada yang PW( posisi wenaak ), ada yang malas karena tak ada gairah hidup, ada yang happy saja karena merasa hidupnya telah sempurna.
Namun….berbeda dengan saya maupun Anda. Kita punya cara yang berbeda- beda kan dalam menjalani hidup dan mengartikan hidup? Yah….but, jangan sampai semua itu membuat kita berbeda dalam melihat kebenaran dan menterjemahkan sebuah kebenaran. Belum tentu apa yang kita pandang baik adalah benar di hadapan sang Khalik. Hidup butuh proses yang tentunya tak pernah lepas dari aturan- aturan- Nya, kecuali anda yang melepaskannya ( Quran dan sunnahtullah ).
Untuk zaman ini, mungkin mahasiswa yang menggeluti dunia bisnis bisa dikatakan hitungan jari, yah…. Sangat sedikit. Mungkin sekitar 5-10 % dari 100% mahasiswa yang menempuh pendidikan di PT.
Life Is Choise…Mari kita ubah hambatan jadi peluang!!!
Merasa berat dengan proses perkuliahan, tidak akan meringankan bila waktu lebih banyak dihabiskan untuk mengeluh dan berdiam diri. Walaupun otak saya tidak begitu cerdas, raga yang tidak begitu kuat, namun setidaknya saya masih memiliki hati untuk menyatukan pendapat yang dihasilkan otak dan menterjemahkannya direlung hati yang paling dalam yang tentunya membuat saya lebih kuat…to be thinking and feeling….positif, of Course!!!
Mungkin teman- teman akan bertanya, bagaimana saya mengatur waktu? Bagaimana dengan tugas kuliah yang semakin menumpuk? Bagaimana dengan waktu istrahat? Bagaimana dengan organisasi? Bagaimana dengan aktivitas dakwah? Apakah semua berjalan dengan baik?
Yah…..tidak semua aktivitas saya berjalan dengan lancar. Ada yang tertunda, namun tetap saya usahakan untuk mengerjakan aktivitas yang ada dan telah direncanakam sebelumnya. Dakwah….inilah yang acap kali dilupakan oleh sesorang muslim. Tak luput juga denganku. Aku tidak bermaksud untuk melupakan aktivitas ini, namun lebih kepada kondisi yang tidak memungkinkan dan ada- ada saja orang yang tidak senang mendengarkan dakwah Islam, tak luput dengan orang Islam itu sendiri. Hasilnya saya serahkan kepada Sang Khalik Yang Membolak- balikkan hati manusia. Saya hanyalah manusia yang mengalami proses kehidupan….
Mengeluh Bukan Solusi!
Mengeluh…..siapa sih yang tidak pernah mengeluh? Pasti setiap insan pernah mengeluh. Sudah menjadi fitrah manusia untuk mengeluh. Mengeluh karena merasa berat dengan pekerjaan, banyaknya tugas, banyaknya tagihan ( listrik, air, SPP, biaya kos2an,etc) merasa banyaknya cobaan hidup dan banyak lagi faktor yang mnyebabkan orang terlalu banyak mengeluh. Namun,jangan sampai keluh kesah membuat kita lalai dan akhirnya terlalu banyak mengeluh dan sedikit berbuat. Inilah yang menjadi penghambat kesuksesan seseorang. Biasanya karena terfokus pada perasaan mengeluh dan akhirnya kurang percaya diri enggan untuk intropeksi diri.
Yah….terlalu banyak masalah yang tak kunjung usai. Mengapa? Karena tak ada solusi yang tepat. Saya ingin memberi satu contoh bagaimana menangani masalah. Misalkan, bagi mahasisiwa yang hidupnya pas- pasan atau dana yang disuplai oleh ortu terbatas cukup untuk mengisi perut, trasnportasi, serta pembayaran kuliah yang lain. Pasti acapkali memutar otak, agar supaya dana yang disuplai dari ortu tidak cepat habis. Kuncinya adalah berhemat. Makan ala kadarnya ( tanpa mengurangi nilai gizi ), jangan melakukan aktivitas yang sebenarnya tidak berguna(shopping ke mall nda jelas githu, karokean, nongkrong di café, makan makanan sepat saji, junkfood atau apalah….)lebih sering berjalan kaki, bila jarak yang ditempuh memang masih bisa dengan bejalan kaki. Why not? Tidak ada kata gengsi untuk berbuat baik kan? Jalan kaki kan baik untuk kesehatan terutama untuk melancarkan peredaran darah dan pernapasan.
BACK TO QURAN….
Bila ada perasaan gengsi, maka saya tidak akan seperti saat ini. Saya tetap menjalani rutinitas saya. Kuliah, dakwah, berdagang, refreshing, etc…..Insyah Allah….setiap aktivitas yang kita kerjakan bila dilandasi dengan iman pasti akan berjalan dengan baik,walaupun banyak ujian serta cobaan yang menghadang. Bukankah Allah sudah menegaskan dalam al- Quran “ bahwasanya Allah tidak akan menguji manusia diluar dari batas kemampunannya”, Allah menguji sesorang hamba sesuai dengan kadar keimanannya, semakin ia beriman maka semakin tinggi pula ujian serta cobaan yang dialaminya. Dan Allah tidak akan mengubah nasib seseorang atau apa- apa yang ada pada diri seorang hamba, sebelum ia sendiri yang melakukan perubahan terhadap dirinya sendiri ( muhasabah diri yukkk… ). Wah….sepertinya terlalu banyak yang mesti kita pelajari dan begitu banyak hikmah yang bisa kita petik dari kitab suci Al- Quran. Begitu banyak motivasi hidup untuk beramal ma’aruf nahi mungkar, but sayangnnya…banyak yang notebenenya orang muslim namun hanya menjadikan Quran sebagai pajangan lemari, tertata diatas meja hingga berdebu dan usang.
Umat islam saat ini seperti buih dilautan….
Terombang ambing kehilangan arah….
Kehilanngan jati diri….
Memisahkan diri dari aturan- Nya
Menunggu ia hancur
Oh……jangan biarkan itu terjadi
Rapatkan barisan satukan tujuan….
Mari kita sonsong kembali peradaban emas
Khilafah Islamiyyah…
Allahu Akbar….!!!.( PuisiHati by Arin: Merindukan Khilafah)
Saya jadi teringat lagi dengan sebuah petikan kalimat yang pernah saya baca dari sebuah sumber bacaan dan mungkin sering kita dengar, “jika ingin menghancurkan umat Islam maka jauhkan mereka dengan kitabnya ( Quran )”, bahwasanya saat ini….yah….kita tidaklah diperangi secara fisik oleh musuh- musuh Allah ( yahudi dan sekutunya) namun lebih kepada perang pemikiran. Sadar atau tidak sadar, namun itulah yang sebenarnya terjadi dan seharusnya menjadi permasalahan bagi seluruh umat muslim yang mengaku dirinya sebagai umat Rasulullah dan sekaligus hamba Allah.
Bila kita telah mengetahui misi dari Yahudi dan sekutunya, seharusnya apa yang wajib kita lakukan? Buka mata dan hati…dan lihatlah…. Generasi muda kita tengah disibukkan dengan hal- hal duniawai. Konser, pertandingan olahraga, music, film, bioskop, kuliah asalan ( hanya menginginkan predikat, nilai atau gelar saja )…hingga mereka lalai dari mengingat Allah, sholat, sedekah, puasa mulai ditinggalkan…..akankah kita ingin seperti itu? Sebagai seorang Muslim sejati dengan secara tegas kita harus berani mengatakan “TIDAK” untuk segala bentuk kemaksiatan dan kedzaliman. Memang sulit…karena kita tidaklah berada dalam kondisi yang Islami. Sistem yang mengatur kita jauh dari kriteria Islam dan jauh dari apa- apa yang diperintahan Al- Quran yang sudah seharusnya menjadi pedoman hidup kita. Sekarang…. Serba kapitalis- sekularis. Gaya hidup bebas, freeseks….ekonomi kapiltalis, pendidikan kapitalis ( jadi barang komersialisasi) kesehatan, and many more…..
bersambung.............
Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah, Because...... SYARIAH WA KHILAFAH IS OUR SOLUTION....for All Problem in our Life.....
Minggu, 04 Desember 2011
Kamis, 03 November 2011
PUISI HATI : JANGAN BIARKAN HATI....
biarkan ia diam....
ia butuh ketenangan agar tetap jernih
biarkan ia merasakan
ia perlu tahu
biarkan ia terluka
agar ia tahu caranya mengobati
biarkan ia bergelora
agar ia tahu rasanya kasih sayang
ia adalah hati
hati yang sangat tulus
ia mudah tergoda
hati.....simpanlah ia pada cangkangnya
jangan kau buat ia sakit
karena ia mampu menyakiti yang lainnya
tatkala ia rusak
bernanah karena kesakitannya tak terobati.....
temuilah Tuhan Mu.
maka hatimu akan pulih
ia kan berseri kembali.....
ia butuh ketenangan agar tetap jernih
biarkan ia merasakan
ia perlu tahu
biarkan ia terluka
agar ia tahu caranya mengobati
biarkan ia bergelora
agar ia tahu rasanya kasih sayang
ia adalah hati
hati yang sangat tulus
ia mudah tergoda
hati.....simpanlah ia pada cangkangnya
jangan kau buat ia sakit
karena ia mampu menyakiti yang lainnya
tatkala ia rusak
bernanah karena kesakitannya tak terobati.....
temuilah Tuhan Mu.
maka hatimu akan pulih
ia kan berseri kembali.....
JADILAH PENGEMBAN DAKWAH ISLAM!!!
Umat Islam tidak akan pernah mengalami kemunduran dari posisinya sebagai pemimpin ( khalifah dimuka bumi ini) selama ia tetap berpegang teguh pada agamanya (Islam). Kemunduran kaum muslimin akan tampak tatkala mereka meninggalkan dan meremehkan ajaran- ajaran agamanya, membiarkan asing menyerbu dan menguasai negeri- negeri mereka, membiarkan pemahaman Barat bercokol dalam benak mereka dan dijadikan landasan atau acuan dalam berpikir dan bertindak.
Kemunduran Itu terjadi manakala kaum muslimin mengabaikan qiyadah fikriyah Islam. Yakni ketika mereka surut dalam mengemban dakwah Islam dan menyalahi pelaksanaan hukum- hukum Islam. Umat Isla akan jauh tertinggal, terpuruk, menderita apabila ia dijauhkan dari agamanya, begitulah upaya yang saat ini dilakukan oleh Negara- negara kapitalis- sekuler dalam memerangi kaum muslimin secara pemikiran, yakni menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya.
Yah….memang saat ini kita tidaklah diperangi secara secara fisik seperti halnya saudara- saudara kita di negeri Palestina yang mereka rasakan hingga detik ini. Tumpahan darah bahkan nyawa sekalipun rela mereka korbankan demi mempertahankan tanah mereka yang direnggut paksa oleh zionis Israel. Namun semangat mereka tidak pernah surut, dari generasi ke generasi berlanjut dan tetap melakukan hal yang serupa yakni melindungi umat muslim Palestina dan mempertahankan negeri mereka yang menyimpan banyak sejarah bemulanya peradaban emas Islam. Disamping itu, mereka yang terjajah dinegeri sendiri masih mampu mengemban dakwah, mengajarkan al- quran kepada anak- anak mereka dan menghapalkan ayat- ayat suci al- Quran diatas puing-puing bangunan yang dilululantahkan zionis Israel. Semangat mereka tidak pernah surut, lantas bagaimana dengan kita?
Negeri kita tidaklah diperangi secara fisik atau kekuatan militer. Namun lebih kepada perang pemikiran alias dicekoki dengan pemahaman- pemahaman yang kufur,yakni bermainnya berbagai sistem kufur diranah kehidupan kita hingga saat ini. mulai dari ideologi kapitalistik yang mana segalanya diukur dengan materi/uang dan permainan sistem kekuasaan, terlebih dari adanya pemahaman yang sekuleristik yakni pemisahan agama dari kehidupan.
Orang Barat berkata; bila ingin menghancurkan umat Islam maka jauhkan mereka dari al- Quran ( agamanya ) maka mereka akan hancur dengan sendirinya tanpa diperangi. Yah….miris kan hati kita mengetahui prihal tersebut? Dan memang begitu faktanya, umat Muslim semakin jauh meninggalkan agamnya. Apa yang seharusnya KITA lakukan sebagai umat Muslim???
Mengemban Dakwah…
Mengemban dakwah Islam saat ini cukuplah rumit bagi orang yang berpikiran sempit, namun akan terasa mudah bila dilakukan secara bersama- sama dan dengan cara bersungguh- sungguh. Mengemban dakwah juga hendakanya dilakukan dan dikembangkan dengan metode yang sama sebagaimana pada masa- masa sebelumnnya, yaitu dengan menjadikan metode/thariqoh Rasulullah SAW sebagai suri tauladan. Umat muslim tidak boleh berpaling sedikitpun dari metode yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, baik itu secara keseluruhan maupun dalam rinciannya dan tanpa memperhatikan perkembangan zaman. Sebab, yang berkembang hanyalah sarana dan bentuk kehidupan, sementara nilai dan maknanya sama sekali tidak akan berubah, walaupun zaman terus berputar, dan bangsa- bangsa maupun negeri- negeri berbeda-beda namun Islam tetap satu, satu sumber (al-Khalik ) dan satu pemahaman/ idiologi Islam ( mabda Islam ).
Oleh karena itu, dalam mengemban dakwah Islam bagi individu maupun kelompok dibutuhkan sikap terus terang, kekonsistenan, penuh keberanian, kekuatan, pemikiran dan tidak setengah- setengah dalam mengemban dakwah. Menentang setiap perkara yang bertentangan dengan ajaran Islam, hal- hal yang melecehkan Islam dan menentang setiap ide maupun metode yang jauh dari hukum- hukum Allah subhanahu wata a’la. Menghadapinya dengan cara menjelaskan pelbagai penyimpangan, kepalsuannya tanpa melihat lagi hasil dan kondisi yang ada. Pengemban dakwah tentu hanya memperjuangkan kebenaran sesuai dengan petunjuk al- Quran dan as- Sunnah.
Mengemban dakwah Islam mengharuskan keseriusan dalam pelaksanaan hukum- hukum Islam secara keseluruhan dan tidak meremehkannnya walau hanya sedikitpun. Seorang pegemban dakwah tidaklah memilih jalan kompromi dan tidak akan megorbankan nilai- nilai Islam, tidak lalai dan tidak akan menunda- nunda dalam mengemban dakwah. Karena setiap muslim berkesempatan menjadi pengemban dakwah. Dianologikan dalam sebuah pemutaran film, maka pengemban dakwah adalah para aktornya/ tokoh utama sedangkan yang tidak ikut berdakwah adalah sebagai penonton saja, dan bukankah para aktor itu yg awalnya hanyalah orang yang biasa kemudian berubah menjadi orang- orang yang luar biasa dan melakukan hal- hal yang luar biasa pula???
Sebagai pemgemban dakwah diharuskan untuk melangkah sesuai dengan tujuannya. Selalu berusaha secara kontinue dan bersungguh-sungguh demi menggapai tujuannya yang mulia. Yakni demi tegaknya kembali sistem kehidupan Islam yang paripurna dengan cara penegakan syariah dalam bingkai khilafah Islamiyyah di bumi Allah…. Karena tidak ada kemuliaan selain Islam, tidak sempurna Islam tanpa syariah, dan tidaklah tegak syariah tanpa adanya sebuah Negara Islam yaitu KHILAFAH ISLAMIYYAH, yang mempu mensejahterahkan seluruh umat. ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR…..ALLAHU AKBAR…..!!!
Wallauhu alam bi ashawab…….
Di pagi hari yang cerah( 06.30 PM .WITA)…..3 Dzuhijjah 1432 H
30 oktober2011 M
Umat Islam tidak akan pernah mengalami kemunduran dari posisinya sebagai pemimpin ( khalifah dimuka bumi ini) selama ia tetap berpegang teguh pada agamanya (Islam). Kemunduran kaum muslimin akan tampak tatkala mereka meninggalkan dan meremehkan ajaran- ajaran agamanya, membiarkan asing menyerbu dan menguasai negeri- negeri mereka, membiarkan pemahaman Barat bercokol dalam benak mereka dan dijadikan landasan atau acuan dalam berpikir dan bertindak.
Kemunduran Itu terjadi manakala kaum muslimin mengabaikan qiyadah fikriyah Islam. Yakni ketika mereka surut dalam mengemban dakwah Islam dan menyalahi pelaksanaan hukum- hukum Islam. Umat Isla akan jauh tertinggal, terpuruk, menderita apabila ia dijauhkan dari agamanya, begitulah upaya yang saat ini dilakukan oleh Negara- negara kapitalis- sekuler dalam memerangi kaum muslimin secara pemikiran, yakni menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya.
Yah….memang saat ini kita tidaklah diperangi secara secara fisik seperti halnya saudara- saudara kita di negeri Palestina yang mereka rasakan hingga detik ini. Tumpahan darah bahkan nyawa sekalipun rela mereka korbankan demi mempertahankan tanah mereka yang direnggut paksa oleh zionis Israel. Namun semangat mereka tidak pernah surut, dari generasi ke generasi berlanjut dan tetap melakukan hal yang serupa yakni melindungi umat muslim Palestina dan mempertahankan negeri mereka yang menyimpan banyak sejarah bemulanya peradaban emas Islam. Disamping itu, mereka yang terjajah dinegeri sendiri masih mampu mengemban dakwah, mengajarkan al- quran kepada anak- anak mereka dan menghapalkan ayat- ayat suci al- Quran diatas puing-puing bangunan yang dilululantahkan zionis Israel. Semangat mereka tidak pernah surut, lantas bagaimana dengan kita?
Negeri kita tidaklah diperangi secara fisik atau kekuatan militer. Namun lebih kepada perang pemikiran alias dicekoki dengan pemahaman- pemahaman yang kufur,yakni bermainnya berbagai sistem kufur diranah kehidupan kita hingga saat ini. mulai dari ideologi kapitalistik yang mana segalanya diukur dengan materi/uang dan permainan sistem kekuasaan, terlebih dari adanya pemahaman yang sekuleristik yakni pemisahan agama dari kehidupan.
Orang Barat berkata; bila ingin menghancurkan umat Islam maka jauhkan mereka dari al- Quran ( agamanya ) maka mereka akan hancur dengan sendirinya tanpa diperangi. Yah….miris kan hati kita mengetahui prihal tersebut? Dan memang begitu faktanya, umat Muslim semakin jauh meninggalkan agamnya. Apa yang seharusnya KITA lakukan sebagai umat Muslim???
Mengemban Dakwah…
Mengemban dakwah Islam saat ini cukuplah rumit bagi orang yang berpikiran sempit, namun akan terasa mudah bila dilakukan secara bersama- sama dan dengan cara bersungguh- sungguh. Mengemban dakwah juga hendakanya dilakukan dan dikembangkan dengan metode yang sama sebagaimana pada masa- masa sebelumnnya, yaitu dengan menjadikan metode/thariqoh Rasulullah SAW sebagai suri tauladan. Umat muslim tidak boleh berpaling sedikitpun dari metode yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, baik itu secara keseluruhan maupun dalam rinciannya dan tanpa memperhatikan perkembangan zaman. Sebab, yang berkembang hanyalah sarana dan bentuk kehidupan, sementara nilai dan maknanya sama sekali tidak akan berubah, walaupun zaman terus berputar, dan bangsa- bangsa maupun negeri- negeri berbeda-beda namun Islam tetap satu, satu sumber (al-Khalik ) dan satu pemahaman/ idiologi Islam ( mabda Islam ).
Oleh karena itu, dalam mengemban dakwah Islam bagi individu maupun kelompok dibutuhkan sikap terus terang, kekonsistenan, penuh keberanian, kekuatan, pemikiran dan tidak setengah- setengah dalam mengemban dakwah. Menentang setiap perkara yang bertentangan dengan ajaran Islam, hal- hal yang melecehkan Islam dan menentang setiap ide maupun metode yang jauh dari hukum- hukum Allah subhanahu wata a’la. Menghadapinya dengan cara menjelaskan pelbagai penyimpangan, kepalsuannya tanpa melihat lagi hasil dan kondisi yang ada. Pengemban dakwah tentu hanya memperjuangkan kebenaran sesuai dengan petunjuk al- Quran dan as- Sunnah.
Mengemban dakwah Islam mengharuskan keseriusan dalam pelaksanaan hukum- hukum Islam secara keseluruhan dan tidak meremehkannnya walau hanya sedikitpun. Seorang pegemban dakwah tidaklah memilih jalan kompromi dan tidak akan megorbankan nilai- nilai Islam, tidak lalai dan tidak akan menunda- nunda dalam mengemban dakwah. Karena setiap muslim berkesempatan menjadi pengemban dakwah. Dianologikan dalam sebuah pemutaran film, maka pengemban dakwah adalah para aktornya/ tokoh utama sedangkan yang tidak ikut berdakwah adalah sebagai penonton saja, dan bukankah para aktor itu yg awalnya hanyalah orang yang biasa kemudian berubah menjadi orang- orang yang luar biasa dan melakukan hal- hal yang luar biasa pula???
Sebagai pemgemban dakwah diharuskan untuk melangkah sesuai dengan tujuannya. Selalu berusaha secara kontinue dan bersungguh-sungguh demi menggapai tujuannya yang mulia. Yakni demi tegaknya kembali sistem kehidupan Islam yang paripurna dengan cara penegakan syariah dalam bingkai khilafah Islamiyyah di bumi Allah…. Karena tidak ada kemuliaan selain Islam, tidak sempurna Islam tanpa syariah, dan tidaklah tegak syariah tanpa adanya sebuah Negara Islam yaitu KHILAFAH ISLAMIYYAH, yang mempu mensejahterahkan seluruh umat. ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR…..ALLAHU AKBAR…..!!!
Wallauhu alam bi ashawab…….
Di pagi hari yang cerah( 06.30 PM .WITA)…..3 Dzuhijjah 1432 H
30 oktober2011 M
Senin, 24 Oktober 2011
KEBENARAN ITU, apa???
KEBENARAN ITU,,, APA?
Apa yang mendasari seseorang sehingga menolak kebenaran yang datang padanya. Padahal kebenaran itu sudah benar adanya, sudah mutlak bahwa itu adalah kebenaran. Namun masihkah ada yang ragu dengan adanya kebenaran itu? Siapakah dia?
Setiap orang pasti mememiliki persepsi sendiri terkait dengan apa itu kebenaran yang sebenarnya? ada yang menganggap bahwa kebenaran adalah sesuatu yamng tidak bertentangan dengan hati nuraninya. Ada yang mengatakan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan fakta dilapangan atau real. Ada pula yang mengatakan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang datangnya dari Tuhan, bisa diterima oleh akal dan sesuai dengan fitrah manusia yang sebenarnya. Mungkin akan ada banyak defenisi lain yang akan kita temui mengenai apa itu KEBENARAN. Semua orang punya jawaban masing- masing bukan? Wajar,,,,karena kita terlahir dengan otak serta pemikiran/cara berpikir yang berbeda tergantung dimana kita tumbuh dan pendidikan apa yang kita dapatkan selama hidup kita, menonjol ataukah biasa saja.
Dalam penafsiran kebenaran itu sering terjadi perbedaan. Apa yang mendasari sehingga terjadi perbedaan dalam mengartikan arti dari kebenaran? Sudah pasti ada yang mempertahankan egonya, ada yang mengalami proses berpikir, lama maupun cepat, sehingga ia melahirkan sebuah pemahaman terhadap arti sebuah kebenaran itu, ia pun memandang sebuah kebenaran dari cara berpikir dan pemahaman masing- masing.
Kebenaran akan terasa rumit untuk diterjemahkan bagi otak yang telah terkontaminasi dengan berbagai pemahaman. Terlahir dari pemahaman yang salah akan menolak sesuatu walaupun itu adalah kebenaran, ia menolak karena menganggap itu salah dan sangat bertentangan terhadap apa yang ia pahami selama ini. Ia berpikir bahwa pemahaman yang ia pahami tidah boleh luluh begitu saja hanya karena dihadapkan pada sesuatu yang tidak sesuai dengan dasar pemikirannya dan dianggapnya baru dan rancu. Walaupun ada orang yang tahu bahwa sesuatu itu adalah benar, namun ia menentang kebenaran itu karena dianggapnya akan mengancam kelangsungan hidupnya, yaitu berupa pemahaman yang ia pahami. Jadi, dapat kita simpulkan bahwasanya kebenaran itu bisa terbukti bila apa yang ia pelajari sesuai dengan apa yang ia pahami. Apa yang telah tumbuh dan sudah menjadi cara pandang hidupnya selama ini dan tidak bertentangan.
Sebuah pembenaran atas kebenaran yang tak terbantahkan lagi. Kebenaran tak butuh pembenaran, karena kebenaran adalah sesuatu yang dipahami dan diyakini benar. Sesuatu yang timbul dari perasaan, naluri dan nurani sehingga tidak bertentangan dengan fitrah manusia. Dalam hal ini kebenaran berasal dari sang Khalik Yang Maha Benar dan tidak pernah salah. Tentunya kebenaran yang berasal dari Sang Khalik tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia. Kebenaran akan mudah diterima apabila setiap insan memahami apa yang diyakininya. Sehingga jelas bahwa apa yang diyakini adalah sesuatu yang benar adanya.
Bagi insan yang paham, bila dihadapkan dengan kebenaran maka perlahan tapi pasti akan dengan mudah untuk menerimanya. Namun bagi orang yang tidak tahu dan dia tahu bahwa dirinya tidak tahu, maka orang jenis ini jelas adalah orang yang bodoh dalam hal agama, tetapi ia tidak menyadari kebodohannya dan tidak ingin menerima kebenaran. Akibatnya, ia sering bersikap sok pintar. Karena sok pintar ( padahal bodoh ), maka ia sering menolak kebenaran, meski itu jelas- jelas ditegaskan dalam al- Quran dan as- Sunnah.
Kebenaran adalah sesuatu yang tak terbantahkan, tidak berisi dusta, kebohongan, kemunafikan, kerancuan. Walaupun masih saja ada orang yang masih ragu-ragu terhadap adanya kebenaran. Namun bagi orang yang yakin maka kebenaran itu mutlak adanya.
Ketika kita ingin mencari kebenaran makan carilah pada sumber yang tepat. Kita sebagai seorang muslim sudah pasti akan mengikuti petunjik Al- Quran dan as- Sunnah. Namun, mengapakah masih saja ada orang yang meragukan kebenaran itu? Padahal telah diterangkan dalam kitab suci al- Quran, seperti pada kutipan ayat dibawah ini:
“Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (TQS. Thaha:123-124).
Ditambah pula dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa mereka tidak akan merasakan kekhawatiran dan tidak bersedih hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (TQS. Al Baqarah: 38-39).
Dari ayat tersebut dipahami bahwa seseorang yang mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan bersedih –khususnya ketika meninggalkan dunia- atas urusan dunia yang tidak diperolehnya, di dunia ia tidak akan tersesat, dan di akhirat ia tidak akan sengsara, sebaliknya akan senantiasa bahagia di dalam surga nanti. (Ibn Katsir, tafsir S. Al Baqarah; 38-39, Zaydan : al-Sunan al-Ilahiyyah, http://saaid.net). Adapun bagi mereka yang mengingkari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, membangkang dan berpaling, maka akan mendapatkan kehidupan yang sempit, dan di akhirat akan kekal di dalam neraka.
Kebenaran Hanya didalam Islam
Petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah petunjuk yang sebenarnya, yang pantas dinamakan petunjuk. Di dalam Islam petunjuk ini disebut dengan al-huda atau al-hidâyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala itulah petunjuk (yang sebenarnya)".(TQS. Al Baqarah: 120).
Hidayah inilah yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk disampaikan kepada umatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak”. (TQS. Al Fath:28).
Hidayah tersebut adalah agama Islam, yang didalamnya terdapat petunjuk bagi seluruh manusia ( rahmatan lil a’lamiin ). Tidak ada sedikitpun petunjuk yang akan didapat diluar Islam, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya pemilik hidayah telah menyatakan bahwa satu-satunya agama yang diridhai-Nya hanyalah Islam.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. (TQS. Ali Imran:19).
“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (TQS. Ali Imran:85).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa kebenaran hanya akan didapatkan di dalam Islam. Jika seseorang mencari kebenaran diluar Islam, atau membuat pola,sistem tatanan kehidupan atau aturan sendiri yang diyakininya sebagai kebenaran, pada dasarnya ia berada dalam kesesatan dan kerugian.
Wallahu alam bi ‘ashawab……
Apa yang mendasari seseorang sehingga menolak kebenaran yang datang padanya. Padahal kebenaran itu sudah benar adanya, sudah mutlak bahwa itu adalah kebenaran. Namun masihkah ada yang ragu dengan adanya kebenaran itu? Siapakah dia?
Setiap orang pasti mememiliki persepsi sendiri terkait dengan apa itu kebenaran yang sebenarnya? ada yang menganggap bahwa kebenaran adalah sesuatu yamng tidak bertentangan dengan hati nuraninya. Ada yang mengatakan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan fakta dilapangan atau real. Ada pula yang mengatakan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang datangnya dari Tuhan, bisa diterima oleh akal dan sesuai dengan fitrah manusia yang sebenarnya. Mungkin akan ada banyak defenisi lain yang akan kita temui mengenai apa itu KEBENARAN. Semua orang punya jawaban masing- masing bukan? Wajar,,,,karena kita terlahir dengan otak serta pemikiran/cara berpikir yang berbeda tergantung dimana kita tumbuh dan pendidikan apa yang kita dapatkan selama hidup kita, menonjol ataukah biasa saja.
Dalam penafsiran kebenaran itu sering terjadi perbedaan. Apa yang mendasari sehingga terjadi perbedaan dalam mengartikan arti dari kebenaran? Sudah pasti ada yang mempertahankan egonya, ada yang mengalami proses berpikir, lama maupun cepat, sehingga ia melahirkan sebuah pemahaman terhadap arti sebuah kebenaran itu, ia pun memandang sebuah kebenaran dari cara berpikir dan pemahaman masing- masing.
Kebenaran akan terasa rumit untuk diterjemahkan bagi otak yang telah terkontaminasi dengan berbagai pemahaman. Terlahir dari pemahaman yang salah akan menolak sesuatu walaupun itu adalah kebenaran, ia menolak karena menganggap itu salah dan sangat bertentangan terhadap apa yang ia pahami selama ini. Ia berpikir bahwa pemahaman yang ia pahami tidah boleh luluh begitu saja hanya karena dihadapkan pada sesuatu yang tidak sesuai dengan dasar pemikirannya dan dianggapnya baru dan rancu. Walaupun ada orang yang tahu bahwa sesuatu itu adalah benar, namun ia menentang kebenaran itu karena dianggapnya akan mengancam kelangsungan hidupnya, yaitu berupa pemahaman yang ia pahami. Jadi, dapat kita simpulkan bahwasanya kebenaran itu bisa terbukti bila apa yang ia pelajari sesuai dengan apa yang ia pahami. Apa yang telah tumbuh dan sudah menjadi cara pandang hidupnya selama ini dan tidak bertentangan.
Sebuah pembenaran atas kebenaran yang tak terbantahkan lagi. Kebenaran tak butuh pembenaran, karena kebenaran adalah sesuatu yang dipahami dan diyakini benar. Sesuatu yang timbul dari perasaan, naluri dan nurani sehingga tidak bertentangan dengan fitrah manusia. Dalam hal ini kebenaran berasal dari sang Khalik Yang Maha Benar dan tidak pernah salah. Tentunya kebenaran yang berasal dari Sang Khalik tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia. Kebenaran akan mudah diterima apabila setiap insan memahami apa yang diyakininya. Sehingga jelas bahwa apa yang diyakini adalah sesuatu yang benar adanya.
Bagi insan yang paham, bila dihadapkan dengan kebenaran maka perlahan tapi pasti akan dengan mudah untuk menerimanya. Namun bagi orang yang tidak tahu dan dia tahu bahwa dirinya tidak tahu, maka orang jenis ini jelas adalah orang yang bodoh dalam hal agama, tetapi ia tidak menyadari kebodohannya dan tidak ingin menerima kebenaran. Akibatnya, ia sering bersikap sok pintar. Karena sok pintar ( padahal bodoh ), maka ia sering menolak kebenaran, meski itu jelas- jelas ditegaskan dalam al- Quran dan as- Sunnah.
Kebenaran adalah sesuatu yang tak terbantahkan, tidak berisi dusta, kebohongan, kemunafikan, kerancuan. Walaupun masih saja ada orang yang masih ragu-ragu terhadap adanya kebenaran. Namun bagi orang yang yakin maka kebenaran itu mutlak adanya.
Ketika kita ingin mencari kebenaran makan carilah pada sumber yang tepat. Kita sebagai seorang muslim sudah pasti akan mengikuti petunjik Al- Quran dan as- Sunnah. Namun, mengapakah masih saja ada orang yang meragukan kebenaran itu? Padahal telah diterangkan dalam kitab suci al- Quran, seperti pada kutipan ayat dibawah ini:
“Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (TQS. Thaha:123-124).
Ditambah pula dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa mereka tidak akan merasakan kekhawatiran dan tidak bersedih hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (TQS. Al Baqarah: 38-39).
Dari ayat tersebut dipahami bahwa seseorang yang mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan bersedih –khususnya ketika meninggalkan dunia- atas urusan dunia yang tidak diperolehnya, di dunia ia tidak akan tersesat, dan di akhirat ia tidak akan sengsara, sebaliknya akan senantiasa bahagia di dalam surga nanti. (Ibn Katsir, tafsir S. Al Baqarah; 38-39, Zaydan : al-Sunan al-Ilahiyyah, http://saaid.net). Adapun bagi mereka yang mengingkari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, membangkang dan berpaling, maka akan mendapatkan kehidupan yang sempit, dan di akhirat akan kekal di dalam neraka.
Kebenaran Hanya didalam Islam
Petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah petunjuk yang sebenarnya, yang pantas dinamakan petunjuk. Di dalam Islam petunjuk ini disebut dengan al-huda atau al-hidâyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala itulah petunjuk (yang sebenarnya)".(TQS. Al Baqarah: 120).
Hidayah inilah yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk disampaikan kepada umatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak”. (TQS. Al Fath:28).
Hidayah tersebut adalah agama Islam, yang didalamnya terdapat petunjuk bagi seluruh manusia ( rahmatan lil a’lamiin ). Tidak ada sedikitpun petunjuk yang akan didapat diluar Islam, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya pemilik hidayah telah menyatakan bahwa satu-satunya agama yang diridhai-Nya hanyalah Islam.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. (TQS. Ali Imran:19).
“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (TQS. Ali Imran:85).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa kebenaran hanya akan didapatkan di dalam Islam. Jika seseorang mencari kebenaran diluar Islam, atau membuat pola,sistem tatanan kehidupan atau aturan sendiri yang diyakininya sebagai kebenaran, pada dasarnya ia berada dalam kesesatan dan kerugian.
Wallahu alam bi ‘ashawab……
Kamis, 22 September 2011
SAD STORY in Pondok TERAPUNG
Menceritakan sebuah kronologi pristiwa mungkin aku telah biasa. Namun, menceritakan kronologi kejadian dicabutnya nyawa seorang manusia mungkin baru kali ini aku akan menceritakannya. Ini yang pertama kalinya. Tubuhku gemetar tak percaya menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri seorang yang kusayangi sebagaimana orangtuaku sendiri telah pergi lebih dulu menghadap sang Khalik.
***
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, tubuhnya telah kaku, nafasnya sudah terengah- engah. Kuperiksa nadinya tak bisa kutemukan lagi denyutannya. Aku hanya berharap pada detakan jantung yang masih bisa kujama dengan tanganku. Aku ingin memompa dadanya, namun aku tak sanggup. Aku bukanlah seorang perawat atau dokter, sama sekali aku tidak tahu cara memberikan pertolongan pertama pada orang yang jatuh pingsan dan skarat seperti ini. Sewaktu duduk dibangku SD beberapa tahun yang lalu aku pernah mempelajarinya,tapi aku telah lupa bagaimana harus memulainya, dari mana kemana.
“Ibu….ibu…ibu….bangun Bu, sadar’ki Bu”, namun Ibu tak kunjung sadarkan diri. Kutekan lagi nadi dipergelangan tangannya sebelah kanan, hasilnya masih tetap saja nihil.
Sang anak yang berada tepat disampingku menangis terseduh- seduh, merengek kapada sang ibu yang belum juga sadar . Andri memintanya untuk segera bangun. Siapa sangka, ibu kosku benar- benar tak sadarkan diri sekarang.
Mahasiswi penghuni pondok Terapung mulai berdatangan melihat keadaan ibu Kos yang belum juga sadarkan diri. Sekitar pukul 19.10 WITA, ibu kosku jatuh pingsan dan tergeletak didepan pintu ruang tamu. Sempat sang anak bungsu menahan tubuhnya, namun Andri sang anak tak dapat menahan tubuh sang ibu yang sudah tak sadarkan diri dan kemudian tergeletak kelantai. Awalnya sebelum ibu kosku jatuh pingsan dan tak sadarkan diri, ia sempat mengeluh kalau ia pusing- pusing, mungkin efek dari tekanan darahnya yang kata Dokter pribadinya, bahwa tekanan darah ibu sedang tidak normal alias tekanan darahnya tinggi setelah melakukan pemeriksaan tadi siang di rumah sakit Labuang Baji’. Kemarin sebelum kejadian malam ini, ibu kos juga sempat melakukan pemeriksaan dirumah sakit tersebut. Dan, kata dokter pribadinya, ibus kosku harus datang keesokan harinya untuk melakukan pemeriksaan darah untuk mengecek kadar kolestrol dalam darahnya.
Ibu kosku kini tak sadarkan diri, satu persatu anak- anaknya datang. Uni anak ketiga dari empat bersaudara yang kini bekerja sebagai karyawan disebuah tempat percetakan, masih dalam keadaan stabil. Uni masih bisa menenangkan dirinya, sedangkan kak Ani si anak kedua ibu kos sudah menangis tak karuan kemudian jatuh pingsan. Sontak ketiga anaknya yang hadir menangis histeris. Kak Eka dan Kak Salma yang sudah sekitar setengah jam menelepon taksi dan ambulans tak kunjung menuai hasil. Kami mulai kecewa, kutelepon keluarga ibu Kos satu persatu, mulai dari bapak kos hingga saudara perempuannya yang berada di luar kota Makassar. Suara yang kudengar dibalik HP terdengar tidak percaya dengan apa yang kukatakan, kualihkan HP- ku pada Andri dan mencoba menjelaskan kepada tantenya. Andri menjelaskan kronologis kejadiannya sambil menangis hingga touchscreen Hape- ku penuh dengan air mata. Air mataku pun akhirnya menetes, padahal kupaksa diriku untuk tak mengeluarkan air mata walau hanya setetes, namun siapa sangaka hati manusia memanglah lemah melihat hal yang memprihatinkan seperti ini. Tiga orang anak perempuan yang ada disampingnya menangis. Hanya anak lelaki satu- satunya yang tak dapat melihat ibu kos dalam keadaan kritis seperti ini.
Taxi pun tiba, menantu ibu kos segera membopong tubuh ibu kos menuju taxi yang berada didepan lorong, Kak Eka dan Kak Salma serta menantunya Kak Lutfi yang mengantarkannya kerumah sakit Wahidin Sudiro Husodo, merupakan rumah sakit terdekat dari tempat yang kami huni. Namun, sangat disayangkan, pihak administrasi bukannya panik melihat ada calon pasien yang sudah skarat malah justru meminta uang admistrasi telebih dahulu. Perjalanan menuju ruang UGD pun sedikit terhambat karena harus membayar administrasi terlebih dahulu. Kak Ani pun segera menyelesaikan administrasinya. Ibu Kos pun segera dipindahkan ke ranjang pasien dan didorong menuju ruangan IRD rumah sakit. Ruangan sangat penuh dengan pasien, Alhamdulillah….. masih ada ruangan yang kosong, selang infus pun mulai dipasangkan beserta cairannya. Alat pendeteksi jantung juga telah dipasang. Lengkaplah sudah alat-alat yang dipasangkan ditubuh ibu yang belum juga sadarkan diri. Busa terus saja keluar dari mulutnya, sehingga alat bantu pernapasan harus dilepas saat penyedotan busa yang keluar terus- menerus dari mulut ibu kos. Cairan bercampur darah pun keluar, kami yang sudah hadir ditempat itu mulai panik. Dan tidak tahu harus berbuat apa. Yang kusaksikan para dokter hanya mampu mengeluarkan cairan yang keluar dari mulut ibu kosku. Tak ada tindakan serius sebagaimana halnya yang sering kusaksikan di film- film. Bukan hanya keluarga pasien yang panik tapi juga sang dokter. Biasanya dokter bercucuran keringat dan sangat sibuk ketika mendapatkan pasien yang kondisinya sakarat seperti ibu kosku saat ini. Apakah mungkin itu hanya ada dinegeri dongeng dan hayalan belaka bila dihadapkan dengan kenyataan ternyata tidak sama? Dan yang kulihat saat ini, bahwa para dokter muda itu telah pasrah?
Mataku mulai berkaca- kaca, air mata yang seharusnya sudah keluar dari cangkangnya kupaksakan untuk tidak kukeluarkan saat itu, mulutku terus saja komat kamit melafadzkan kalimat tauhid. Terus saja kupanggil ibu kos, kubisikkan kalimat La ilaha Illallah….., ibu kos tetap saja membisu, seperti seseorang yang tengah tidur pulas.
Entah sampai kapan akan seperti ini, cairan berbusa terus saja keluar dari mulutnya, dan kadang bercampur darah. Tabung penampung cairan yang tergantung pada sisi kanan ranjang hampir penuh dengan cairan. Dokter Koas rumah sakit terus saja mengeluarkan cairan dengan menggunakan sedotan, panjang selang sedotan itu kira- kira 1 meter. Uni anak ketiganya berkali- kali megusap sisa cairan yang masih tersisa ditepi bibir Bu kos.
“Siapa nama pasien ini?” Kata dokter yang berada disebelahku.
“Ibu Nurhudayah”. Balasku dengan wajah yang penasaran. Kemudian dokter bertanya lagi.
“Berapa umurnya? berapa berat badannya? Berapa tekanan darahnya?” Tanya dokter secara berurutan.
“Umurnya 45 tahun, berat badannya 42, tekanan darah terakhir pemeriksaan di rumah sakit Labuang Baji’ adalah 120/70”. Kemudian, alat tensi darah pun kembali direkatkan dilengan sebelah kiri ibu kos. Ternyata hasil tensi darah ibu kos adalah 110/70, yang artinya normal.
Entah kenapa aku bertindak seperti anaknya saat itu, karena memang ibu kos telah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Setelah kurang lebih dua tahun bersamanya, seakan- akan aku memiliki hubungan batin dengannya. Betapa tidak, aku telah memahami sifatnya dan gerak- geriknya. Mungkin aku juga pernah membangkang terhadapnya sebagaimana hubungan antara ibu dan anak.
Awal pertama aku menginjakkan kaki di pondok Terapung, dimana ia menjabat sebagai pengurus pondokan alias Ibu Kos. Aku menganggap dia adalah sosok yang pemarah dan suka mengatur-ngatur orang. Bukan hanya anaknya yang biasa dimarahi, namun juga mahasiswa yang mondok. Termasuk saya sendiri. Yah….tentu saja Bu Kos marah pasti ada alasannya. Misalnya, dia melarang kita untuk mencuci piring dalam kamar mandi, yang katanya mengotori kamar mandi. Dan memang demikian. Namun, tidak dengan saya. Karena saya adalah pribadi yang mencintai kebersihan dan sudah terbiasa sedari kecil. Lantas kenapa Bu kos kadang marah dan mengoceh seakan- akan saya yang mengotori kamar mandi. Atau mungkin perasaan saya saja yang terlampau sensitif. Atau ini hanya kesalahpahaman belaka. Wallahu’alam….yang berlalu biarlah berlalu, dan biarlan menjadi pelajaran dimasa yang akan datang. Semua tinggalah kenangan.
***
Three hours ago…….. ibu Kos masih tetap saja skarat tak sadarkan diri. Wajahnya semakin pucat dan meliahatan menguning, lehernya kehitam- hitaman, mulutnya terus saja menganga dan mengeluarkan cairan bercampur busa.
“Yaa Allah…… tolongah wanita yang telah banyak berbuat baik padaku ini, aku sungguh tak sanggup melihat ia seperti ini”. Hampir lima jam sudah ia tak sadarkan diri. Aku terus saja berdoa dan membisikkan kalimat syahadat disampingnya. Ketiga naka perempuan ibu kos terus saja menangis. Uni yang semenjak tadi berada disampinganya terus saja memanggil- manggil ibu Kos.
“ Ma….ma….bangun’ki ma……..”, ucap Uni sambil menangis terseduh- seduh, lendir dari hidungnya terus saja mengucur. Sesekali aku memberinya tisu dan memegang pundaknnya berusaha untuk membuatnya lebih tenang.
Kak Ani anak kedua ibu kos, mencoba lebih tegar dan menenangkan kedua adik perempuannya, Uni dan juga Andri yang baru berusia 17 tahun. Sedangkan Uni seumuran denganku. Kak Ani telah memiliki dua orang anak lelaki. Danil dan Anis, cucu- cucu kesayangan ibu Kos.
***
Dua tahun yang lalu, tepatnya tgl 24 agustus 2009, aku menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya disebuah rumah yang berdiri tegak diatas rawa yang sudah ditimbun. Namanya Pondok Terapung, tempat yang kuhuni selama dua tahun ini. Didalamnya ada sebuah keluarga yang menurutku penuh dengan warna. Ada Ibu Kos dan juga bapak Kos dan kedua anak perempuannya. Dua anaknya yang lain telah berkeluarga dan memisahkan diri. Satu anaknya berada di Sulawesi Tenggara dan Kak Aniikut suaminya dan menetap di kota Makassar.
bersambung.........
***
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, tubuhnya telah kaku, nafasnya sudah terengah- engah. Kuperiksa nadinya tak bisa kutemukan lagi denyutannya. Aku hanya berharap pada detakan jantung yang masih bisa kujama dengan tanganku. Aku ingin memompa dadanya, namun aku tak sanggup. Aku bukanlah seorang perawat atau dokter, sama sekali aku tidak tahu cara memberikan pertolongan pertama pada orang yang jatuh pingsan dan skarat seperti ini. Sewaktu duduk dibangku SD beberapa tahun yang lalu aku pernah mempelajarinya,tapi aku telah lupa bagaimana harus memulainya, dari mana kemana.
“Ibu….ibu…ibu….bangun Bu, sadar’ki Bu”, namun Ibu tak kunjung sadarkan diri. Kutekan lagi nadi dipergelangan tangannya sebelah kanan, hasilnya masih tetap saja nihil.
Sang anak yang berada tepat disampingku menangis terseduh- seduh, merengek kapada sang ibu yang belum juga sadar . Andri memintanya untuk segera bangun. Siapa sangka, ibu kosku benar- benar tak sadarkan diri sekarang.
Mahasiswi penghuni pondok Terapung mulai berdatangan melihat keadaan ibu Kos yang belum juga sadarkan diri. Sekitar pukul 19.10 WITA, ibu kosku jatuh pingsan dan tergeletak didepan pintu ruang tamu. Sempat sang anak bungsu menahan tubuhnya, namun Andri sang anak tak dapat menahan tubuh sang ibu yang sudah tak sadarkan diri dan kemudian tergeletak kelantai. Awalnya sebelum ibu kosku jatuh pingsan dan tak sadarkan diri, ia sempat mengeluh kalau ia pusing- pusing, mungkin efek dari tekanan darahnya yang kata Dokter pribadinya, bahwa tekanan darah ibu sedang tidak normal alias tekanan darahnya tinggi setelah melakukan pemeriksaan tadi siang di rumah sakit Labuang Baji’. Kemarin sebelum kejadian malam ini, ibu kos juga sempat melakukan pemeriksaan dirumah sakit tersebut. Dan, kata dokter pribadinya, ibus kosku harus datang keesokan harinya untuk melakukan pemeriksaan darah untuk mengecek kadar kolestrol dalam darahnya.
Ibu kosku kini tak sadarkan diri, satu persatu anak- anaknya datang. Uni anak ketiga dari empat bersaudara yang kini bekerja sebagai karyawan disebuah tempat percetakan, masih dalam keadaan stabil. Uni masih bisa menenangkan dirinya, sedangkan kak Ani si anak kedua ibu kos sudah menangis tak karuan kemudian jatuh pingsan. Sontak ketiga anaknya yang hadir menangis histeris. Kak Eka dan Kak Salma yang sudah sekitar setengah jam menelepon taksi dan ambulans tak kunjung menuai hasil. Kami mulai kecewa, kutelepon keluarga ibu Kos satu persatu, mulai dari bapak kos hingga saudara perempuannya yang berada di luar kota Makassar. Suara yang kudengar dibalik HP terdengar tidak percaya dengan apa yang kukatakan, kualihkan HP- ku pada Andri dan mencoba menjelaskan kepada tantenya. Andri menjelaskan kronologis kejadiannya sambil menangis hingga touchscreen Hape- ku penuh dengan air mata. Air mataku pun akhirnya menetes, padahal kupaksa diriku untuk tak mengeluarkan air mata walau hanya setetes, namun siapa sangaka hati manusia memanglah lemah melihat hal yang memprihatinkan seperti ini. Tiga orang anak perempuan yang ada disampingnya menangis. Hanya anak lelaki satu- satunya yang tak dapat melihat ibu kos dalam keadaan kritis seperti ini.
Taxi pun tiba, menantu ibu kos segera membopong tubuh ibu kos menuju taxi yang berada didepan lorong, Kak Eka dan Kak Salma serta menantunya Kak Lutfi yang mengantarkannya kerumah sakit Wahidin Sudiro Husodo, merupakan rumah sakit terdekat dari tempat yang kami huni. Namun, sangat disayangkan, pihak administrasi bukannya panik melihat ada calon pasien yang sudah skarat malah justru meminta uang admistrasi telebih dahulu. Perjalanan menuju ruang UGD pun sedikit terhambat karena harus membayar administrasi terlebih dahulu. Kak Ani pun segera menyelesaikan administrasinya. Ibu Kos pun segera dipindahkan ke ranjang pasien dan didorong menuju ruangan IRD rumah sakit. Ruangan sangat penuh dengan pasien, Alhamdulillah….. masih ada ruangan yang kosong, selang infus pun mulai dipasangkan beserta cairannya. Alat pendeteksi jantung juga telah dipasang. Lengkaplah sudah alat-alat yang dipasangkan ditubuh ibu yang belum juga sadarkan diri. Busa terus saja keluar dari mulutnya, sehingga alat bantu pernapasan harus dilepas saat penyedotan busa yang keluar terus- menerus dari mulut ibu kos. Cairan bercampur darah pun keluar, kami yang sudah hadir ditempat itu mulai panik. Dan tidak tahu harus berbuat apa. Yang kusaksikan para dokter hanya mampu mengeluarkan cairan yang keluar dari mulut ibu kosku. Tak ada tindakan serius sebagaimana halnya yang sering kusaksikan di film- film. Bukan hanya keluarga pasien yang panik tapi juga sang dokter. Biasanya dokter bercucuran keringat dan sangat sibuk ketika mendapatkan pasien yang kondisinya sakarat seperti ibu kosku saat ini. Apakah mungkin itu hanya ada dinegeri dongeng dan hayalan belaka bila dihadapkan dengan kenyataan ternyata tidak sama? Dan yang kulihat saat ini, bahwa para dokter muda itu telah pasrah?
Mataku mulai berkaca- kaca, air mata yang seharusnya sudah keluar dari cangkangnya kupaksakan untuk tidak kukeluarkan saat itu, mulutku terus saja komat kamit melafadzkan kalimat tauhid. Terus saja kupanggil ibu kos, kubisikkan kalimat La ilaha Illallah….., ibu kos tetap saja membisu, seperti seseorang yang tengah tidur pulas.
Entah sampai kapan akan seperti ini, cairan berbusa terus saja keluar dari mulutnya, dan kadang bercampur darah. Tabung penampung cairan yang tergantung pada sisi kanan ranjang hampir penuh dengan cairan. Dokter Koas rumah sakit terus saja mengeluarkan cairan dengan menggunakan sedotan, panjang selang sedotan itu kira- kira 1 meter. Uni anak ketiganya berkali- kali megusap sisa cairan yang masih tersisa ditepi bibir Bu kos.
“Siapa nama pasien ini?” Kata dokter yang berada disebelahku.
“Ibu Nurhudayah”. Balasku dengan wajah yang penasaran. Kemudian dokter bertanya lagi.
“Berapa umurnya? berapa berat badannya? Berapa tekanan darahnya?” Tanya dokter secara berurutan.
“Umurnya 45 tahun, berat badannya 42, tekanan darah terakhir pemeriksaan di rumah sakit Labuang Baji’ adalah 120/70”. Kemudian, alat tensi darah pun kembali direkatkan dilengan sebelah kiri ibu kos. Ternyata hasil tensi darah ibu kos adalah 110/70, yang artinya normal.
Entah kenapa aku bertindak seperti anaknya saat itu, karena memang ibu kos telah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Setelah kurang lebih dua tahun bersamanya, seakan- akan aku memiliki hubungan batin dengannya. Betapa tidak, aku telah memahami sifatnya dan gerak- geriknya. Mungkin aku juga pernah membangkang terhadapnya sebagaimana hubungan antara ibu dan anak.
Awal pertama aku menginjakkan kaki di pondok Terapung, dimana ia menjabat sebagai pengurus pondokan alias Ibu Kos. Aku menganggap dia adalah sosok yang pemarah dan suka mengatur-ngatur orang. Bukan hanya anaknya yang biasa dimarahi, namun juga mahasiswa yang mondok. Termasuk saya sendiri. Yah….tentu saja Bu Kos marah pasti ada alasannya. Misalnya, dia melarang kita untuk mencuci piring dalam kamar mandi, yang katanya mengotori kamar mandi. Dan memang demikian. Namun, tidak dengan saya. Karena saya adalah pribadi yang mencintai kebersihan dan sudah terbiasa sedari kecil. Lantas kenapa Bu kos kadang marah dan mengoceh seakan- akan saya yang mengotori kamar mandi. Atau mungkin perasaan saya saja yang terlampau sensitif. Atau ini hanya kesalahpahaman belaka. Wallahu’alam….yang berlalu biarlah berlalu, dan biarlan menjadi pelajaran dimasa yang akan datang. Semua tinggalah kenangan.
***
Three hours ago…….. ibu Kos masih tetap saja skarat tak sadarkan diri. Wajahnya semakin pucat dan meliahatan menguning, lehernya kehitam- hitaman, mulutnya terus saja menganga dan mengeluarkan cairan bercampur busa.
“Yaa Allah…… tolongah wanita yang telah banyak berbuat baik padaku ini, aku sungguh tak sanggup melihat ia seperti ini”. Hampir lima jam sudah ia tak sadarkan diri. Aku terus saja berdoa dan membisikkan kalimat syahadat disampingnya. Ketiga naka perempuan ibu kos terus saja menangis. Uni yang semenjak tadi berada disampinganya terus saja memanggil- manggil ibu Kos.
“ Ma….ma….bangun’ki ma……..”, ucap Uni sambil menangis terseduh- seduh, lendir dari hidungnya terus saja mengucur. Sesekali aku memberinya tisu dan memegang pundaknnya berusaha untuk membuatnya lebih tenang.
Kak Ani anak kedua ibu kos, mencoba lebih tegar dan menenangkan kedua adik perempuannya, Uni dan juga Andri yang baru berusia 17 tahun. Sedangkan Uni seumuran denganku. Kak Ani telah memiliki dua orang anak lelaki. Danil dan Anis, cucu- cucu kesayangan ibu Kos.
***
Dua tahun yang lalu, tepatnya tgl 24 agustus 2009, aku menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya disebuah rumah yang berdiri tegak diatas rawa yang sudah ditimbun. Namanya Pondok Terapung, tempat yang kuhuni selama dua tahun ini. Didalamnya ada sebuah keluarga yang menurutku penuh dengan warna. Ada Ibu Kos dan juga bapak Kos dan kedua anak perempuannya. Dua anaknya yang lain telah berkeluarga dan memisahkan diri. Satu anaknya berada di Sulawesi Tenggara dan Kak Aniikut suaminya dan menetap di kota Makassar.
bersambung.........
Rabu, 21 September 2011
KETIKA HATI HARUS BICARA
Karena hati harus bicara….
Jika hati mampu berucap, maka ia mampu berkata iya atau tidak. Berkata iya untuk kebenaran dan berkata tidak untuk keburukan ataupun sebaliknya. Hati adalah cerminan wajah. Bila hati ini indah maka indah jualah wajah ini. Ketika hati mulai bicara, maka cobalah untuk berhenti sejenak dan cobalah untuk mendengarkan dengan saksama apa yang dikatakan oleh hatimu, lubuk hatimu. Dengarkanlah baik- baik, apakah ia berkata jujur tau dusta. Saya rasa bagi pemilik hati yang mencintai kebaikan sehingga kebaikan itulah yang melekat dihatinya dan kebenaran yang akan disampaikannya. Tak perlu lagi ragu dalam mengambil keputusan. Karena hati yang bersih akan senantiasa bekata jujur meskipun pahit ketika dikeluarannya melalui mulut.
Karena hati harus bicara….
Yah…hati memang harus bicara, jika ia tak mampu berbicara maka ia telah lumpuh atau bahkan mati. Hati diciptakan Allah untuk manusia hanya ada satu. Sudah menjadi hal yang mutlak, bila manusia harus menjaganya dengan baik- baik dan penuh kehati- hatian. Jika tidak….maka hati akan hancur dan kotor berlumur noda. Akan timbul penyakit hati. Hati akan terserang bintik- bintik hitam yang menjadikan hati itu kelam dan memberikan efek samping berupa penyakit hati, dusta, sombong, hasud, iri, dendam dan lain- lain.
Hati akan mencerminkan siapa si pemilik hati itu. Bila hati itu baik maka yang nampak akan baik pula. Dalam hadist Rasulullah Saw: Dari Nu’man bin Basyir berkata: saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda:
” Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” yaitu hati “. ( Hadis Riwayat Bukhori ).
Karena hati harus memilih….
Hati yang berbicara adalah hati yang telah memilih. Apakah ia berkata berdasarkan nafsu, sesuai kehendaknya saja. Tanpa mempetimbangkan hokum syara terlebih dahulu. Tentu saja hati tak sembarang berkata.hati yang baik adalah hati yang telah dibumbui dengan ilmu melalui penalaran di otak. Otak menterjemahkan apa yang diampaikan oleh sang hati. Bila rasional dan tak melanggar hokum- hokum Alloh, maka patutlah untuk dikeluarkan melalui lisan. Namun,jangan sampai berbeda apa yang disampaikan dengan apa yang dipikiran.
Menjaga HATI agar tetap bersih bukanlah hal yang mudah. Terutama untuk kondisi saat ini. Dimana pemahaman manusia yang terkontaminasi dengan pemahaman yang jauh dari syariat Islam.
Bila Aa Gym, mengatakan ataukah bersenandung dalam lagunya yang berjudul “ JAGALAH HATI” maka sepatutnyalah kita sebagai umat terbaik untuk bersunguh- sungguh dalam mejaga kebersihan hati ini. Bukan hanya karena ucapan ulama atau imbalan pahala yang ditawarkan. Namun, karena dengan hati yang bersih membuatmu lebih baik, karena dirimu yakin bahwa Alloh berpihak kepada sang pemilik hati yang baik dan jauh dari kemaksiatan kepada- Nya.
Karena hati adalah lentera…karena hati adalah cahaya…karena hati mampu berbicara….. dengan hati, kita bisa bercerita dengan Sang Khalik. Dengan hati kita mampu berdoa kepada- Nya, sehingga orang- orang disekitar kita tidak pernah tahu apa yang sedang kita harapkan/ adukan kepada Alloh, dan apa yang diucapkan oleh hatimu hanya engkau dan Alloh yang mengetahuinya….yah…tentu saja….engkaupun mempunyai rahasia khusus dan merasakan ketenangan jiwa.
Sungguh….ketika hati yang berbicara maka tak ada yang dapat menentangnya. Hati yang hidup adalah raga yang penuh dengan semangat…keep spirit. Ia pun mampu merangkai kata-kata indah dan orang pun tak ada yang mengetahuinya. Your secret in your heart…..
Sang pemilik hati…..
Biarlah hatimu berbicara apa adanya…..
Berbicara sesuai dengan syariah Islam…..
Karena bersamanya maka ruh dan jasad ini akan selamat…..
Jagalah hati……
Engkau akan tentram dengan hati yang bersih……
Hatimu akan bersinar seterang cahaya mentari……
Biarkan hatimu menanamkan niat yang tulus…….
Sehingga engkau menjadi lebih baik……
Sang pemilik hati yang senantiasa mentautkannya dengan cinta kepada- Nya
Wahai pemilik hati….
Cintailah apa yang dicintai- Nya dan bencilah apayang dibenci- Nya…..
Maka akan kau temui ruhmu berkumpul bersama orang- orang yang mencintai- Nya…..
Jika hati mampu berucap, maka ia mampu berkata iya atau tidak. Berkata iya untuk kebenaran dan berkata tidak untuk keburukan ataupun sebaliknya. Hati adalah cerminan wajah. Bila hati ini indah maka indah jualah wajah ini. Ketika hati mulai bicara, maka cobalah untuk berhenti sejenak dan cobalah untuk mendengarkan dengan saksama apa yang dikatakan oleh hatimu, lubuk hatimu. Dengarkanlah baik- baik, apakah ia berkata jujur tau dusta. Saya rasa bagi pemilik hati yang mencintai kebaikan sehingga kebaikan itulah yang melekat dihatinya dan kebenaran yang akan disampaikannya. Tak perlu lagi ragu dalam mengambil keputusan. Karena hati yang bersih akan senantiasa bekata jujur meskipun pahit ketika dikeluarannya melalui mulut.
Karena hati harus bicara….
Yah…hati memang harus bicara, jika ia tak mampu berbicara maka ia telah lumpuh atau bahkan mati. Hati diciptakan Allah untuk manusia hanya ada satu. Sudah menjadi hal yang mutlak, bila manusia harus menjaganya dengan baik- baik dan penuh kehati- hatian. Jika tidak….maka hati akan hancur dan kotor berlumur noda. Akan timbul penyakit hati. Hati akan terserang bintik- bintik hitam yang menjadikan hati itu kelam dan memberikan efek samping berupa penyakit hati, dusta, sombong, hasud, iri, dendam dan lain- lain.
Hati akan mencerminkan siapa si pemilik hati itu. Bila hati itu baik maka yang nampak akan baik pula. Dalam hadist Rasulullah Saw: Dari Nu’man bin Basyir berkata: saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda:
” Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” yaitu hati “. ( Hadis Riwayat Bukhori ).
Karena hati harus memilih….
Hati yang berbicara adalah hati yang telah memilih. Apakah ia berkata berdasarkan nafsu, sesuai kehendaknya saja. Tanpa mempetimbangkan hokum syara terlebih dahulu. Tentu saja hati tak sembarang berkata.hati yang baik adalah hati yang telah dibumbui dengan ilmu melalui penalaran di otak. Otak menterjemahkan apa yang diampaikan oleh sang hati. Bila rasional dan tak melanggar hokum- hokum Alloh, maka patutlah untuk dikeluarkan melalui lisan. Namun,jangan sampai berbeda apa yang disampaikan dengan apa yang dipikiran.
Menjaga HATI agar tetap bersih bukanlah hal yang mudah. Terutama untuk kondisi saat ini. Dimana pemahaman manusia yang terkontaminasi dengan pemahaman yang jauh dari syariat Islam.
Bila Aa Gym, mengatakan ataukah bersenandung dalam lagunya yang berjudul “ JAGALAH HATI” maka sepatutnyalah kita sebagai umat terbaik untuk bersunguh- sungguh dalam mejaga kebersihan hati ini. Bukan hanya karena ucapan ulama atau imbalan pahala yang ditawarkan. Namun, karena dengan hati yang bersih membuatmu lebih baik, karena dirimu yakin bahwa Alloh berpihak kepada sang pemilik hati yang baik dan jauh dari kemaksiatan kepada- Nya.
Karena hati adalah lentera…karena hati adalah cahaya…karena hati mampu berbicara….. dengan hati, kita bisa bercerita dengan Sang Khalik. Dengan hati kita mampu berdoa kepada- Nya, sehingga orang- orang disekitar kita tidak pernah tahu apa yang sedang kita harapkan/ adukan kepada Alloh, dan apa yang diucapkan oleh hatimu hanya engkau dan Alloh yang mengetahuinya….yah…tentu saja….engkaupun mempunyai rahasia khusus dan merasakan ketenangan jiwa.
Sungguh….ketika hati yang berbicara maka tak ada yang dapat menentangnya. Hati yang hidup adalah raga yang penuh dengan semangat…keep spirit. Ia pun mampu merangkai kata-kata indah dan orang pun tak ada yang mengetahuinya. Your secret in your heart…..
Sang pemilik hati…..
Biarlah hatimu berbicara apa adanya…..
Berbicara sesuai dengan syariah Islam…..
Karena bersamanya maka ruh dan jasad ini akan selamat…..
Jagalah hati……
Engkau akan tentram dengan hati yang bersih……
Hatimu akan bersinar seterang cahaya mentari……
Biarkan hatimu menanamkan niat yang tulus…….
Sehingga engkau menjadi lebih baik……
Sang pemilik hati yang senantiasa mentautkannya dengan cinta kepada- Nya
Wahai pemilik hati….
Cintailah apa yang dicintai- Nya dan bencilah apayang dibenci- Nya…..
Maka akan kau temui ruhmu berkumpul bersama orang- orang yang mencintai- Nya…..
MAMPUKAH KITA SE- IKHLAS LEBAH?
BISAKAH SE- IKHLAS LEBAH?
Warnanya kuning, dengan garis hitam dibadannya. Ukurannya kecil dengan dua sayap kecil dipunggungnya.
Dialah lebah…..
Lebah yang menghasilkan cairan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lebah senantiasa menghisap sari- sari bunga atau yang biasa kita sebut nektar. Lebah menghisap nectar tanpa merusak bunga yang ia hinggapi.
Lebah memiliki mata yang cukup besar untuk ukurannya yang kecil, ia memiliki kaki, perut, rahang, antena, kepala, sayap dan juga sengatan untuk menghindari musuh namun manusia menggunakan sengat lebah sebagai pengobatan akupuntur yang berkhasiat bagi kesehatan.
Lebah tentunya diciptakan Allah bukan hanya sekedar penciptaan saja. Namun ia memiliki banyak manfaat bagi kehidupan dan berperan dalam siklus kehidupan.
Lebah, ia adalah hewan kecil yang senantiasa bekerja keras. Mengabdi pada sang ratu lebah. Ia tak memikirkan dirinya sendiri, ia adalah hewan yang suka bekerja sama dan pantang menyerah.
Ukurannya kecil, tapi ia hewan yang kuat. Kekuatannya untuk terbang mencari sumber kehidupan tak pantas kita ragukan lagi, lebah terbang dari pohon ke pohon mencari sari- sari bunga. Ia menghisap sari bunga, lantas apakah bunga itu akan mati setelah ada lebah yang menghisap sarinya? Tentu saja tidak. Justru lebah bisa membantu proses penyerbukan bunga. Itulah salah satu keistimewaan lebah. Ia dapat membantu perkawinan dan perkembangbiakan tanaman.
Yang kita ketahui bahwa lebah hanyalah jenis serangga yang kadang dianggap sangat berbahaya karena memiliki sengatan yang sangat menyakitkan, atau bahkan mematikan. Namun,bukan itu maksud diciptakannya lebah, bukan untuk menyakiti, lebah hanya menyengat manakala ia mendapatkan gangguan ataupun serangan dari musuhnya ataupun manusia.
Kita harusnya bersyukur. Bukankah lebah yang memproduksi madu dan menyimpannya dengan baik dalam sarangnya yang berbentuk unik. Bahkan kita pun bisa mengkonsumsi sarang lebah, yang biasa kita sebut dengan royal jelly. Nikmat bukan?
Dan apakah lebah pernah marah dan menuntut ketika madu yang ia kumpulkan dengan susah payah harus diambil oleh manusia? Tidak kan? Bahkan manusia dapat menghasilkan banyak uang dari hasil penjualan madu yang diproduksi oleh sang lebah.
Kita seharusnya bersyukur, kita masih bisa menikmati madu, yang sampai saat ini masih dapat kita jumpai di toko- toko maupun di supermarket.
Mampukah kita se- ikhlas lebah?
Lebah bekerja tanpa pamrih. Ia senantiasa mengabdi pada sang ratu lebah. Setiap satu sarang lebah terdapat satu ratu lebah pula. Dan tentunya ukuran ratu lebah lebih besar dibandingkan para prajurit/ para lebah pekerja.
Lebah yang kita ambil madunya tak pernah balas dendam, ketika madu disarangnya telah habis kita peras dan disaring, maka ia akan membuat sarang baru lagi dan mulai mencari sari- sari bunga lagi untuk mengisi sarangya yang baru. Ia terus mengumpulkan sari bunga hingga sarangnya penuh, terjadi proses dalam perutnya hingga sari- sari/nektar bunga itu berubah menjadi cairan yang cukup kental yang kita sebut madu. Madu yang sampai saat ini masih terjual dengan harga yang relatif tinggi. Tak semua orang dapat menikmatinya. Jadi, beruntunglah orang yang masih bisa menikmati madu yang sangat berkhasiat bagi kesehatan.
Al Qur'an menempatkan secara istimewa lebah madu menjadi sebuah surah yaitu An Nahl (Lebah Madu). Dalam salah satu ayatnya, “ Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah di mudahkan. Kemudian dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir”. (Surah An Nahl ayat 68-69).
Bila lebah telah melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuhan dan tertera abadi dalam kitab suci Al- Quran. Lantas, apakah kita akan kalah patuhnya dengan lebah? Sedangkan kita mempunyai akal yang sehat dan masih memiliki hati. Dan bukankah surga menjadi tempat bagi orang- orang yang tunduk dan patuh kepada sang Khalik, ini janji Allah. Dan apakah kita sebagai manusia masih meragukan keajaiban penciptaan ini, masih percaya dengan tahayyul, mitos- mitos serta cerita- cerita yang bisa merusak aqidah kita?
Tengoklah lebah……
Ia adalah makhluk kecil yang sangat patuh kepada Allah. Ia tak pernah mengeluh dan putus asa. Ia bahkan rela mati demi manusia.
Dan tahukah kita, ketika sengat ekor lebah kita cabut karena dijadikan sebagai pengobatan akupuntur, maka bebrapa saat lebahpun akan mati.
Begitu juga ketika diserang oleh musuhnya, lebah menusukkan sengatan ekornya berkali-kali ke epidermis/ kulit musuhnya sehingga merasa sakit. Namun, apa yang dilakukan lebah ini ternyata malah membuat sengatnya lepas (tertinggal) di kulit seseorang dan menarik alat sengat dan kantung sengat (yang memang menempel pada sengatnya), dan dalam beberapa menit kemudian lebah pun mati.
Sudahkah kita sekuat lebah? Seikhlas lebah? Sepatuh lebah? Padahal, kita adalah mahkluk yang lebih istimewa dibandingkan lebah. Ataukah kita merasa tidak istimewa, sehingga kita hanya melakukan hal- hal yang biasa saja. Makan, minum, tidur, bekerja….. padahal hidup ini adalah beribadah kepadanya. Segala aktivitas yang kita lakukan saat ini hanyalah sebagai wujud penghambaan kita kepada- Nya. Wallahu’ alam bi’ shawab……
Warnanya kuning, dengan garis hitam dibadannya. Ukurannya kecil dengan dua sayap kecil dipunggungnya.
Dialah lebah…..
Lebah yang menghasilkan cairan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lebah senantiasa menghisap sari- sari bunga atau yang biasa kita sebut nektar. Lebah menghisap nectar tanpa merusak bunga yang ia hinggapi.
Lebah memiliki mata yang cukup besar untuk ukurannya yang kecil, ia memiliki kaki, perut, rahang, antena, kepala, sayap dan juga sengatan untuk menghindari musuh namun manusia menggunakan sengat lebah sebagai pengobatan akupuntur yang berkhasiat bagi kesehatan.
Lebah tentunya diciptakan Allah bukan hanya sekedar penciptaan saja. Namun ia memiliki banyak manfaat bagi kehidupan dan berperan dalam siklus kehidupan.
Lebah, ia adalah hewan kecil yang senantiasa bekerja keras. Mengabdi pada sang ratu lebah. Ia tak memikirkan dirinya sendiri, ia adalah hewan yang suka bekerja sama dan pantang menyerah.
Ukurannya kecil, tapi ia hewan yang kuat. Kekuatannya untuk terbang mencari sumber kehidupan tak pantas kita ragukan lagi, lebah terbang dari pohon ke pohon mencari sari- sari bunga. Ia menghisap sari bunga, lantas apakah bunga itu akan mati setelah ada lebah yang menghisap sarinya? Tentu saja tidak. Justru lebah bisa membantu proses penyerbukan bunga. Itulah salah satu keistimewaan lebah. Ia dapat membantu perkawinan dan perkembangbiakan tanaman.
Yang kita ketahui bahwa lebah hanyalah jenis serangga yang kadang dianggap sangat berbahaya karena memiliki sengatan yang sangat menyakitkan, atau bahkan mematikan. Namun,bukan itu maksud diciptakannya lebah, bukan untuk menyakiti, lebah hanya menyengat manakala ia mendapatkan gangguan ataupun serangan dari musuhnya ataupun manusia.
Kita harusnya bersyukur. Bukankah lebah yang memproduksi madu dan menyimpannya dengan baik dalam sarangnya yang berbentuk unik. Bahkan kita pun bisa mengkonsumsi sarang lebah, yang biasa kita sebut dengan royal jelly. Nikmat bukan?
Dan apakah lebah pernah marah dan menuntut ketika madu yang ia kumpulkan dengan susah payah harus diambil oleh manusia? Tidak kan? Bahkan manusia dapat menghasilkan banyak uang dari hasil penjualan madu yang diproduksi oleh sang lebah.
Kita seharusnya bersyukur, kita masih bisa menikmati madu, yang sampai saat ini masih dapat kita jumpai di toko- toko maupun di supermarket.
Mampukah kita se- ikhlas lebah?
Lebah bekerja tanpa pamrih. Ia senantiasa mengabdi pada sang ratu lebah. Setiap satu sarang lebah terdapat satu ratu lebah pula. Dan tentunya ukuran ratu lebah lebih besar dibandingkan para prajurit/ para lebah pekerja.
Lebah yang kita ambil madunya tak pernah balas dendam, ketika madu disarangnya telah habis kita peras dan disaring, maka ia akan membuat sarang baru lagi dan mulai mencari sari- sari bunga lagi untuk mengisi sarangya yang baru. Ia terus mengumpulkan sari bunga hingga sarangnya penuh, terjadi proses dalam perutnya hingga sari- sari/nektar bunga itu berubah menjadi cairan yang cukup kental yang kita sebut madu. Madu yang sampai saat ini masih terjual dengan harga yang relatif tinggi. Tak semua orang dapat menikmatinya. Jadi, beruntunglah orang yang masih bisa menikmati madu yang sangat berkhasiat bagi kesehatan.
Al Qur'an menempatkan secara istimewa lebah madu menjadi sebuah surah yaitu An Nahl (Lebah Madu). Dalam salah satu ayatnya, “ Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah di mudahkan. Kemudian dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir”. (Surah An Nahl ayat 68-69).
Bila lebah telah melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuhan dan tertera abadi dalam kitab suci Al- Quran. Lantas, apakah kita akan kalah patuhnya dengan lebah? Sedangkan kita mempunyai akal yang sehat dan masih memiliki hati. Dan bukankah surga menjadi tempat bagi orang- orang yang tunduk dan patuh kepada sang Khalik, ini janji Allah. Dan apakah kita sebagai manusia masih meragukan keajaiban penciptaan ini, masih percaya dengan tahayyul, mitos- mitos serta cerita- cerita yang bisa merusak aqidah kita?
Tengoklah lebah……
Ia adalah makhluk kecil yang sangat patuh kepada Allah. Ia tak pernah mengeluh dan putus asa. Ia bahkan rela mati demi manusia.
Dan tahukah kita, ketika sengat ekor lebah kita cabut karena dijadikan sebagai pengobatan akupuntur, maka bebrapa saat lebahpun akan mati.
Begitu juga ketika diserang oleh musuhnya, lebah menusukkan sengatan ekornya berkali-kali ke epidermis/ kulit musuhnya sehingga merasa sakit. Namun, apa yang dilakukan lebah ini ternyata malah membuat sengatnya lepas (tertinggal) di kulit seseorang dan menarik alat sengat dan kantung sengat (yang memang menempel pada sengatnya), dan dalam beberapa menit kemudian lebah pun mati.
Sudahkah kita sekuat lebah? Seikhlas lebah? Sepatuh lebah? Padahal, kita adalah mahkluk yang lebih istimewa dibandingkan lebah. Ataukah kita merasa tidak istimewa, sehingga kita hanya melakukan hal- hal yang biasa saja. Makan, minum, tidur, bekerja….. padahal hidup ini adalah beribadah kepadanya. Segala aktivitas yang kita lakukan saat ini hanyalah sebagai wujud penghambaan kita kepada- Nya. Wallahu’ alam bi’ shawab……
Langganan:
Postingan (Atom)